<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828</id><updated>2011-07-30T20:49:42.150-07:00</updated><category term='HUKUM KOLONIAL'/><category term='Hukum Internasional'/><category term='Generasi Muda'/><category term='TIPIKOR'/><category term='RUU tentang kekuasaan kehakiman'/><category term='ARTIKEL HUKUM TATA NEGARA'/><category term='hukum rimba'/><category term='hukum pidana'/><category term='HUKUM PERKAWINAN'/><category term='TNI'/><category term='KRIMINAL'/><category term='Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali'/><category term='Dinamika Demokrasi'/><category term='NASIONAL'/><category term='Hukum Indonesia'/><category term='RUU'/><category term='Rebonding Haram'/><title type='text'>Hukum Indonesia</title><subtitle type='html'>MATA KULIAH HUKUM PIDANA INDONESIA, HUKUM RIMBA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG,HUKUM TATA NEGARA, TINDAK PIDANA KORUPSI,</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-4248961599925444318</id><published>2010-04-14T08:35:00.000-07:00</published><updated>2010-04-14T08:38:10.902-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><title type='text'>Korban Kerusuhan Koja Jadi 130 Orang</title><content type='html'>&lt;div class="font10 c_abu " style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/14/1908172p.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/14/1908172p.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt; JAKARTA,KOMPAS.com &lt;/b&gt;- Korban bentrokan antara warga dan  satpol dalam aksi penertiban makam Mbah Priok di Kompleks Pelabuhan  Tanjung Priok, Jakarta Utara bertambah menjadi 130 orang. Direktur Rumah  Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Togi Asman merinci, jumlah korban  anggota Satpol PP&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 66 orang, warga sipil tercatat 54  orang, dan aparat kepolisian sebanyak 10 orang. "Hingga malam ini total  korban ada 130 orang yang ke Koja," kata Togi, di RSUD Koja, Jakarta,  Rabu (14/4/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima orang di antaranya, terdiri dari warga  dan Satpol PP kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan  Rumah Sakit Tarakan karena berada dalam keadaan kritis. Hingga kini,  masih ada dua korban yang menjalani rawat inap di RSUD Koja karena  kondisinya yang parah. "Dua orang kritis disini, masih rawat inap,"  jelas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mempertegas, tidak ada korban meninggal di RSUD  Koja. Sebelumnya beredar kabar ada dua korban meninggal akibat bentrokan  ini.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-4248961599925444318?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/4248961599925444318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/korban-kerusuhan-koja-jadi-130-orang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4248961599925444318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4248961599925444318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/korban-kerusuhan-koja-jadi-130-orang.html' title='Korban Kerusuhan Koja Jadi 130 Orang'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-1604209554350080934</id><published>2010-04-14T08:31:00.001-07:00</published><updated>2010-04-14T08:31:52.713-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><title type='text'>40 Mobil Satpol PP dan 30 Mobil Polisi Dirusak Massa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — Dalam kerusuhan di Koja sepanjang  Rabu (14/4/2010) ini, sedikitnya ada 70 mobil milik Satpol PP yang  telah  dirusak massa. Bahkan, sebagian dari itu ada yang dibakar di  Jalan TPU Dobo, Koja.  Kini bangkai mobil tersebut dipereteli  onderdilnya untuk dibawa pulang.  “Ayo, &lt;em&gt;ambilin&lt;/em&gt; onderdilnya,  ini kan dibeli pakai uang rakyat,” teriak  seorang massa mengomandoi  massa yang masih beringas di Jalan TPU Dobo,  Koja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 70  mobil yang dirusak dan dibakar itu, 40 unit milik  Satpol PP dan 30 unit  lainnya milik polisi. Tak hanya itu, dua alat berat  jenis ekskavator  dan satu kendaraan&lt;em&gt; water cannon&lt;/em&gt; juga tak luput dari amuk  massa  hingga rusak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun onderdil yang dipereteli massa   itu, antara lain ban, aki, bumper, dan beberapa onderdil lainnya. Bahkan   sejumlah peralatan kerja milik Satpol PP, seperti tameng, helm,  dan  pentungan, turut dijarah massa. “Lumayan buat dijual, ini semua kan   dibeli dari uang rakyat,” kata seorang penjarah yang tak diketahui   identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, ratusan petugas saat ini   terlihat bersiaga di sepanjang Jalan Cilincing Raya guna mengantisipasi   serangan balik dari massa yang masih beringas. “Kita masih siaga di  sini  melihat situasi usai shalat maghrib,” kata Komisaris Polisi  Susatyo, Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-1604209554350080934?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/1604209554350080934/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/40-mobil-satpol-pp-dan-30-mobil-polisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1604209554350080934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1604209554350080934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/40-mobil-satpol-pp-dan-30-mobil-polisi.html' title='40 Mobil Satpol PP dan 30 Mobil Polisi Dirusak Massa'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-3316993374268026484</id><published>2010-04-14T08:22:00.000-07:00</published><updated>2010-04-14T08:27:18.574-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><title type='text'>Dua Jurnalis TV Ikut Jadi Korban Kerusuhan di Koja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="img310"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;JAKARTA, KOMPAS.com —&lt;/b&gt; Selain di RSUD Koja, korban  luka-luka akibat kerusuhan rencana eksekusi gapura makam Mbah Priok juga  dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Pelabuhan, Jakarta Utara. Di antara para  korban yang sempat dirawat tersebut adalah dua orang reporter televisi  swasta, yakni Farrel (22) dari SCTV dan Anton Saputra (29) dari TV One.  Salah satu di antaranya menderita luka tembak peluru karet pada bagian  kepala.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/14/1921374p.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/14/1921374p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Tri Juniarsih, salah seorang petugas jaga Unit Gawat  Darurat (UGD) RS Pelabuhan, membenarkan dua korban yang sempat dirawat  di RS Pelabuhan adalah reporter televisi swasta, yakni masing-masing  berasal dari SCTV dan TV One. “Benar tadi keduanya sempat dirawat, tapi  siang tadi mereka sudah pulang setelah sempat mendapatkan perawatan tim  medis,” ujar Tri Juniarsih, Rabu (14/4/2010).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tri melanjutkan,  kedua reporter tersebut mengalami luka-luka setelah terkena pukulan  benda tumpul serta tembakan peluru hampa. “Korban Farrel terkena peluru  karet pada bagian pelipis mata sehingga harus diperban. Sedangkan Anton  juga mengalami luka pada bagian kepala akibat terkena lemparan botol,”  kata Tri Juniarsih kepada &lt;i&gt;beritajakarta.com&lt;/i&gt;, Rabu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara  itu, korban kerusuhan Koja yang hingga kini masih dirawat di RS  Pelabuhan adalah Rianto Manurung (27), petugas Satpol PP DKI Jakarta.  Korban dilarikan ke RS Pelabuhan sekitar pukul 12.00 karena menderita  luka serius akibat pukulan benda tumpul yang mendarat di pipi serta  hidung korban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Santi, adik korban, mengatakan, Rianto kini tengah  mendapatkan perawatan intensif dan harus mendapatkan jahitan pada  bagian pipinya. “Kakak saya masih belum bisa bicara, kalau dipaksakan  maka darah akan mengucur terus dari bekas jahitannya,” kata Santi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Total  jumlah korban kerusuhan Koja yang dilarikan ke RS Pelabuhan berjumlah  empat orang. Selain Farrel (SCTV), Anton Saputra (TV One), juga ada  Rianto Manurung, dan warga bernama Triono yang mengalami luka di bagian  kepala lantaran terkena lemparan batu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-3316993374268026484?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/3316993374268026484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/dua-jurnalis-tv-ikut-jadi-korban.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3316993374268026484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3316993374268026484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/dua-jurnalis-tv-ikut-jadi-korban.html' title='Dua Jurnalis TV Ikut Jadi Korban Kerusuhan di Koja'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-3844489482847973081</id><published>2010-04-13T10:50:00.001-07:00</published><updated>2010-04-13T10:50:59.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><title type='text'>Ketentuan Kuorum Hak Menyatakan Pendapat Diuji ke MK</title><content type='html'>&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Meski Panitia Khusus Hak  Angket telah menelurkan kesimpulan akhir, namun kisah kasus Bank Century  belum benar-benar tamat di DPR. Saat ini, wacana penggunaan hak  menyatakan pendapat sebagai tindak lanjut hak angket hangat  diperbincangkan di kalangan anggota Dewan. Sebagian anggota DPR bahkan  tengah berupaya “melapangkan” jalan menuju hak menyatakan pendapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Caranya, dengan  mengajukan permohonan uji materil ke &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Mahkamah Konstitusi (MK)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;. Yang disasar adalah  ketentuan mengenai &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;syarat kuorum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;rapat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;paripurna dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; rangka &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;mengajukan hak  menyatakan pendapat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Permohonan telah didaftarkan. Rabu ini &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;(1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;/4)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;, MK akan menggelar  sidang perdana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Pemohon adalah sejumlah  anggota DPR yang terbagi menjadi dua kubu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;dengan dua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;kuasa &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;hukum yang  berbeda. K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ubu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;pertama,  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;terdiri  dari&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; Bambang Soesatyo (FPG), Lily Wahid (F&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;KB), Muhammad  Misbakhun (FPKS) dan Akbar Fa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;is&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;al &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Fraksi Hanura&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Bambang cs menunjuk &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Maqdir Ismail  se&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;laku kuasa  hukum. Kubu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;kedua adalah Desmond Mahesa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Fraksi Partai Gerindra&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;menggandeng  Farhat Abbas sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;kuasa hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Desmond men&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;jelaskan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;pasal yang akan  diuji adalah Pasal 184 ayat (4) UU No&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR,  DPD dan DPRD (UU MD3). Pasal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; tersebut mengatur p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ersetujuan usul  hak menyatakan pendapat ditentukan oleh ¾ kuorum di sidang paripurna. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Syarat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; ini, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;kata Desmond, ti&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;dak sesuai  Pasal 7B ayat (3) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;UUD 1945 yang menyatakan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;usulan pemberhentian presiden dan wakil  presiden &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;harus  memperoleh &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;2/3 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;dukungan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;dari jumlah anggota yang hadir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Ia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;berpendapat jika syarat  itu tidak diubah, maka &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;usulan hak menyatakan pendapat akan sulit di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;realisasikan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Posisi fraksi partai  besar, menurut Desmond, akan sangat menentukan karena syarat yang  digariskan UU MD3 berhubungan dengan jumlah orang. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;“Peluang voting  juga akan sulit tercapai apabila pasal tersebut tidak diubah. Ini  peringatan pemerintah ada yang salah dengan UU MD3. Saya yakin tidak ada  alasan MK untuk menolak pengajuan ini,” katanya di Komplek Parlemen  Jakarta, Selasa (12/4).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Uji materil, kata  Desmond, adalah langkah yang tepat, ketimbang menunggu revisi  undang-undang terkait. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;“U&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ndang-undang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; (MD3) itu dibuat oleh DPR periode lalu, partai  saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;(Hanura,  red.) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;di periode lalu belum ada, jadi sah-sah saja,” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;dia menambahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Sementara itu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;, sejumlah LSM  mend&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;esak &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;DPR &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;agar &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;mengajukan hak  menyatakan pendapat terkait kasus Century. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Dipelopori oleh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; Ray Rangkuti,  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;lembar  dukungan pun mulai diedarkan untuk ditandatangani. Hasilnya, lima  anggota Dewan langsung membubuhkan tanda tangan. Kelima anggota Dewan  itu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;adalah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Maruarar Sirait (FPDIP), Lily Wahid (F&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;KB), Bambang  Soesatyo (FPG), Akbar Fasial (F-Hanura) dan Desmond Mahesa (F-Gerindra).  Rencananya, penggalangan dukungan akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;terus &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;edarkan di kalangan Anggota Dewan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Agenda di Bamus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Rapat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;paripurna&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;sendiri berlangsung  dengan diwarnai &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;hujan interupsi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;terkait masalah pembentukan tim  pengawas yang masuk dalam rekomendasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ansus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Bank &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Century. Anggota DPR&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Ahmad Muzani&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;, misalnya,  mempertanyakan kenapa amanat pembentukan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;tim pengawas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;sebagai bagian dari&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; rekomendasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Pansus&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;belum dijalankan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Padahal, urai  Muzani, hingga memasuki minggu kedua masa persidangan ketiga, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ewan sudah  melaksanakan paripurna sebanyak dua kali. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;“Karena itu  kami mohon pimpinan untuk dapat mengagendakan, karena kita tahu sampai  sekarang upaya untuk melaksanakan rekomendasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ewan belum  maksimal,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="NoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Ketua DPR  Marzuki Alie berjanji akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;segera &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;membahas pe&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;mbentukan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;tim pengawas  pada rapat Badan Musyawarah (Bamus)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; Kamis (15/4). Menurut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; Alie&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;Pimpinan Dewan siap&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;  menindaklanjuti rekomendasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;ansus Century&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;“Yang penting  kita jelaskan kepada masyarakat, tidak ada&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Verdana; font-size: 10pt;"&gt;niat kita untuk menunda,”  pungkasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-3844489482847973081?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/3844489482847973081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/ketentuan-kuorum-hak-menyatakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3844489482847973081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3844489482847973081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/ketentuan-kuorum-hak-menyatakan.html' title='Ketentuan Kuorum Hak Menyatakan Pendapat Diuji ke MK'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-242136172711740597</id><published>2010-04-13T10:47:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T10:47:33.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>Usia Pertanggungjawaban Pidana Anak Minimal 12 Tahun</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Usia anak yang bisa  dimintai pertanggungjawaban pidana akan ditetapkan minimal 12 tahun.  Artinya, anak-anak di bawah usia 12 tahun tidak bisa dimintai  bertanggung jawab secara pidana atas perbuatannya. Batasan usia minimal  itu tertuang dalam draf revisi Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan Anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pemerintah melalui  Direktorat Perlindungan HAM Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia  tengah menyusun revisi Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan  Anak. Dialog dengan para pemangku kepentingan sudah digelar. Salah satu  poin yang memunculkan perdebatan adalah batas usia anak yang boleh  masuk penjara tadi. Undang-Undang tahun 2002 memungkinkan anak berusia 8  tahun ke atas masuk rutan atau lembaga pemasyarakatan (lapas). Dalam  draf revisi, batasan usia itu dinaikkan menjadi 12 tahun. “Anak-anak  yang akan dimasukkan ke rutan dan lapas hanya berlaku pada anak yang  telah berumur 12 tahun tahun,” kata Dirjen Perlindungan HAM, Harkristuti  Harkrisnowo di Jakarta, Kamis&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(08/4) pekan lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Batasan usia anak yang bisa  masuk penjara ini masih menimbulkan perdebatan. &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang menginginkan 14 tahun, ada  pula yang minimal 18 tahun. Pengamat masalah anak Irwanto menilai pada  usia 12 tahun anak-anak bertumbuh secara krusial. Ketua Komisi  Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno meminta Pemerintah  konsisten menggunakan ukuran 18 tahun. Hadi berpendapat anak-anak  seharusnya tidak boleh dimasukkan ke dalam penjara. Undang-Undang No. 23  Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mendefinisikan anak sebagai  seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam  kandungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Harkristuti Harkrisnowo  mencoba meluruskan perdebatan itu. Yang dikutip Hadi adalah batasan usia  maksimum anak. Jika seseorang sudah mencapai 18 tahun maka ia bukan  kategori anak-anak lagi. Sedangkan gagasan Pemerintah dalam revisi  adalah dalam konteks &lt;i&gt;age of minimum criminal responsibility.  &lt;/i&gt;Batasan umur anak, kata Harkristuti, tetap mengacu pada UU  Perlindungan Anak (18 tahun). Usia 12 tahun yang tertera&lt;span&gt;&amp;nbsp;  &lt;/span&gt;di dalam RUU Peradilan Pidana Anak adalah batasan anak bisa  mempertanggungjawabkan tindakan pidana yang dia lakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Usia 12 tahun, jelas Guru  Besar Hukum Pidana Universitas &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; itu, merupakan  titik temu dari ‘tawar menawar’ yang terjadi di dalam tim perumus.  Walaupun, dia mengaku belum puas dengan angka 12 tahun. Resistensi  terkuat datang dari aparat penegak hukum. “Kami diskusi sampai usia 12  tahun itu setengah mati,” ungkapnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Saat ini tercatat tidak  kurang dari 6.308 anak yang menghuni rutan dan penjara di seluruh &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.  Sebagian digabung dengan orang dewasa karena penjara anak tidak selalu  ada di setiap kabupaten/kota. Akibatnya, anak-anak berpotensi menjadi  residivis atau mengulangi perbuatannya. Pertumbuhannya terganggu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Di tengah gagasan  Pemerintah merevisi aturan UU Pengadilan Anak, berbagai upaya telah  dilakukan untuk mencegah penghukuman penjara terhadap anak. Sebab,  sistim hukum pidana mengenal jenis hukuman yang lebih sesuai dan cocok  dengan usia perkembangan anak. Menurut Harkristuti, diversi (pengalihan  hukuman pidana penjara) perlu mendapat prioritas aparat penegak hukum,  khususnya hakim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pada 22 Desember 2009  silam, Mahkamah Agung malah sudah menandatangani nota kesepahaman dengan  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Menteri  Sosial. Nota kesepahaman itu mendorong para pemangku kepentingan peka  ketika menangani anak-anak yang berhadapan dengan hukum. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-242136172711740597?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/242136172711740597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/usia-pertanggungjawaban-pidana-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/242136172711740597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/242136172711740597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/usia-pertanggungjawaban-pidana-anak.html' title='Usia Pertanggungjawaban Pidana Anak Minimal 12 Tahun'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-6328991476886218482</id><published>2010-04-13T06:29:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T06:29:33.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><title type='text'>60 Hakim dan Pegawai MA Dihukum</title><content type='html'>&lt;div class="inner" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="meta"&gt;&lt;span class="submitted"&gt;Submitted by legalitas on Fri, 07/08/2009 -  12:27&lt;/span&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="content clearfix"&gt;Badan Pengawasan Mahkamah Agung (MA) telah memberikan hukuman  disiplin kepada 60 hakim dan pegawai di empat lingkungan peradilan  karena terbukti melanggar. &lt;br /&gt;Mereka terbukti melakukan pelanggaran kode etik, perilaku hakim, dan  aturan kepegawaian dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai  penegak hukum. “Jumlahnya ada 60 orang dalam tiga bulan terakhir.  Sebagian sudah dikirim surat keputusan, sebagian masih berupa  rekomendasi yang sudah disetujui pimpinan dan tinggal dituangkan ke  SK,”ujar Juru Bicara MA Hatta Ali saat dihubungi Seputar Indonesia  kemarin. &lt;br /&gt;Sayangnya, pihak MA tidak bersedia menyebutkan nama-nama dan  kesalahan para hakim. Begitupun kota asal pengadilan itu berada. Seperti  dirilis situs resmi MA, Kamis (6/8/2009), sanksi yang diberikan kepada  hakim tersebut merupakan hasil pengawasan yang dilakukan Badan  Pengawasan MA sejak April hingga Juni 2009. Pemberian sanksi disiplin  merupakan bagian dari pengawasan yang dilakukan MA untuk menindak oknum  pengadilan yang bertindak melanggar peraturan yang ada. &lt;br /&gt;Hukuman itu berupa mutasi,penundaan kenaikan jabatan, sampai dilarang  menangani perkara. Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang  Widoyoko menilai,sanksi kepada 60 hakim dan pegawai MA nakal di berbagai  pengadilan di Indonesia belum menjawab persoalan masyarakat.Proses  sanksi yang dijatuhkan MA tidak pernah jelas menyebut nama hakim,  jabatan,dan kesalahan yang dilakukan.&lt;br /&gt;“ Jangankan nama,daerah tempat pengadilan yang bersangkutan jugatidak  pernah disebutkan.Terus, proses sanksinya jalan atau tidak dan sampai  sejauh mana,” tanya Danang saat dihubungi tadi malam. (m purwadi)&lt;br /&gt;Sumber: Koran Sindo&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-6328991476886218482?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/6328991476886218482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/60-hakim-dan-pegawai-ma-dihukum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/6328991476886218482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/6328991476886218482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/60-hakim-dan-pegawai-ma-dihukum.html' title='60 Hakim dan Pegawai MA Dihukum'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-3862174607300611661</id><published>2010-04-13T06:19:00.000-07:00</published><updated>2010-04-13T06:19:14.090-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPIKOR'/><title type='text'>KPK Miliki 4.000 Lembar Dokumen Century</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JAKARTA--MI:&lt;/span&gt; Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki sekitar empat ribu lembar dokumen  yang terkait dengan kasus Bank Century.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada sekitar empat ribu lembar dokumen yang harus kita pelajari  dengan seksama," kata Juru Bicara KPK, Johan Budi di Jakarta, Selasa  (13/4). &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan menjelaskan, berbagai dokumen itu didapat dari berbagai sumber  dengan menggunakan berbagai cara yang sesuai dengan peraturan yang  berlaku. KPK memperoleh beberapa dokumen dari upaya investigasi dan  pemeriksaan sejumlah pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dokumen yang lain didapat dari hasil kerjasama dengan  berbagai instansi, seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pusat  Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan DPR RI.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Johan, tim penyelidik KPK harus menganalisis data itu satu  persatu dalam proses penyelidikan kasus Bank Century. KPK juga melakukan  gelar perkara dalam rangkaian penyelidikan itu.&amp;nbsp; Gelar perkara itu  dihadiri oleh tim penyelidik dan pimpinan KPK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pekan ini, KPK telah dua kali melakukan gelar perkara, yaitu  pada Senin (12/4) dan dilanjutkan pada Selasa (13/4). Johan belum bisa  menjelaskan secara rinci hasil gelar perkara tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menemukan titik terang dalam pengusutan kasus Bank Century,  kata Johan, KPK memutuskan untuk memanggil mantan pejabat Komite  Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). "Kita putuskan juga untuk meminta  keterangan kembali sejumlah pejabat KSSK," kata Johan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Johan tidak bersedia menyebut nama mantan pejabat  KSSK yang akan diperiksa. Dia juga tidak menjelaskan pejabat itu akan  diperiksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menyelidiki kasus Bank Century, KPK baru memanggil mantan  Sekretaris KSSK, Raden Pardede untuk diperiksa. Sementara mantan Ketua  KSSK, Sri Mulyani dan anggota KSSK, Boediono belum diperiksa.  (Ant/OL-03) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-3862174607300611661?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/3862174607300611661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/kpk-miliki-4000-lembar-dokumen-century.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3862174607300611661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3862174607300611661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/04/kpk-miliki-4000-lembar-dokumen-century.html' title='KPK Miliki 4.000 Lembar Dokumen Century'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-7970753001937946314</id><published>2010-02-08T20:24:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:24:43.243-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rebonding Haram'/><title type='text'>Menteri: Rebonding Haram, Keputusan MUI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda  Amalia Sari Gumelar, menyerahkan sepenuhnya keputusan dari Forum  Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur bahwa meluruskan rambut (&lt;i&gt;rebonding&lt;/i&gt;),  foto pra-nikah, dan wanita menjadi tukang ojek adalah haram, ke Majelis  Ulama Indonesia (MUI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami serahkan sepenuhnya tindak lanjut keputusan dari Forum Musyawarah  Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur ke MUI dan Kementerian Agama," kata  Linda, usai melakukan rapat dengan Aliansi Masyarakat Sipil untuk  Kesetaraan dan Demokrasi, di Jakarta, Selasa (19/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda menjelaskan, pihaknya yakin MUI dan Kementerian Agama dapat  menindaklanjuti keputusan dari Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri  se-Jawa Timur dengan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Linda juga mengingatkan semua pihak, pada saat ini, masih banyak  permasalahan perempuan yang harus menjadi prioritas utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, persoalan &lt;i&gt;rebonding&lt;/i&gt;, foto pra-nikah, dan wanita  menjadi tukang ojek, bukan merupakan permasalahan yang harus dijadikan  prioritas utama oleh semua pihak.  "Masih banyak permasalahan perempuan  yang harus menjadi prioritas semua pihak dan dicarikan jalan keluarnya,"  serunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diantaranya, soal kesetaraan gender, perdagangan orang yang sebagian  besar menimpa perempuan dan anak, kekerasan terhadap perempuan, dan lain  sebagainya," tambah Linda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jawa Timur,  baru-baru ini menyampaikan putusan haram tentang &lt;i&gt;rebonding&lt;/i&gt;, foto  pra-nikah, dan wanita yang berprofesi sebagai tukang ojek, pada  pertemuan yang dihadiri oleh 258 peserta dari 46 pondok pesantren  se-Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, MUI menegaskan, hukum meluruskan rambut sangat terkait  dengan konteksnya namun hukum asalnya mubah dalam arti dibolehkan. "Jika  tujuan dan dampaknya negatif maka hukumnya haram. Sebaliknya, jika  tujuan dan dampaknya positif maka dibolehkan, bahkan dianjurkan," kata  Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni`am Sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, &lt;i&gt;rebonding&lt;/i&gt; sebagai sebuah cara untuk berhias diri,  hukum asalnya dibolehkan sepanjang tidak menyebabkan bahaya, baik secara  fisik, psikis, maupun sosial.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-7970753001937946314?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/7970753001937946314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/menteri-rebonding-haram-keputusan-mui.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/7970753001937946314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/7970753001937946314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/menteri-rebonding-haram-keputusan-mui.html' title='Menteri: Rebonding Haram, Keputusan MUI'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-8154697420107621409</id><published>2010-02-08T20:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:19:24.176-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><title type='text'>Sidang Uji Materi UU Penistaan Agama Digelar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Bookman Old Style,Georgia,Times New Roman,Times,serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;KabarIndonesia&lt;/em&gt; - Kamis  (04/02), Mahkamah Konstitusi mulai menggelar sidang pengujian Undang  Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan  Agama. Pemohon dan pemerintah berbeda posisi.&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji  materi terhadap Undang Undang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama ini  diajukan oleh sejumlah individu&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;LSM hukum dan HAM&amp;nbsp;antara lain  Imparsial, Elsham, Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia PBHI dan&amp;nbsp;Yayasan  Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI. Mereka meminta pencabutan pasal  dalam undang-undang tersebut, yang melarang adanya tafsir keagamaan  berbeda karena&amp;nbsp;bertentangan dengan&amp;nbsp;prinsip HAM serta keragaman&amp;nbsp;dan  toleransi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dijelaskan kuasa hukum pemohon Uli Parulian  Sihombing: “Undang-undang ini melanggar konstitusi khususnya pasal 1  ayat 3 tentang negara hukum. Di dalam negara hukum itu kan ada  perlindungan HAM. Nah di dalam UU 1 PNPS 65 itu ada larangan penafsiran  dan kegiatan-kegiatan menyimpang dalam pokok-pokok agama itu intinya."  Para pemohon juga meyakini, pasal inilah&amp;nbsp;yang kemudian menjadi dasar dan  memicu praktik kekerasan terhadap sejumlah kelompok atau penganut  aliran yang dinilai&amp;nbsp;bertentangan dengan kelompok agama utama, seperti  kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang marak terjadi setelah era  reformasi.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Pemerintah  Menentang Usulan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alasan serupa&amp;nbsp;juga dikemukakan  pemerintah.&amp;nbsp;Bedanya,&amp;nbsp; pemerintah justru menganggap pencabutan  undang-undang ini&amp;nbsp;malah akan merusak harmoni dan memicu konflik&amp;nbsp;antar  sesama kelompok agama.&amp;nbsp; “Permohonan ini juga dikhawatirkan akan  menimbulkan gejolak dan konflik horizontal antar masyarakat. Karena bisa  kita bayangkan, bagaimana&amp;nbsp;suatu agama dimasuki oleh prinsip-prinsip  lain yang memakai nama agama itu sendiri tetapi&amp;nbsp;sistem dan ajarannya  justru bertolak belakang dengan ajaran itu. Di sinilah  persolan-persoalan prinsip.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Akan terjadi kekacauan di dalam kehidupan  di masyarakat. Sehingga orang akan main hakim sendiri, padahal  prinsip-prinsip agama tidak bisa ditawar sedikitpun oleh siapapun,”  demikian dinyatakan Menteri Hkum dan HAM Patrialis Akbar.&amp;nbsp; Dukungan  untuk menolak pencabutan pasal itu, juga dinyatakan Menteri Agama  Suryadharma Ali. Ia menunjuk kasus penyerangan terhadap para pendukung  Ahmadiyah dalam pawai AKKBB di silang Monas tahun 2009 lalu.&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;LSM Memandang Kecemasan Pemerintah  Berlebihan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun salah satu pemohon uji materi,  Choirul Anam, memandang kekhawatiran pemerintah itu sangat berlebihan.  Ia menganggap kekerasan itu&amp;nbsp;bisa dicegah jika pemerintah bersikap adil  melindungi kelompok minoritas dan&amp;nbsp;tegas dalam menegakan hukum. Terlebih  aturan mengenai hal itu telah diatur dalam KUHP.&amp;nbsp; Uji materi atas Undang  Undang ini&amp;nbsp;menjadi perhatian masyarakat,&amp;nbsp; karena sejumlah pengamat  dijadwalkan akan&amp;nbsp;memberikan keterangan sebagai saksi ahli. Sidang ini  juga dipastikan akan diwarnai aksi unjuk rasa seperti sidang pertama  Kamis (04/02), yang digelar di tengah demonstrasi massa Front Pembela  Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-8154697420107621409?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/8154697420107621409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/sidang-uji-materi-uu-penistaan-agama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/8154697420107621409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/8154697420107621409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/sidang-uji-materi-uu-penistaan-agama.html' title='Sidang Uji Materi UU Penistaan Agama Digelar'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-824725521198964522</id><published>2010-02-08T20:15:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:16:39.849-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><title type='text'>DPRD Mamuju Ancam Jemput Paksa SKPD</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mamuju (ANTARA News) - DPRD Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat mengancam  akan menjemput paksa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Pemerintah  Kabupaten Mamuju jika masih tidak menghadiri pembahasan APBD 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami akan menjemput paksa SKPD jika masih mangkir dalam pembahasan  APBD Kabupaten Mamuju tahun 2010, karena jika tidak dilakukan maka APBD  tahun 2010 akan semakin terlambat ditetapkan," kata Ketua Badan Anggaran  DPRD Mamuju, Lalu Syamsul Rijal, di Mamuju, Senin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, jika sampai tiga kali SKPD di Mamuju tidak menghadiri  pembahasan APBD tahun 2010 maka DPRD Mamuju akan meminta pihak berwajib  untuk mendatangkan SKPD Mamuju tersebut untuk membahas APBD Mamuju tahun  2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini harus dilakukan agar pembahasan APBD tidak semakin molor  ditetapkan, sekaligus memberi pelajaran kepada SKPD agar mau peduli  dengan pembahasan ini, jika APBD terlambat disahkan maka masyarakat akan  menjadi korban." katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku kesal karena pada hari ini tidak satupun SKPD Pemkab Mamuju,  kecuali Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Manakarra Mamuju yang  datang ke DPRD Mamuju untuk melakukan pembahasan APBD tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejumlah Kepala Dinas SKPD yang ada dilingkup Pemkab Mamuju sedang  melakukan perjalanan keluar daerah, itu artinya SKPD lebih mementingkan  masalah lain dari pada mempercepat pembahasan APBD 2010 yang terlambat  disahkan ini," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, tindakan SKPD yang tidak mengikuti pembahasan APBD Mamuju  tahun 2010 merupakan pelecehan terhadap perintah Bupati Mamuju Drs  Suhardi Duka MM yang sebelumnya telah meminta kepada SKPD Mamuju tidak  meninggalkan tempat sebelum APBD Mamuju disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tindakan SKPD yang memilih melakukan perjalanan keluar daerah dari  pada membahas APBD tahun 2010, merupakan pelecehan terhadap perintah  Bupati Mamuju karena sebelumnya Bupati telah menegaskan untuk melarang  pejabat SKPD meninggalkan tempat sebelum APBD Mamuju disahkan," katanya.  (MFH/K004)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-824725521198964522?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/824725521198964522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/dprd-mamuju-ancam-jemput-paksa-skpd.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/824725521198964522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/824725521198964522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/dprd-mamuju-ancam-jemput-paksa-skpd.html' title='DPRD Mamuju Ancam Jemput Paksa SKPD'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-1955079442436955543</id><published>2010-02-08T20:13:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:13:42.803-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KRIMINAL'/><title type='text'>Delapan Lembaga Antikorupsi Desak Direktur KPK Diperiksa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta (ANTARA News) - Delapan lembaga antikorupsi dalam gerakan Cinta  Indonesia Cinta Antikorupsi (CICAK) mendesak Komisi Pemberantasan  Korupsi (KPK) segera memeriksa Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono  karena diduga melanggar kode etik pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mendesak agar  Feri Wibisono segera diperiksa. Jika terbukti bersalah, dia harus  dikembalikan ke Kejaksaan Agung," kata Peneliti Hukum Indonesia  Corruption Watch (ICW), Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri  dan sejumlah aktivis lembaga antikorupsi lain datang ke KPK untuk  melaporkan Feri Wibisono ke bagian Pengawasan Internal KPK yang adalah  bagian KPK yang bertugas mengusut dan merekomendasikan hukuman bagi  pegawai atau pimpinan KPK yang melanggar kode etik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LSM  antikorupsi yang ikut melapor adalah Komite Penyelidikan dan  Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN), Pusat Studi Hukum  dan Kebijakan (PSHK), Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  Indonesia Legal Resource Center (ILRC), Transparency International  Indonesia (TII), Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia Fakultas Hukum  Universitas Indonesia, dan Pusat Kajian Anti Korupsi Fakultas Hukum  Universitas Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri Diansyah mengatakan, Feri diduga  konflik kepentingan dengan memberikan fasilitas kepada mantan Jaksa  Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto yang sedang menjalani pemeriksaan di  KPK untuk kasus dugaan percobaan penyuapan dan menghalangi penyidikan  kasus korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Febri, pada 4 Februari 2010, sejumlah  aktivis antikorupsi yang sedang melaporkan sejumlah dugaan tindak pidana  korupsi kehutanan memergoki Wisnu Subroto dan Feri Wibisono berada satu  lift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menuju lantai dasar gedung KPK. Berdasar  keterangan sejumlah pihak, Wisnu keluar menggunakan pintu khusus di  gedung KPK dan diantar oleh Feri Wibisono yang juga mantan jaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu  khusus yang berada di lantai dasar gedung KPK biasanya hanya digunakan  oleh pegawai dan pimpinan KPK, sedangkan semua saksi atau tersangka yang  diperiksa selalu melewati pintu depan, tempat para wartawan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisnu  adalah saksi yang diperiksa oleh KPK untuk perkara percobaan penyuapan  dan menghalangi penyidikan kasus korupsi yang menjerat pengusaha Anggodo  Widjojo sebagai tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Febri, tindakan Feri patut  diduga sebagai bentuk pelanggaran Peraturan KPK No 05 P.KPK Tahun 2006  tentang Kode Etik Pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan itu melarang setiap pegawai KPK  untuk berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan terdakwa,&lt;br /&gt;tersangka,  dan calon tersangka atau keluarganya atau pihak lain yang terkait  dengan kasusn yang sedang diproses Komisi Pemberantasan Korupsi, kecuali  pegawai yang melaksanakan tugas karena perintah jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian  lain aturan itu melarang pegawai KPK untuk melakukan kegiatan lainnya  dengan pihak-pihak yang secara langsung dan tidak langsung yang patut  diduga menimbulkan benturan kepentingan dalam menjalankan tugas,  kewenangan, dan posisi sebagai pegawai komisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu,  Sekjen KP2KKN, Eko Harianto menyatakan, tindakan Feri adalah bentuk  loyalitas ganda yang melanda sejumlah pegawai KPK yang berasal dari  kejaksaan dan kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feri Wibisono yang pernah berprofesi  sebagai jaksa patut diduga masih loyal kepada sejumlah pejabat  kejaksaan, termasuk Wisnu Subroto, padahal sebagai pegawai KPK dia harus  mengabdi sepenuhnya di lembaga pemberantas korupsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal  serupa juga bisa terjadi pada penyidik KPK yang berasal dari  kepolisian," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko berharap di masa akan datang KPK&amp;nbsp;  merekrut penyidik independen di luar kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan para  aktivis lembaga antikorupsi itu diterima oleh Direktur Pengawasan  Internal, Chesna F. Anwar dan sejumlah pejabat di bagian Pengawasan  Internal dan Pengaduan Masyarakat (PIPM) KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Wakil  Ketua KPK, Chandra M. Hamzah menegaskan akan memeriksa Feri Wibisono  terkait kasus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami akan mengklarifikasi kepada pihak-pihak  yang diduga terkait," kata Chandra Hamzah di Jakarta (5/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chandra  menegaskan, KPK akan melakukan pemeriksaan internal terkait kasus itu.  Pada dasarnya dia sepakat bahwa semua orang harus diperlakukan sama di  depan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Izinkan kami melakukan klarifikasi secara  internal," katanya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-1955079442436955543?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/1955079442436955543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/delapan-lembaga-antikorupsi-desak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1955079442436955543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1955079442436955543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/delapan-lembaga-antikorupsi-desak.html' title='Delapan Lembaga Antikorupsi Desak Direktur KPK Diperiksa'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-3886628056352680583</id><published>2010-02-08T20:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:08:53.743-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NASIONAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TNI'/><title type='text'>Presiden Minta TNI Sejahterakan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;a href="http://beritasore.com/news/wp-content/uploads/2010/02/SBY070210.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-48112" height="300" src="http://beritasore.com/news/wp-content/uploads/2010/02/SBY070210.jpg" width="473" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;MENINJAU LATIHAN MARINIR&lt;/strong&gt; : Presiden Susilo Bambang  Yudhoyono (kiri) didampingi Dankormar Mayjen TNI (Mar) M.Alfan Baharudin  saat melakukan peninjauan latihan pemantapan terpadu Korps Marinir  tahun 2010 di Pantai Caligi, Lampung, Minggu (7/2). ( FOTO  ANTARA/Rumgapres/ama/10 )&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesawaran Lampung ( Berita ) : &amp;nbsp;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  mengharapkan kehadiran pasukan TNI di sejumlah daerah bisa membantu  peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-48111"&gt;&lt;/span&gt;“Di wilayah ini sudah dibangun satuan  Marinir. Saya harap bisa bekerja sama dengan baik untuk meningkatkan  kesejahteraan masyarakat,” kata Presiden saat meninjau kegiatan Bakti  Sosial Korps Pasukan Marinir di Pantai Klara Kabupaten Pesawaran  Lampung, Minggu [07/02].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bakti sosial itu diberikan pemeriksaan kesehatan gratis dengan  membuka rumah sakit berjalan lengkap dengan ruang operasi pasien. “Saya  harapkan dengan bakti sosial ini bisa menjadi hubungan persahabatan yang  baik dengan warga. Jadi harap dimanfaatkan dengan baik, yang sehat biar  tetap sehat dan yang sakit menjadi sembuh,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Presiden yang mengenakan pakaian hijau TNI di pantai itu juga  menyaksikan demonstrasi Rubber Duck Operation yang dilakukan pasukan  Marinir. Sebelumnya, usai menyaksikan latihan tempur Pasukan Marinir di  Pantai Caligi, Presiden meninjau Markas Komando Batalyon Infanteri-9  Marinir Beruang Hitam dan meninjau pameran produk Bio-Marine serta  melakukan penanaman pohon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pameran produk Bio-Marine merupakan kerja sama Marinir dengan Artha  Graha Grup, perusahaan yang dimilki pengusaha Tomi Winata yang juga  hadir di lokasi itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadir dalam acara ini sejumlah menteri dan pimpinan TNI, seperti  Menhan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, KSAL  Laksamana Madya Agus Suhartono, KSAU Marsekal Madya Imam Sufaat, dan  KSAD Letjen George Toisutta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Hadir juga Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta  Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi,Menhut Zulkifli Hassan, Menteri Kelautan  dan Perikanan Fadel Muhammad, Meneg Lingkungan Hidup Muhammad Hatta,  Wakil Menhan Sjafrie Sjamsudin dan Wakil Menhub Bambang Susantono.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-3886628056352680583?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/3886628056352680583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/presiden-minta-tni-sejahterakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3886628056352680583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3886628056352680583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/presiden-minta-tni-sejahterakan.html' title='Presiden Minta TNI Sejahterakan Masyarakat'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-5282781820420212476</id><published>2010-02-08T20:03:00.001-08:00</published><updated>2010-02-08T20:03:54.261-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KRIMINAL'/><title type='text'>Centeng PT Lanhotma Aniaya 3 Wanita Pencuri 5 Kg Berondolan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ASAHAN (Berita): Oknum centeng PT Lanhotma Pardamaran berinisial RP,  26, diduga melakukan penganiayaan terhadap tiga wanita pencuri  berondolan, yakni Jum, 30, Pon, 25, dan Wul, 19, penduduk Dusun IX Desa  Pulau Rakyat Tua, Kec. Pulau Rakyat, Asahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-48041"&gt;&lt;/span&gt;Setelah dianiaya dengan pukulan kayu  pelepah sawit ketiga tersangka diadukan ke Polsek Pulau Raja. Namun,  akibat tindakan dari main hakim sendiri ketiga ibu rumah tangga yang  mengalami babak belur di bagian betis kaki itu mengadukan oknum centeng  tersebut di Polsek yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal itu dibenarkan Jum, Pon dan Wul yang ditemui Berita di tempat  tinggalnya. Menurut pengakuan ketiga tersangka, ketika itu mereka sedang  mengambil berondolan kering di areal kebun PT Lanhotma Pardamaran  (Dusun X) Desa Pulau Rakyat Tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak beberapa lama kemudian datang RP bersama 2 orang centeng  lainnya yang langsung memanggil ketiga ibu rumah tangga tersebut.  Setelahmendekat Rp langsung memukuli betis ketiga wanita tersebut dengan  kayu pelepah sawit hingga lembam-lembam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut tersangka, mereka sudah minta ampun dengan bersujud dihadapan  oknum centeng tersebut, tetapi RP tetap melakukan pemukulan dengan kayu  pelepah sawit bertubi-tubi. Bahkan oknum centeng yang tidak manusiawi  itu sempat mengutarakan kata-kata lantang yang membuat ketiga tersangka  dicekam ketakutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sukur kalian tidak kami bunuh, dan untung saja kami tidak bawa  parang, kalau bawa parang kucincang kalian”, kata RP yang ditirukan Jum  (ibu 2 anak), Pon (ibu 2 anak) dan Wul (ibu 1 anak).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu Kapolsek Pulau Raja AKP Muridan yang dikonfirmasi  Berita di ruang kerjanya telah menerima pengaduan dari centeng PT  Lanhotma kasus pencurian berondolan yang dilakukan 3 ibu rumah tangga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kapolsek mengatakan, ketiga tersangka pencuri berondolan yang  diperkirakan seberat 5 Kg itu tidak dilakukan penahanan, karena dianggap  tidak melarikan diri dan dijamin oleh pihak keluarganya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sebaliknya juga Polsek telah menerima pengaduan korban penganiayaan  ketiga ibu rumah tangga tersebut yang dilakukan RP. Namun Kapolsek  mengatakan pihaknya belum melakukan pemeriksaan terhadap oknum centeng  PT Lanhotma tersebut yang bertindak main hakim sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-5282781820420212476?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/5282781820420212476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/centeng-pt-lanhotma-aniaya-3-wanita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/5282781820420212476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/5282781820420212476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/centeng-pt-lanhotma-aniaya-3-wanita.html' title='Centeng PT Lanhotma Aniaya 3 Wanita Pencuri 5 Kg Berondolan'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-1124769169510318950</id><published>2010-02-08T20:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:01:10.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Generasi Muda'/><title type='text'>Narkoba Ancaman Serius Bagi Generasi Muda</title><content type='html'>&lt;a href="http://beritasore.com/news/wp-content/uploads/2010/01/Negara300110.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-47760" height="300" src="http://beritasore.com/news/wp-content/uploads/2010/01/Negara300110.jpg" width="494" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;BEBAS NARKOBA&lt;/strong&gt; : Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono  (kanan) melakukan dilaog pada acara Peluncuran Aksi Peduli Anak Bangsa  Bebas Narkoba di Central Park Podomoro City Jakarta, Sabtu (30/1). (  FOTO ANTARA/Rumga Pres-Rusman/Koz/mes/10. )&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta ( Berita ) : &amp;nbsp;Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono mengingatkan  generasi muda Indonesia akan ancaman bahaya narkoba dalam kehidupan  sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-47759"&gt;&lt;/span&gt;“Indonesia menghadapi ancaman narkoba  yang cukup serius dewasa ini karena Indonesia bukan lagi sebagai  konsumen narkoba, melainkan juga sebagai produsen,” kata Ibu Ani dalam  peluncuran Program Aksi Peduli Anak Bangsa Bebas Narkoba di sebuah mal  di Jakarta, Sabtu [30/01].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ini dibuktikan dengan ditemukannya ‘home industry’ ekstasi dan  sabu-sabu di beberapa tempat di Indonesia,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Ibu Ani, maraknya penggunaan narkotika oleh remaja merupakan  pertanda buruk bagi eksistensi bangsa di kemudian hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data dari Mabes Polri, kata Ibu Ani, menunjukkan jika jumlah kasus  narkoba yang ditangani cenderung naik setiap tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, sekalipun hampir tidak ada kelompok masyarakat yang terbebas  dari narkoba tetapi menurut BNN kelompok remaja adalah kelompok yang  paling banyak menyalahgunakan narkoba. “Jumlahnya lebih dari 14 ribu  orang atau 19 persen dari keseluruhan pengguna,” ujarnya.Padahal, lanjut  Ibu Ani, narkoba memberikan dampak negatif terhadap produktifitas  remaja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Anak-anak menjadi pemalas, tidak peduli dengan sesuatu yang terjadi  di sekitarnya, mudah berbohong, mudah melakukan kejahatan atau tindak  kriminalitas. Yang paling membahayakan adalah kualitas kesehatan menjadi  turun, mudah terserang penyakit seperti hepatitis dan HIV/AIDS,”  jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, Ibu Negara mengajak agar generasi muda Indonesia  dapat mengatakan tidak untuk narkoba.”Hari ini saya sangat gembira  mendengar langsung pelajar, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya yang  menyatakan akan menjauhkan diri dan membebaskan dirinya dari bahaya  narkoba. Ini berarti tidak ada tempat untuk narkoba,” kata Ibu Ani saat  menyaksikan komitmen perwakilan generasi muda untuk menghindari  narkoba.Ia juga mengimbau agar generasi muda mengenali narkoba bukan  untuk dicoba namun untuk menghindari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Banyak hal sebenarnya yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi  penyalahgunaan narkoba diantaranya adalah dengan memasukkan pengetahuan  tentang narkoba dalam kurikulum SD. Kita berharap siswa dapat mengenali  dan memahami apa itu narkoba sejak dini,” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan itu Ibu Negara juga menyerahkan secara simbolis 15  kios kepada mantan pengguna dan pengedar narkoba. &amp;nbsp;Kios sembako berwarna  kuning dengan tulisan “Tiada Tempat untuk Narkoba” dan “Aksi Peduli  Anak Bangsa Bebas Narkoba” itu difasilitasi oleh Alfamart. &amp;nbsp;Para  penerima mendapat hak menempati sewa selama dua tahun dan hibah modal  awal Rp1 juta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah seorang penerima adalah Sujatmiko, kakek tiga cucu yang dulu  berjualan narkoba di Kampung Boncos, Jakarta Barat, yang mengaku tidak  ingin lagi berjualan narkoba.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Turut hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, Menteri Pemuda dan  Olahraga Andi Mallarangeng serta Kapolri Jenderal Pol.Bambang Hendarso  Danuri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-1124769169510318950?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/1124769169510318950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/narkoba-ancaman-serius-bagi-generasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1124769169510318950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1124769169510318950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/narkoba-ancaman-serius-bagi-generasi.html' title='Narkoba Ancaman Serius Bagi Generasi Muda'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-2653830540112206285</id><published>2010-02-08T19:57:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T19:57:12.017-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dinamika Demokrasi'/><title type='text'>Presiden Minta Polri Tak Cemas Hadapi Dinamika Demokrasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://beritasore.com/news/wp-content/uploads/2010/02/Polri.jpg"&gt;&lt;img alt="" class="aligncenter size-full wp-image-48151" height="300" src="http://beritasore.com/news/wp-content/uploads/2010/02/Polri.jpg" width="459" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;RAPIM POLRI&lt;/strong&gt;. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  berbincang sejenak dengan Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri  (kanan) disela-sela acara pembukaan Rapat Pimpinan Polri tahun 2010 di  Mabes Polri, Jakarta, Senin (8/2). Rapim Polri tahun ini mengambil tema  “Membangun Kemitraan dengan Memantapkan Kepercayaan Masyarakat menuju  Pelayanan Prima guna mendukung RPJMN 2010-2014″. ( FOTO ANTARA/Widodo S.  Jusuf/Koz/mes/10. )&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta ( Berita ) : &amp;nbsp;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengimbau  jajaran kepolisian untuk tidak khawatir menghadapi dinamika demokrasi  yang tengah berkembang di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-48150"&gt;&lt;/span&gt;Dalam pidatonya pada pembukaan Rapat  Pimpinan Polri 2010 di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin [08/02] ,  Presiden meminta Polri untuk tetap pada perannya mengayomi dan  melindungi masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Menghadapi ini semua, solusinya Polisi dengan segala jajarannya  wajib mengayomi dan melindungi masyarakat. Dalam konteks seperti ini  kadang-kadang mengalir pula ke ranah keamanan dan ketertiban publik.  Menghadapi ini semua kita tak perlu gamang, cemas, khawatir. Tidak perlu  mengalami disorientasi,” tuturnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal terpenting dalam masa demokrasi yang sedang memekar di Indonesia,  menurut Kepala Negara, adalah menjaga harmoni atau keseimbangan yang  baik demi pemangunan demokrasi yang konstruktif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Yang penting kepatuhan pada pranata dan aturan. Inilah yang kita  dorong dan tingkatkan. Dengan demikian, akan ada suatu harmoni,  keseimbangan yang baik, konstruktif positif,” ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Presiden menginginkan dalam lima tahun mendatang demokrasi Indonesia  menjadi matang. Karena itu, lanjut dia, demokrasi dijadikan salah satu  pilar dalam rencana pembangunan nasional selama lima tahun ke depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pidatonya, Kepala Negara menguraikan dinamika demokrasi di  Indonesia yang masih mencari keseimbangan dalam masa transisi setelah  reformasi 12 tahun lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebebasan yang didambakan, menurut dia, masih harus diseimbangkan  dengan kepatuhan pada pranata dan aturan hukum yang berlaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Perwira Polisi Diminta Jaga Etika&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perwira Kepolisian Republik Indonesia (Polri) diminta untuk menjaga  norma, etika, dan perilaku untuk menunjukkan kualitas profesionalisme  mereka. Permintaan tersebut disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang  Yudhoyono dalam sambutannya ketika meresmikan pembukaan Rapat Pimpinan  Polri 2010 di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perwira Polri, diminta oleh Presiden, agar menjadi contoh bagi  bawahan mereka dalam menjaga perilaku dan menegakkan etika profesi.  “Sebagai kaum profesional ,saudara terutama kaum perwiranya itu harus  menjaga norma, etika, dan perilaku. Tunjukkan sebagai sosok yang  profesional,” ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat, lanjut Kepala Negara, tentu akan menggunjingkan  organisasi Polri apabila perwiranya melakukan perbuatan tidak patut dan  tidak sesuai dengan kode etik kepolisian. Sedangkan para bawahan, kata  Presiden, tentu akan bingung apabila tidak mendapat contoh yang  semestinya dari jajaran perwira polisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Terima kasih&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan penghargaan dan terima  kasihnya kepada lembaga Polri yang menurut dia seringkali diabaikan dan  dilupakan jasa-jasanya oleh masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal, Presiden menilai, Polisi amat berjasa membongkar kasus-kasus  narkotika dan terorisme yang seringkali rumit dan memakan waktu demi  kehidupan masyarakat yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Banyak lagi jasa polisi yang kita harus beri hormat dengan tulus.  Sebagai organisasi tentu ada lemah dan kekurangan, dan itu harus  diperbaiki. Tapi jangan kita murah hati untuk mengucapkan terima kasih  dan penghargaan kepada keluarga besar Polri atas pelaksanaan tugasnya  selama ini,” tuturnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepada Polri, Presiden menginstruksikan agar terus melakukan  konsolidasi, reformasi, serta peningkatan kinerja di seluruh jajaran di  daerah Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia juga meminta agar Polri terus meningkatkan tugasnya menjaga  stabilitas sambil terus -menerus memperbaiki pelayanan publik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Presiden menginginkan Polri tidak enggan mengaplikasikan layanan  “jemput bola” dengan pola pelayanan bergerak yang menghampiri masyarakat  yang membutuhkan. Kepala Negara juga berharap Polri dapat menghadapi  segala kritik dari masyarakat tanpa emosional, tetapi secara jernih dan  rasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kritik itu, lanjut dia, justru harus dijadikan bahan evaluasi dan  perbaikan apabila Polri memang menemukan kelemahan dalam lembaganya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rapim Polri 2010, menurut Kapolri Jend Pol Bambang Hendarso Danuri,  dilakukan untuk menyusun program strategis Polri yang akan diselaraskan  dengan rencana pembangunan nasional jangka menengah 2010-2014.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Rapim Polri yang dihadiri oleh seluruh jajaran kapolda, perwira  tinggi, dan perwira menengah, juga dilaksanakan untuk mengevaluasi  pelaksanaan program 100 hari . Rapat tersebut, menurut Kapolri, juga  dilakukan sebagai media introspeksi diri terhadap berbagai kritik dan  fenomena yang terjadi di masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-2653830540112206285?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/2653830540112206285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/presiden-minta-polri-tak-cemas-hadapi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/2653830540112206285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/2653830540112206285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/presiden-minta-polri-tak-cemas-hadapi.html' title='Presiden Minta Polri Tak Cemas Hadapi Dinamika Demokrasi'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-5934703480282467198</id><published>2010-02-08T19:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T19:54:36.682-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Internasional'/><title type='text'>Perusahaan Malaysia Diduga Lecehkan Hukum Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banjarmasin ( Berita ) :  &amp;nbsp;Perusahaan kelapa sawit negara tetangga  Malaysia, Kumpulan Guthrie  Berhad (sekarang bernama Sime Darby) diduga  kuat melecehkan hukum  Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasalnya perusahaan tersebut culas untuk  urusan  bisnis dengan pengusaha Indonesia dan tidak melaksanakan  perintah  pengadilan yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap, ungkap  kuasa hukum  PT. Adhiyasa Saranamas, Robert Sirait SH dalam siaran  persnya, Selasa  [19/01].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal itu terjadi pada perusahaan  Indonesia di bidang jasa konsultan  keuangan dan penasehat investasi,  PT. Adhiyasa Saranamas. Konsultan Fee  yang semestinya sudah dibayar  sejak tahun 2000, namun sampai hari ini  masih diabaikan perusahaan  kelapa sawit Malaysia , Kumpulan Guthrie  Berhad (sekarang bernama Sime  Darby).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut kuasa hukum PT. Adhiyasa  Saranamas, kliennya memberikan jasa  konsultan keuangan dan penasehat  investasi atas transaksi jual beli  lahan perkebunan kelapa sawit antara  Kumpulan Guthrie Berhad dengan PT.  Holdiko Perkasa (Salim Group) pada  tahun 2000, aset yang pada saat itu  dikuasai Badan Penyehatan Perbankan  Nasional (BPPN).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dijelaskan, nilai konsultan fee yang  seharusnya diterima kliennya 7  persen dari jumlah transaksi sekitar  US$368 juta untuk jual beli lahan  kelapa sawit seluas kurang lebih&amp;nbsp;  280.000 hektare di kawasan Sumatera,  Kalimantan dan daerah lainnya di  negeri ini atau setara dengan US$25,760  juta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski  pemberian fee tersebut telah disepakati bersama, tetapi ‘raja  sawit  dunia’ itu tetap tak peduli, begitu juga dengan somasi yang  disampaikan  pihak PT. Adhiyasa Saranamas, dianggap angin lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tindakan  perusahaan Malaysia itu bukan saja merugikan finansial  klien saya,  tapi juga terhinanya rasa kebangsaan. Jasa nggak dibayar,  kan sama saja  kerja rodi. Perbuatan itu tidak bisa dibiarkan dan harus  diselesaikan  melalui mekanisme hukum yang berlaku di negeri ini,” papar  Robert  kepada wartawan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sadar telah diperdaya, lanjut Robert,  tanggal 3 Mei 2001 PT. Adhiyasa  Saranamas mengajukan gugatan  wanprestasi (ingkar janji) terhadap  Kumpulan Guthrie Berhad berikut  enam perusahaan kelapa sawit lokal  sebagai pemilik asal yang dijadikan  turut tergugat ke Pengadilan Negeri  Jakarta Selatan (PN Jaksel).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga  untuk menjamin agar konsultan fee tersebut terbayarkan,  kliennya  meminta pengadilan agar meletakan sita jaminan atas lahan  kelapa sawit  seluas 48.424,577 hektare di kawasan Provinsi Riau,  Kalimantan Selatan  dan Kalimantan Tengah milik perusahaan Malaysia itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lahan  yang disita jaminkan itu di antaranya perkebunan kelapa sawit  seluas  5.909 hektare di Kabupaten Tanah Bumbu (Kalsel), 14.779,920  hektare di  Kabupaten Kota Waringin Timur (Kalteng), 16.601,657 hektare  di  Kabupaten Kota Waringin Timur (Kalteng) dan 11.134 hektare di  Kabupaten  Bengkalis (Riau).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Robert Sirait menjelaskan bahwa lahan  yang disita jaminkan itu  awalnya adalah milik empat perusahaan kelapa  sawit lokal, yaitu PT.  Ladangrumpun Suburabadi, PT. Kridatama Lancar,  PT. Teguh Sampurna dan  PT.Aneka Intipersada, yang merupakan anak  perusahaan PT. Holdiko Perkasa  (Salim Group), yang selanjutnya  kepemilikan jatuh kepada ‘raja sawit  dunia’ itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi  meski secara hukum lahan seluas 48.424,577&amp;nbsp; hektare itu bukan  atas  nama Kumpulan Guthrie Berhad, tapi karena perusahaan Malaysia  sebagai  pemilik saham 100 persen di empat perusahaan lokal tersebut,  sangat  wajar jika PT. Adhiyasa Saranamas meminta pengadilan menyitanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Proses  hukum membuktikan bahwa perusahaan Malaysia itu telah  melakukan  wanprestasi (ingkar janji) terhadap klien saya, yakni ingkar  membayar  konsultan fee sebagaimana yang telah disepakati,” kata Robert.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil  persidangan di tingkat pertama PN Jaksel hingga putusan  Peninjauan  Kembali (PK) Mahkamah Agung RI No.410 PK/PDT/2007 tertanggal  22 Januari  2008 telah memenangkan PT. Adhiyasa Saranamas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam  vonis disebutkan perusahaan Malaysia itu harus melunasi  kewajiban  membayar konsultan fee keuangan dan penasehat investasi  sebesar  US$25,760 juta ditambah bunga senilai 6 persen per tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengingat  putusan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van  gewijsde),  PN Jaksel kemudian menetapkan eksekusi lelang terhadap  perkebunan  kelapa sawit seluas 48.424,577&amp;nbsp; hektare tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya  meminta bantuan Pengadilan Negeri Kotabaru Kalsel untuk  bertindak  selaku eksekutor terhadap lahan seluas 5.909 hektare di  Kabupaten Tanah  Bumbu, serta Pengadilan Negeri Sampit (Kalteng) untuk  perkebunan  seluas 14.779,920 hektare di Kabupaten Kota Waringin Timur  (Kalteng),  16.601,657 hektare di Kabupaten Kota Waringin Timur  (Kalteng).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tetapi  peradilan di Kotabaru dan Sampit belum memihak kepada  kebenaran,  terlebih-lebih terhadap perusahaan lokal seperti PT. Adhiyasa   Saranamas. Hal itu merupakan pelecehan hukum Indonesia yang dilakukan   oleh perusahaan asing. Buktinya, sekalipun putusan sudah inkracht dan   eksekusi lelang sudah ditetapkan, namun lahan yang seharusnya sudah   dieksekusi, ditunda dengan alasan ada Perlawanan dari turut tergugat   (PT. Ladangrumpun Suburabadi dan PT. Teguh Sampurna),” ungkap Robert.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disamping  itu PN Kotabaru telah mengeluarkan Penetapan Lelang  terhadap lahan  seluas 5.909 hektare itu, akan tetapi dibatalkan hanya  karena adanya  surat dari Ketua Pengadilan Tinggi Kalsel yang terkesan  mencampuri  (intervensi) pelaksanaan lelang yang akan dilakukan  bawahannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Secara  hukum legalitas surat itu patut dipertanyakan sebab di  samping kami  selaku para pihak tidak diberitahu adanya pembatalan/  penundaan  eksekusi lelang, surat tersebut bukan merupakan suatu produk  hukum yang  dapat mengalahkan putusan yang sudah inkracht. Surat itu  dapat  dikualifikasi sebagai ‘ surat sakti’ sebagaimana sering terjadi  pada  era orde baru,” ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Robert juga menegaskan bahwa gugatan  perlawanan tersebut tidak  beralasan dan tidak berdasar hukum untuk  menunda pelaksanaan lelang  karena PT. Ladangrumpun Suburabadi dan PT.  Teguh Sampurna merupakan para  pihak dalam perkara di Putusan PK MA  No.410 PK/PDT/2007, bukan sebagai  pihak ke tiga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditegaskan,  hingga hari ini pihak PT. Adhiyasa Saranamas tidak pernah  berhenti  mencari keadilan atas pelecehan hukum yang dilakukan  perusahaan  Malaysia . Termasuk menggugah rasa kebangsaan pemerintah  Indonesia cq.  Mahkamah Agung RI dan Pengadilan Tinggi Kalsel, bahwa  putra bangsa  negeri ini telah diculasi oleh Kumpulan Guthrie Berhad  (sekarang  bernama Sime Darby).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Robert  Sirait berharap agar pengadilan segera melaksanakan lelang  atas  putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap sekalipun muncul   perlawanan yang mengada-ada dari pihak turut tergugat demi tegaknya   supremasi dan kepastian hukum di republik ini. Apabila hal ini tidak   segera dilaksanakan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan preseden buruk   bagi penegakan hukum itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-5934703480282467198?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/5934703480282467198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/perusahaan-malaysia-diduga-lecehkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/5934703480282467198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/5934703480282467198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/perusahaan-malaysia-diduga-lecehkan.html' title='Perusahaan Malaysia Diduga Lecehkan Hukum Indonesia'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-4692423830600127786</id><published>2010-02-06T19:56:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T19:56:16.502-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>PERANAN PENYIDIK DALAM MEMBANTU PENYELESAIAN TINDAK PIDANA NARKOBA</title><content type='html'>&lt;div class="field field-type-text field-field-abstraks"&gt;&lt;div class="field-label" style="text-align: justify;"&gt;abstraks:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="field-items"&gt;&lt;div class="field-item"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir-akhir ini kejahatan narkotika dan obat-obatan terlarang telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi yang canggih, aparat penegak hukum di harapkan mampu mencegah dan menanggulangi kejahatan tersebut guna meningkatkan moralitas dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya bagi generasi penerus bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai salah satu modal Pembangunan nasional perlu ditingkatkan secara terus menerus termasuk derajat kesehatannya.&lt;br /&gt;Peningkatan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu dilakukan upaya peningkatan dibidang pengobatan dan pelayanan kesehatan, antara lain pada satu sisi dengan mengusahakan ketersediaan narkotika dan obat-obatan jenis tertentu yang sangat dibutuhkan sebagai obat-obatan untuk kesehatan, juga digunakan untuk percobaan dan penelitian yang diselenggarakan pemerintah dalam rangka kepentingan ilmu pengetahuan dan mendapat ijin dari Menteri Kesehatan.&lt;br /&gt;Pada era globalisasi ini masyarakat lambat laun berkembang, dimana perkembangan itu selalu diikuti proses penyesuaian diri yang kadang-kadang proses tersebut terjadi secara tidak seimbang. Dengan kata lain, pelanggaran terhadap norma-norma tersebut semakin sering terjadi dan kejahatan semakin bertambah, baik jenis maupun bentuk polanya semakin kompleks. Perkembangan masyarakat itu disebabkan karena ilmu pengetahuan dan pola pikir masyarakat yang semakin maju&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan masyarakat berusaha mengadakan pembaharuan-pembaharuan di segala bidang. Namun kemajuan teknologi tidak selalu berdampak positif, bahkan ada kalanya berdampak negatif. Maksudnya adalah dengan kemajuan teknologi juga ada peningkatan masalah kejahatan dengan menggunakan modus operandi yang canggih. Hal tersebut merupakan tantangan bagi aparat penegak hukum untuk mampu menciptakan penanggulangannya, khususnya dalam kasus narkotika dan obat-obatan terlarang.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kejahatan narkotika dan obat-obatan terlarang telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi yang canggih, aparat penegak hukum di harapkan mampu mencegah dan menanggulangi kejahatan tersebut guna meningkatkan moralitas dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya bagi generasi penerus bangsa.&lt;br /&gt;Diantara aparat penegak hukum yang juga mempunyai peran penting terhadap adanya kasus tindak pidana narkoba ialah " Penyidik ", dalam hal ini penyidik POLRI, dimana penyidik diharapkan mampu membantu proses penyelesaian terhadap kasus pelanggaran tindak pidana narkoba.&lt;br /&gt;Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dan Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika didalamnya diatur sanksi hukumnya, serta hal-hal yang diperbolehkan, dengan dikeluarkanya Undang-Undang tersebut, maka penyidik diharapkan mampu membantu proses penyelesaian perkara terhadap seseorang atau lebih yang telah melakukan tindak pidana narkoba dewasa ini.&lt;br /&gt;Efektifitas berlakunya Undang-Undang ini sangatlah tergantung pada seluruh jajaran penegak umum, dalam hal ini seluruh intansi yang terkait langsung, yakni penyidik Polri serta para penegak hukum yang lainnya. Disisi lain hal yang sangat penting adalah perlu adanya kesadaran hukum dari seluruh lapisan masyarakat guna menegakkan kewibawaan hukum dan khususnya terhadap Undang-Undang No. 5 tahun 1997 dan Undang-Undang No. 22 tahun 1997. Maka peran penyidik bersama masyarakat sangatlah penting dalam membantu proses penyelesaian terhadap kasus tindak pidana Narkoba yang semakin marak dewasa ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut di atas , maka penulis ingin mengupas beberapa Permasalahan yang dijadikan obyek di dalam penulisan skripsi ini adalah :&lt;br /&gt;1. Sampai sejauh mana peranan penyidik dalam menjalankan tugas untuk  menangani tindak pidana Narkoba?&lt;br /&gt;2. Bagaimana langkah-langkah penyidik dalam mengungkap masalah terhadap  seseorang yang melakukan tindak pidana Narkoba?&lt;br /&gt;3. Hambatan-hambatan apa yang ditemui para penyidik dalam penyelesaian  terhadap pelaku tindak pidana narkoba ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan atau penulisan skripsi  ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui serta mempelajari secara lebih mendalam bagaimana peranan penyidik dalam membantu proses penyelesaian kasus tindak pidana Narkoba.&lt;br /&gt;2. Penulis ingin mengetahui bagaimana penjatuhan sanksi terhadap para  pelaku dan pengedar narkoba.&lt;br /&gt;3. Penulis ingin mengetahui kendala-kendala apa yang dihadapi oleh  penyidik dalam melaksanakan tugasnya tersebut.&lt;br /&gt;4. Penulis ingin mengetahui sejauh mana peranan penyidik didalam membantu proses penyelesaian kasus tindak pidana narkoba yang terjadi didalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;D. Metode Penelitian&lt;br /&gt;Sebagaimana lazimnya dalam penulisan skripsi ini diperlukan data-data dimana data-data tersebut diperoleh dengan menggunakan beberapa metode sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Sumber Data&lt;br /&gt;a. Studi Kepustakaan&lt;br /&gt;Yaitu dilakukan dengan cara mempelajari, mengumpulkan pendapat para pakar hukum yang dapat dibaca dari literatur, yurisprudensi, majalah-majalah dan koran-koran yang kebetulan memuat tentang masalah yang diteliti.&lt;br /&gt;b.  Studi Lapangan&lt;br /&gt;Yaitu dilakukan dengan cara melakukan penelitian langsung pada obyek  penelitian.&lt;br /&gt;2. Pengumpulan data, yaitu pengumpulan data dari lapangan dengan  menggunakan beberapa teknik diantaranya adalah :&lt;br /&gt;a. Teknik observasi,&lt;br /&gt;Teknik pengumpulan data dengan cara melihat atau mengamati langsung pada  obyek penelitian di lapangan.&lt;br /&gt;b. Teknik wawancara,&lt;br /&gt;Adalah teknik pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan pihak yang erat hubungannya dengan penelitian agar data yang diperoleh lebih jelas dan akurat.&lt;br /&gt;c. Teknik Dokumentasi&lt;br /&gt;Adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen yang berupa arsip atau naskah lainnya yang diperoleh dari instansi yang berhubungan dengan penelitian&lt;br /&gt;3. Analisa Data&lt;br /&gt;Data-data yang terkumpul akan disusun secara deskriptif kualilatif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diteliti dengan cara memaparkan data-data yang diperoleh dari lapangan baik data primer maupun data sekunder. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu kebenaran yaitu dengan menguraikan data yang sudah terkumpul sehingga dengan demikian dapat dilakukan pemecahan masalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;E. Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;Untuk lebih memudahkan mengikuti uraian skripsi ini, maka disusun  menurut urutan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Bab I Pendahuluan. Disini penulis terlebih dahulu mengemukakan tentang latar belakang Permasalahan, selanjutnya diuraikan tentang perumusan masalah yaitu peranan penyidik dalam membantu proses penyelesaian tindak pidana narkoba, dimana hal itu sangat penting untuk menentukan batas-batas yang akan dibahas dan untuk memberikan pengertian dan keterangan yang dimaksud oleh judul penelitian ini. Dan selanjutnya bab ini ditutup dengan sistematika penulisan, dimana didalamnya memuat pembahasan seluruh isi penulisan&lt;br /&gt;Bab II yaitu mengenai tinjauan umum tentang penyidikan dan pengertian tentang narkoba, yang membahas pengertian penyidik dan syarat-syarat penyidik, serta proses penyidikan perkara itu dilakukan dan upaya penyidik dalam memperoleh kebenaran secara materiil terhadap barang bukti yang didalamnya membahas pula mengenai macam-macam alat bukti serta upaya penyidik dalam memperoleh kebenaran barang bukti, baik melalui pemeriksaan tempat kejadian perkara, penggeledahan dan sebagainya oleh penyidik guna mencari barang bukti yang tertinggal dalam suatu peristiwa pidana. Selanjutnya pengertian tentang narkotika dan obat-obatan serta pembahasannya.&lt;br /&gt;Bab III, yaitu mengenai peranan penyidik didalam membantu proses penyelesaian terhadap kasus tindak pidana narkoba dan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh penyidik dalam melaksanakan tugasnya, serta dalam bab ini membahas pula tentang penjatuhan sanksi terhadap para pelaku tindak pidana narkoba.&lt;br /&gt;Bab IV, atau bab penutup dari sistematika penulisan skripsi ini, yakni  menyangkut kesimpulan dan saran.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-4692423830600127786?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/4692423830600127786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/peranan-penyidik-dalam-membantu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4692423830600127786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4692423830600127786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/peranan-penyidik-dalam-membantu.html' title='PERANAN PENYIDIK DALAM MEMBANTU PENYELESAIAN TINDAK PIDANA NARKOBA'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-5507294710961807173</id><published>2010-02-06T19:50:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T19:50:34.255-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>Mereka (Anak) Memang Seharusnya Tak Dipenjara</title><content type='html'>&lt;div class="meta with-taxonomy"&gt;            &lt;!--div class="submitted"&gt;Posted August 7th, 2009 by legalitas&lt;/div--&gt;&lt;div class="submitted"&gt;Dikirim/ditulis pada 7 August 2009 oleh  legalitas&lt;/div&gt;&lt;div class="taxonomy" style="text-align: right;"&gt;&lt;ul class="links inline"&gt;&lt;li class="first last taxonomy_term_1"&gt;&lt;a class="taxonomy_term_1" href="http://www.legalitas.org/?q=category/kategori-artikel/artikel-hukum-pidana" rel="tag" title=""&gt;ARTIKEL HUKUM PIDANA&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh:&lt;/strong&gt; Lucky Raspati, SH.MH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; [Penulis adalah Staf Pengajar Bagian Hukum Pidana FH Universitas Andalas  Padang]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img align="left" alt=" " height="98" hspace="5" src="http://www.legalitas.org/image/artikel/anak-anak.jpg" vspace="6" width="130" /&gt;Dengan  muka ditutupi topeng, 10 orang anak, terdakwa pelaku tindak pidana  perjudian menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang,  sebelumnya mereka di tahan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang  selama hampir sebulan (kompas, Rabu, 15 Juli 2009). Kesepuluh anak ini  kemungkinan besar akan menambah menambah daftar panjang anak yang  dipenjarakan karena melakukan pelanggaran terhadap delik-delik yang  diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) Indonesia. Sekedar  ilustrasi, di tahun 2003, menurut hasil sebuah penelitian, lebih dari  4.000 anak Indonesia diajukan ke pengadilan setiap tahunnya atas  kejahatan ringan seperti pencurian dan perkelahian. Sembilan dari  sepuluh anak ini akhirnya dijebloskan ke penjara atau rumah tahanan.  (Steven Allen:2003).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Anak Nakal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persoalan anak sebagai pelaku tindak pidana merupakan suatu permasahan  yang polemistis sifatnya. Dikatakan demikian karena anak sebagai pelaku  tindak pidana sesungguhnya juga merupakan korban dari tindak pidana itu  sendiri. Pemikiran ini berangkat dari asumsi dan pemahaman bahwa pada  diri seorang  anak terdapat kecenderungan jiwa yang labil. Kecenderungan  ini dalam aplikasinya seringkali diwujudkan kedalam  perilaku kritis,  agresif atau bahkan menunjukkan sikap yang anti sosial, dimana hal  tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, khususnya  keluarga dan lingkungan sekitarnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan karakteristik unik tersebut maka di negara-negara yang telah  mapan sistem hukumnya, persoalan pidana dan pemidanaan terhadap anak  mendapatkan perhatian yang sangat serius dari negara. Di Amerika Serikat  misalnya, terhadap pelanggaran norma hukum pidana, kesusilaan, dan  ketertiban umum apabila dilakukan oleh orang yang berusia usianya di  bawah 21 tahun disebut dengan kenakalan (deliquency). Baru apabila  pelanggaran tersebut dilakukan oleh orang berusia 21 tahun keatas  perbuatannya dinamakan kejahatan (crime).Dari hal ini nampak jelas,  bahwa dalam tahapan penegakan hukum di tingkat penyelidikan dan  penyidikan, dan penuntutan sudah diusahakan untuk menghindari pemberian  stigma tersangka atau terdakwa  bagi anak nakal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disamping itu, kalaupun hukum pidana tidak dapat lagi dielakkan maka  terhadap anak nakal haruslah dipenuhi segala kebutuhan hak-hak anak,  seperti pendampingan pengacara, psikolog dan lain-lain yang sifatnya  memberikan perlindungan kepada anak nakal dari “ganasnya” penerapan  sanksi pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengklasifikasian kejahatan dan kenakalan dalam konteks hukum pidana  pada dasarnya merupakan titik pijak terhadap dua masalah penting dalam  hukum pidana, yaitu; perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak  pidana, dan sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si  pelanggar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pidana Sebagai Pengancam!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku the limits of criminal sanction (1968) Herbert L. Packer  mengemukakan bahwa sanksi pidana sangatlah diperlukan; kita tidak dapat  hidup sekarang maupun di masa yang akan datang tanpa pidana, karena  sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang tersedia, yang  kita miliki untuk menghadapi kejahatan-kejahatan atau bahaya besar dan  segera serta untuk menghadapi ancaman-ancaman dari bahaya. Tetapi  meskipun demikian sanksi pidana bisa menjadi “pengancam yang utama”  apabila digunakan secara sembarangan dan  secara paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frasa sembarangan dan secara paksa yang dikatakan oleh Packer dalam  hukum pidana ditujukan kepada dua hal, yaitu tentang norma hukum apa  yang dilanggar (hukum pidana materiel) dan bagaimana cara menegakkan  hukum terhadap tindakan tersebut (hukum pidana formil).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait dengan kriminalisasi anak, secara normatif mengacu kepada UU  yang terkait dengan Anak.  Dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor 3  Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, yang mengatakan bahwa anak nakal  adalah : pertama, anak yang melakukan tindak pidana, atau kedua, anak  yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik  menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut hukum lain yang  hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara proses penanganan anak nakal dan penegakan hukumnya diatur  dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sebagai bagian  hukum formil, tentang bagaimana cara menerapkan hukum materiel,  penanganan dan penegakan hukum terhadap anak nakal terikat dengan  ketentuan pasal 16 (ayat 3),  UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan  Anak, yang menyatakan secara tegas bahwa dalam hal penangkapan,  penahanan, atau tindak pidana, penjara anak hanya dilakukan apabila  sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya  terakhir (ultimum remedium).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya, seringkali norma hukum formil yang seharusnya menjadi  acuan tentang bagaimana dan dengan cara apa penanganan dan penegakan  hukum terhadap anak harus dilakukan seringkali  diabaikan sedemikian  rupa oleh aparat penegak hukum (Polisi, Jaksa dan Hakim) sehingga  terkesan sanksi pidana menjadi hal yang utama (&lt;em&gt;primum remedium&lt;/em&gt;).  Kasus penahanan dan pesidangan raju dan juga  kesepuluh anak di  tanggerang merupakan contoh konkrit bagaimana hukum pidana diwujudkan  sebagai pengancam yang utama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kejadian-kejadian tersebut nampak secara jelas bahwa aparat  penegak hukum kurang memperhatikan arti penting substansi UU  Perlindungan Anak, yakni mencegah perlakuan buruk terhadap anak. Padahal  penting untuk digarisbawahi bahwa penegakan hukum terhadap anak nakal  terikat  dengan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagai  ketentuan hukum khusus (&lt;em&gt;lex specialis&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedepan, seharusnya aparat penegak hukum lebih bijak dalam memahami  dan memaknai kasus-kasus  anak nakal, tidak semua tindak pidana menurut  ketentuan perundang-undangan (khususnya KUHP) bisa serta merta  diterapkan kepada seorang anak, meskipun secara rumusan delik, unsur  perbuatannya terpenuhi. Harus dipilah dan dipilih, dalam hal apakah  ketentuan hukum pidana bisa diterapkan dalam kapasitasnya sebagai primum  remedium atau ultimum remedium. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-5507294710961807173?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/5507294710961807173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/mereka-anak-memang-seharusnya-tak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/5507294710961807173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/5507294710961807173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/mereka-anak-memang-seharusnya-tak.html' title='Mereka (Anak) Memang Seharusnya Tak Dipenjara'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-4834830160156882563</id><published>2010-02-06T06:04:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T06:04:06.785-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>“Biaya Administrasi” Atau Pungutan Liar</title><content type='html'>&lt;div class="meta with-taxonomy"&gt;            &lt;!--div class="submitted"&gt;Posted July 9th, 2009 by legalitas&lt;/div--&gt;&lt;div class="submitted"&gt;Dikirim/ditulis pada 9 July 2009 oleh  legalitas&lt;/div&gt;&lt;div class="taxonomy" style="text-align: right;"&gt;&lt;ul class="links inline"&gt;&lt;li class="first last taxonomy_term_1"&gt;&lt;a class="taxonomy_term_1" href="http://www.legalitas.org/?q=category/kategori-artikel/artikel-hukum-pidana" rel="tag" title=""&gt;ARTIKEL HUKUM PIDANA&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh:&lt;/strong&gt; Rony Saputra, S.H.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; [Penulis adalah seorang Advokat dan Staff LBH Padang Divisi HAM]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img align="left" alt=" " height="86" hspace="5" src="http://www.legalitas.org/image/artikel/korupsi.jpg" vspace="6" width="127" /&gt;Dua hal yang  sebenarnya sangat berbeda, tetapi beberapa dekade ini menjadi kosa kata  yang hampir sama, bagaimana tidak setiap berurusan dikantor-kantor  pemerintah masyarakat selalu diminta biaya administrasi yang tidak  jelas. Jika ditanya biaya untuk apa, jawabnya sederhana, buat beli  kertas, biaya ketikan, biaya transportasi dan yang paling banyak adalah  biaya stempel.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang kita ketahui, bahwa biaya administrasi adalah biaya yang  dikenakan terhadap masyarakat dengan jumlah dan jenis yang telah  ditetapkan oleh Pemerintah/pemerintah daerah/Penjabat yang berwenang   dalam suatu aturan/keputusan. Jika  tidak ada penetapan dari penjabat  yang berwenang maka setiap biaya yang dikenakan jatuh pada ranah  pungutan liar (PUNGLI) atau jika dilakukan oleh pegawai negara atas uang  negara maka dapat diketegorikan Korupsi yang diatur dalam UU No. 31  tahun 1999 yang dirubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan  tindak pidana korupsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fenomena diatas, hampir terjadi disetiap daerah di Indonesia,  termasuk di Ranah yang berfalsafahkan ‘adat basandi syarak, syarak  basandi kitabullah’ ini. Apalagi akhir-akhir ini setelah pemerintah  menaikkan harga BBM dan membagi-bagikan uang kompensasi berupa BLT  kepada masyarakat miskin. Tidak jarang penjabat RT, RW, Lurah dan bahkan  Walinagari melakukan pungutan liar berkedok ‘biaya administrasi  sukarela’. Jelas apapun namanya ketika tidak ada aturan hukum maka apa  yang dilakukan oleh para penjabat itu adalah Pungli alias Korupsi. Jika  perbuatan itu dibiarkan saja, maka jangan berharap kalau ‘virus korupsi’  akat tetap menjamah di negeri ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rendahnya pemahaman masyarakat akan korupsi ini juga menjadi lahan  subur untuktumbuh dan berkembangnya virus korupsi itu sendiri, bahkan  tidak jarang masyarakat sendiri dibenturkan oleh pihak-pihak tertentu  agar korupsi menjadi sesuatu yang halal dan legal, bagaimana tidak dalam  beberapa praktek didunia kepemerintahan sangat jarang aparat yang  melakukan penilepan (Sulap) uang negara yang dijerat dengan pidana.  Padahal jelas  rumusan tindak pidana korupsi ditegaskan dalam UU No. 31  tahun 1999 yang dirubah dengan UU No. 20 tahun 2001 apabila berbuatan  itu (1) merugikan keuangan negara, (2) adanya suap menyuap, (3) adanya  penggelapan dalam jabatan, (4) adanya pemerasan, (5) adanya perbuatan  curang, (6) adanya benturan kepentingan dalam pengadaan, dan/atau (7)   Gratifikasi adalah tindak pidana korupsi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tindak pidana korupsipun tidak pernah memandang jabatan, ras, agama,  kepentingan, golongan atau suku, ketika setiap orang tersebut diduga  melakukan setidaknya salah satu dari 7 (tujuh) jenis diatas, maka dapat  diduga mereka telah melakukan Korupsi dan harus di tindak sesuai dengan  hukum yang berlaku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan hal diatas, maka fenomena yang terjadi selama ini  terutama persoalan ‘biaya administrasi sukarela’ terkait dengan  penyaluran dana BLT untuk orang miskin juga harus ditindak oleh aparat  hukum, apalagi ketika SBY menelorkan program bantuan dadakan ini,  Kejaksaan Agung berjanji akan mengawal proses dan melakukan tindakan  terhadap penyelewengan bantuan. Sehingga tidak ada alasan bagi penyalur  (baik Ketua RT, Ketua RW, Lurah, Camat, Walinagari) untuk memungut  ataupun menerima pemberian guna memperlancar penyaluran BLT.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain biaya administrasi sukarela yang dilancarkan dalam penyaluran  BLT, sebenarnya masih banyak pungutan liar lain yang berkedok biaya  administrasi. Misal dalam pengurusan KTP, Nikah, Akte Kelahiran, dan  surat keterangan lain di kantor pemerintah,  padahal jelas bahwa biaya  administrasi telah ditetapkan oleh pemerintah, tetapi ketika masyarakat  mengurus, ternyata banyak muncul biaya tetek-bengek yang ketika diminta  bukti pembayaran sipetugas mengelak dengan alasan “Sudah biasa”. Tidak  sampai disitu, dalam urusan parkir memarkirpun pungutan liar juga  terjadi, dikarcis yang telah disediakan tertera biaya parkir Rp.500,-  tetapi ketika diberikan Rp. 500,- petugas parkir meminta Rp.500,- dengan  alasan setiap orang membayar Rp. 1000,- Memang jumbah biaya pungli itu  tidak banyak, jika tetap dibiarkan dan tidak ditindak maka benih-benih  korupsi akan tetap ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejadian yang sangat memalukan kita adalah dipengadilan sendiripun  praktek-praktek ‘biaya administrasi’ pun juga terjadi dengan  terang-terangan. Misal dalam pengurusan perkara pidana yang jelas-jelas  bebas dari segala pungutan, tetap juga dibiarkan. Bahkan ketika  dilaporkan kepada atasan yang bersangkutan, jawaban klise yang muncul  “sudahlah hitung-hitung membantu biaya pengetikan, tranportasi dan  lain-lain”, singkat kata virus korupsi ternyata memang sudah menjadi  penyakit kronik yang sudah tidak ada obatnya, bahkan walaupun telah  dilakukan ESQ oleh Ginanjar, tetap saja tidak pernah terkikis, dan  muncul lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih ironisnya, ketika Majelis hakim menjatuhkan vonis bagi “Para  Koruptor” tidak jarang yang menyalahi aturan undang-undang (  UU No. 31  tahun 1999 yang dirubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan  tindak pidana korupsi) jelas bahwa UU tersebut menerapkan sistem pidana  minimum dan maksimum, namun majelis hakim malah menjatuhkan pidana  dibawah sanksi minimum, semisal, seseorang terbukti bersalah melanggar  pasal 2  UU No. 31 tahun 1999 yang dirubah dengan UU No 20 tahun 2001  tentang pemberantasan tindak pidana korupsi maka seharusnya dihukum  dengan pidana penjara 4 tahun atau lebih, tetapi banyak putusan yang  dijatuhkan malah 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga jelas bahwa sebenarnya sampai saat ini, baik pemerintah  maupun aparat termasuk masyarakat masih belum punya keinginan  (setidak-tidaknya baru punya, itupun niat) untuk memberantas tindak  pidana korupsi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika memang kita (bangsa ini) mau lepas dari jeratan utang dan  mandiri maka mulai dari sekarang kita harus menggalakkan “gerakan  perangi korupsi”. Dan menghentikan sifat kasihan dan iba terhadap pelaku  (Koruptor) dengan alasan dia adalah mamak, pemuka masyarakat, tokoh  politik, dan alasan-alasan lain yang berujung kepada semakin menjamurnya  virus korupsi. ***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-4834830160156882563?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/4834830160156882563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/biaya-administrasi-atau-pungutan-liar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4834830160156882563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4834830160156882563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/biaya-administrasi-atau-pungutan-liar.html' title='“Biaya Administrasi” Atau Pungutan Liar'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-4803428350386798469</id><published>2010-02-06T05:59:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T05:59:30.192-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>PIDANA MATI MENURUT HUKUM PIDANA INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;PIDANA MATI MENURUT HUKUM PIDANA INDONESIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SYAHRUDDIN HUSEIN, S.H&lt;br /&gt;Fakultas Hukum&lt;br /&gt;Bagian Hukum Pidana&lt;br /&gt;Universitas Sumatera Utara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Sebenarnya tujuan dari pidana itu adalah untuk mencegah timbulnya&lt;br /&gt;kejahatan dan pelanggaran. Kejahatan-kejahatan yang berat dan pidana mati dalam&lt;br /&gt;sejarah hukum pidana adalah merupakan dua komponen permasalahan yang&lt;br /&gt;berkaitan erat. Hal ini nampak dalam KUHP Indonesia yang mengancam kejahatankejahatan&lt;br /&gt;berat dengan pidana mati.&lt;br /&gt;Waktu berjalan terus dan di pelbagai negara terjadi perubahan dan&lt;br /&gt;perkembangan baru. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau ternyata sejarah&lt;br /&gt;pemidanaan dipelbagai bagian dunia mengungkapkan fakta dan data yang tidak&lt;br /&gt;sama mengenai permasalahan kedua komponen tersebut diatas. Dengan adanya&lt;br /&gt;pengungkapan fakta dan data berdasarkan penelitian sosio-kriminologis, maka&lt;br /&gt;harapan yang ditimbulkan pada masa lampau dengan adanya berbagai bentuk dan&lt;br /&gt;sifat pidana mati yang kejam agar kejahatan-kejahatan yang berat dapat dibasmi,&lt;br /&gt;dicegah atau dikurangkan, ternyata merupakan harapan hampa belaka.&lt;br /&gt;Sejarah hukum pidana pada masa lampau mengungkapkan adanya sikap dan&lt;br /&gt;pendapat seolah-olah pidana mati merupakan obat yang paling mujarab terhadap&lt;br /&gt;kejahatan-kejahatan berat ataupun terhadap kejahatan-kejahatan lain. Dalam pada&lt;br /&gt;itu bukan saja pada masa lampau, sekarang pun masih ada yang melihat pidana&lt;br /&gt;mati sebagai obat yang paling mujarab untuk kejahatan.&lt;br /&gt;Indonesia yang sedang mengadakan pembaharuan di bidang hukum&lt;br /&gt;pidananya, juga tidak terlepas dari persoalan pidana mati ini. Pihak pendukung dan&lt;br /&gt;penentang pidana mati yang jumlahnya masing-masing cukup besar, mencoba untuk&lt;br /&gt;tetap mempertahankan pendapatnya. Hal ini tentu saja akan membawa pengaruh&lt;br /&gt;bagi terbentuknya suatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia yang baru,&lt;br /&gt;buatan bangsa sendiri, yang telah lama dicita-citakan.&lt;br /&gt;Tujuan Pemidanaan&lt;br /&gt;Masalah pemidanaan berhubungan erat dengan kehidupan seseorang&lt;br /&gt;dimasyarakat, terutama bila menyangkut kepentingan benda hukum yang paling&lt;br /&gt;berharga bagi kehidupan bermasyarakat yaitu nyawa dan kemerdekaan atau&lt;br /&gt;kebebasan.&lt;br /&gt;Pada masa sekarang ini telah umum diterima pendapat bahwa yang&lt;br /&gt;menjatuhkan pidana adalah negara atau pemerintah dengan perantaraan alat-alat&lt;br /&gt;hukum pemerintah. Pemerintah dalam menjalankan hukum pidana selalu dihadapkan&lt;br /&gt;dengan suatu paradoxaliteit yang oleh Hazewinkel-Suringa dilukiskan sebagai&lt;br /&gt;berikut : “Pemerintah negara harus menjamin kemerdekaan individu, menjamin&lt;br /&gt;supaya pribadi manusia tidak disinggung dan tetap dihormati. Tapi kadang-kadang&lt;br /&gt;sebaliknya, pemerintah negara menjatuhkan hukuman, dan justru menjatuhkan&lt;br /&gt;hukuman itu, maka pribadi manusia tersebut oleh pemerintah negara diserang,&lt;br /&gt;misalnya yang bersangkutan dipenjarakan. Jadi pada satu pihak pemerintah negara&lt;br /&gt;membela dan melindungi pribadi manusia terhadap serangan siapapun juga,&lt;br /&gt;sedangkan pada pihak lain, pemerintah negara menyerang pribadi manusia yang&lt;br /&gt;hendak dilindungi dan dibela itu".&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 2&lt;br /&gt;Dalam hukum pidana dikenal beberapa teori mengenai tujuan pemidanaan,&lt;br /&gt;antara lain, teori absolut (teori pembalasan), teori relatif (teori prevensi) dan teori&lt;br /&gt;gabungan. Teori absolut (pembalasan) menyatakan bahwa kejahatan sendirilah yang&lt;br /&gt;memuat anasir-anasir yang menuntut pidana dan yang membenarkan pidana&lt;br /&gt;dijatuhkan. Teori pembalasan ini pada dasarnya dibedakan atas corak subjektif yang&lt;br /&gt;pembalasannya ditujukan pada kesalahan si pembuat karena tercela dan corak&lt;br /&gt;objektit yang pembalasannya ditujukan sekedar pada perbuatan apa yang telah&lt;br /&gt;dilakukan orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Teori relatif (prevensi) memberikan dasar dari pemidanaan pada&lt;br /&gt;pertahanan tata tertib masyarakat. Oleh sebab itu tujuan dari pemidanaan adalah&lt;br /&gt;menghindarkan (prevensi) dilakukannya suatu pelanggaran hukum. Sifat prevensi&lt;br /&gt;dari pemidanaan adalah prevensi umum dan prevensi khusus, Menurut teori prevensi&lt;br /&gt;umum, tujuan pokok pemidanaan yang hendak dicapai adalah pencegahan yang&lt;br /&gt;ditujukan pada khalayak ramai, kepada semua orang agar supaya tidak melakukan&lt;br /&gt;pelanggaran terhadap ketertiban masyarakat. Sedangkan menurut teori prevensi&lt;br /&gt;khusus, yang menjadi tujuan pemidanaan adalah mencegah si penjahat mengulangi&lt;br /&gt;lagi kejahatan atau menahan calon pelanggar melakukan perbuatan jahat yang telah&lt;br /&gt;direncanakannya. Teori gabungan mendasarkan jalan pikiran bahwa pidana&lt;br /&gt;hendaknya didasarkan atas tujuan pembalasan dan mempertahankan ketertiban&lt;br /&gt;masyarakat, yang diterapkan secara kombinasi dengan menitikberatkan pada salah&lt;br /&gt;satu unsurnya tanpa menghilangkan unsur yang lain maupun pada semua unsur&lt;br /&gt;yang ada.&lt;br /&gt;Tujuan pemidanaan menurut konsep Rancangan KUHP 1991/1992 dinyatakan&lt;br /&gt;dalam pasal 51, adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1. Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum&lt;br /&gt;demi pengayoman masyarakat&lt;br /&gt;2. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga&lt;br /&gt;menjadikannya orang yang baik dan berguna.&lt;br /&gt;3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan&lt;br /&gt;keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana.&lt;br /&gt;keseluruhan teori pemidanaan baik yang bersifat prevensi umum dan prevensi&lt;br /&gt;khusus, pandangan perlindungan masyarakat, teori kemanfaatan, teori&lt;br /&gt;keseimbangan yang bersumber pada pandangan adat bangsa Indonesia maupun&lt;br /&gt;teori resosialisasi sudah tercakup didalamnya.&lt;br /&gt;Menurut Muladi dalam perangkat tujuan pemidanaan tersebut harus tercakup dua&lt;br /&gt;hal, yaitu pertama harus sedikit banyak menampung aspirasi masyarakat yang&lt;br /&gt;menuntut pembalasan sebagai pengimbangan atas dasar tingkat kesalahan si pelaku&lt;br /&gt;dan yang kedua harus tercakup tujuan pemidanaan berupa memelihara solidaritas&lt;br /&gt;masyarakat, pemidanaan harus diarahkan untuk memelihara dan mempertahankan&lt;br /&gt;kesatuan masyarakat.&lt;br /&gt;Pidana Mati Dalam Hukum Adat dan Hukum Islam&lt;br /&gt;Pidana mati sudah dikenal oleh hampir semua suku di Indonesia. Berbagai&lt;br /&gt;macam delik yang dilakukan diancam dengan pidana mati. Cara melaksanakan&lt;br /&gt;pidana mati juga bermacam- macam; ditusuk dengan keris, ditenggelamkan,&lt;br /&gt;dijemur dibawah matahari hingga mati, ditumbuk kepalanya dengan alu dan lainlain.&lt;br /&gt;Di Aceh seorang istri yang berzinah dibunuh. Di Batak, jika pembunuh tidak&lt;br /&gt;membayar yang salah dan keluarga dari yang terbunuh menyerahkan untuk pidana&lt;br /&gt;mati, maka pidana mati segera dilaksanakan. Demikian pula bila seseorang&lt;br /&gt;melanggar perintah perkawinan yang eksogami.&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 3&lt;br /&gt;Kalau di Minangkabau menurut pendapat konservatif dari Datuk&lt;br /&gt;Ketemanggungan dikenal hukum membalas, siapa yang mencurahkan darah juga&lt;br /&gt;dicurahkan darahnya. Sedangkan di Cirebon penculik-penculik atau perampok wanita&lt;br /&gt;apakah penduduk asli atau asing yang menculik atau menggadaikan pada orang&lt;br /&gt;Cirebon dianggap kejahatan yang dapat dipidana mati. Di Bali pidana mati juga&lt;br /&gt;diancamkan bagi pelaku kawin sumban Dikalangan suku dari Tenggara Kalimantan&lt;br /&gt;orang yang bersumpah palsu dipidana mati dengan jalan ditenggelamkan. Di&lt;br /&gt;Sulawesi Selatan pemberontakan terhadap pemerintah kalau yang bersalah tak mau&lt;br /&gt;pergi ke tempat pembuangannya, maka ia boleh dibunuh oleh setiap orang.&lt;br /&gt;Di Sulawesi Tengah seorang wanita kabisenya yaitu seorang wanita yang&lt;br /&gt;berhubungan dengan seorang pria batua yaitu budak, maka tanpa melihat proses&lt;br /&gt;dipidana mati. Di Kepulauan Aru orang yang membawa dengan senjata mukah, kalau&lt;br /&gt;ia tak dapat membayar denda ia dipidana mati.&lt;br /&gt;Di Pulau Bonerate, pencuri-pencuri dipidana mati dengan jalan tidak diberi&lt;br /&gt;makan, pencuri itu diikat kaki tangannya kemudian ditidurkan di bawah matahari&lt;br /&gt;hingga mati. Di Nias bila dalam tempo tiga hari belum memberikan uang sebagai&lt;br /&gt;harga darah pada keluarga korban, maka pidana mati diterapkan.&lt;br /&gt;Di pulau Timor, tiap-tiap kerugian dari kesehatan atau milik orang harus&lt;br /&gt;dibayar atau dibalaskan. Balasan itu dapat berupa pidana mati. Sedangkan di&lt;br /&gt;lampung terdapat beberapa delik yang diancamkan dengan pidana mati yaitu&lt;br /&gt;pembunuhan, delik salah putih (zinah antara bapak atau ibu dengan anaknya atau&lt;br /&gt;antara mertua dengan menantu dsb) dan berzinah dengan istri orang lain. Dengan&lt;br /&gt;melihat uraian diatas dapat disimpulkan bahwa suku-suku bangsa Indonesa telah&lt;br /&gt;mengenal pidana mati jauh sebelum bangsa Belanda datang. Jadi bukan bangsa&lt;br /&gt;Belanda dengan WvS-nya yang memperkenalkan pidana mati itu pada bangsa&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;Ancaman pidana mati juga dikenal dalam hukum Islam yang dikenal dengan&lt;br /&gt;nama Qishash. Pandangan Islam terhadap pidana mati tercantum dalam Surat AIBaQarah&lt;br /&gt;ayat 178 dan 179, yang terjemahannya sebagai berikut.&lt;br /&gt;Ayat 178: "Hai orang- orang yang beriman, diwajibkan atasmu Qishash&lt;br /&gt;berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan&lt;br /&gt;orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, wanita dengan&lt;br /&gt;wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudara&lt;br /&gt;terbunuh, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik,&lt;br /&gt;dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar diyah kepada pihak yang&lt;br /&gt;memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah satu&lt;br /&gt;keringanan hukuman yang telah diisyarakatkan Tuhanmu, sementara&lt;br /&gt;untukmu adalah menjadi rahmat pula. Siapa yang melanggar sesudah itu&lt;br /&gt;akan memperoleh siksa yang pedih."&lt;br /&gt;Ayat 179 : “ Dalam hukum Qishash itu ada (jaminan) kelangsungan hidup, hai&lt;br /&gt;orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa".&lt;br /&gt;Oishash dalam hukum Islam adalah hukuman bunuh yang harus dilaksanakan&lt;br /&gt;terhadap diri seseorang yang telah melakukan pembunuhan. Tapi hukum ini tak&lt;br /&gt;harus dilaksanakan, dengan kata lain hukum ini dapat gugur manakala ahli waris&lt;br /&gt;yang terbunuh memberi maaf kepada pihak yang membunuh dengan membayar&lt;br /&gt;suatu diyah. Diyah adalah hukuman denda yang disetujui oleh kedua belah pihak&lt;br /&gt;atau yang ditentukan oleh hakim, apabila ahli waris yang terbunuh memaafkan si&lt;br /&gt;pembunuh dari hukuman Qishash.&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 4&lt;br /&gt;Pidana Mati Dalam Perundang-undangan di Indonesia&lt;br /&gt;Roeslan Saleh dalam bukunya Stelsel Pidana Indonesia mengatakan bahwa&lt;br /&gt;KUHP Indonesia membatasi kemungkinan dijatuhkannya pidana mati atas beberapa&lt;br /&gt;kejahatan yang berat-berat saja. Yang dimaksudkan dengan kejahatan-kejahatan&lt;br /&gt;yang berat itu adalah :&lt;br /&gt;1. Pasal104 (makar terhadap presiden dan wakil presiden)&lt;br /&gt;2. Pasal 111 ayat 2 (membujuk negara asing untuk bermusuhan atau berperang, jika&lt;br /&gt;permusuhan itu dilakukan atau jadi perang)&lt;br /&gt;3. Pasal 124 ayat 3 (membantu musuh waktu perang)&lt;br /&gt;4. Pasal 140 aY3t 3 (makar terhadap raja atau kepala negara-negara sahabat yang&lt;br /&gt;direncanakan dan berakibat maut)&lt;br /&gt;5. Pasal 340 (pembunuhan berencana)&lt;br /&gt;6. Pasal 365 ayat 4 (pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan luka berat&lt;br /&gt;atau mati)&lt;br /&gt;7. Pasal 368 ayat 2 (pemerasan dengan kekerasan yang mengakibatkan luka berat&lt;br /&gt;atau mati)&lt;br /&gt;8. Pasal444 (pembajakan di laut, pesisirdan sungai yang mengakibatkan kematian).&lt;br /&gt;Beberapa peraturan di luar KUHP juga mengancamkan pidana mati bagi&lt;br /&gt;pelanggarnya.&lt;br /&gt;Peraturan-peraturan itu antara lain:&lt;br /&gt;1. Pasal 2 Undang-Undang No.5 (PNPS) Tahun 1959 tentang wewenang Jaksa&lt;br /&gt;Agung/Jaksa Tentara Agung dan tentang memperberat ancaman hukuman&lt;br /&gt;terhadap tindak pidana yang membahayakan pelaksanaan perlengkapan sandang&lt;br /&gt;pangan.&lt;br /&gt;2. Pasal 2 Undang-Undang No. 21 (Prp) Tahun 1959 tentang memperberat ancaman&lt;br /&gt;hukuman terhadap tindak pidana ekonomi.&lt;br /&gt;3. Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat No. 12 tahun 1951 tentang senjata api,&lt;br /&gt;amunisi atau sesuatu bahan peledak.&lt;br /&gt;4. Pasal13 Undang-Undang No. 11 (PNPS) Tahun 1963 tentang pemberantasan&lt;br /&gt;kegiatan subversi. Pasal 23 Undang-Undang no. 31 T ahun 1964 tentang&lt;br /&gt;ketentuan pokok tenaga atom.&lt;br /&gt;6. Pasal 36 ayat 4 sub b Undang-Undang no. 9 tahun 1976 tentang Narkotika&lt;br /&gt;7. Undang-Undang No.4 Tahun 1976 tentang kejahatan penerbangan dan kejahatan&lt;br /&gt;terhadap sarana/prasarana penerbangan.&lt;br /&gt;Pidana Mati dalam Rancangan KUHP&lt;br /&gt;Dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Semarang tahun 1990&lt;br /&gt;Muladi menyatakan bahwa hukum pidana tidak boleh hanya berorientasi pada&lt;br /&gt;perbuatan manusia saja (daadstrafrecht), sebab dengan demikian hukum pidana&lt;br /&gt;menjadi tidak manusiawi dan mengutamakan pembalasan. Pidana hanya&lt;br /&gt;diorientasikan pada pemenuhan unsur tindak pidana didalam perundang- undangan.&lt;br /&gt;Hukum pidana juga tidak benar apabila hanya memperhatikan si pelaku saja&lt;br /&gt;(daderstrafrecht}, sebab dengan demikian penerapan hukum pidana akan berkesan&lt;br /&gt;memanjakan penjahat dan kurang memperhatikan kepentingan yang luas, yaitu&lt;br /&gt;kepentingan masyarakat,kepentingan negara ,dan kepentingan korban tindak&lt;br /&gt;pidana.&lt;br /&gt;Dengan demikian maka yang paling tepat secara integral hukum pidana harus&lt;br /&gt;melindungi pelbagai kepentingan diatas, sehingga hukum pidana yg dianut harus&lt;br /&gt;daad-daderstafrecht . Gambaran tentang penerapan teori integratif dalam&lt;br /&gt;pemidanaan nampak dari pemahaman Tim Perancang KUHP Nasional dalam&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 5&lt;br /&gt;merumuskan pidana mati dalam konsep KUHP baru. Dari pengalaman empiris&lt;br /&gt;sampai saat ini terbukti bahwa, Indonesia termasuk kelompok retensionis terhadap&lt;br /&gt;pidana mati, de jure dan de facto. Masalahnya adalah bagaimana caranya menjaga&lt;br /&gt;keseimbangan perasaan antara kaum retensionis dan kaum abolisionis di kalangan&lt;br /&gt;masyarakat yang di Indonesia yang masing -masing jumlahnya sangat banyak.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan kenyataan diatas, konsep rancangan KUHP&lt;br /&gt;mengeluarkan pidana mati dari stelsel pidana pokok dan mencantumkannya sebagai&lt;br /&gt;pidana pokok yang bersifat khusus atau sebagai pidana eksepsional. Penempatan&lt;br /&gt;pidana mati terlepas dari paket pidana pokok dipandang penting, karena merupakan&lt;br /&gt;kompromi dari pandangan retensionis dan abolisionis.&lt;br /&gt;Dalam konsep Rancangan KUHP 1991/1992 terdapat beberapa macam tindak&lt;br /&gt;pidana yang diancam dengan pidana mati, antara lain:&lt;br /&gt;1. Pasal 164 tentang menentang ideologi negara Pancasila : Barang siapa secara&lt;br /&gt;melawan hukum dimuka umum melakukan perbuatan menentang ideologi&lt;br /&gt;negera Pancasila atau Undang-Undang Dasar 1945 dengan maksud mengubah&lt;br /&gt;bentuk negara atau susunan pemerintahan sehingga berakibat terjadinya&lt;br /&gt;keonaran dalam masyarakat, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara&lt;br /&gt;seumur hidup atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun dan paling&lt;br /&gt;rendah lima tahun.&lt;br /&gt;2. Pasal167 tentang makar untuk membunuh presiden dan wakil presiden&lt;br /&gt;3. Pasal186 tentang pemberian bantuan kepada musuh.&lt;br /&gt;4. Pasal 269 tentang terorisme :&lt;br /&gt;Ayat 1 : Dipidana karena melakukan terorisme, dengan pidana penjara paling lama&lt;br /&gt;lima belas tahun dan paling rendah tiga tahun, barangsiapa menggunakan&lt;br /&gt;kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap target-target sipil dengan&lt;br /&gt;maksud menimbulkan suatu suasana teror atau ketakutan yang besar dan&lt;br /&gt;mengadakan intimidasi Pada masyarakat, dengan tujuan akhir melakukan&lt;br /&gt;perubahan dalam sistem politik yang berlaku.&lt;br /&gt;Ayat 2 : Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling&lt;br /&gt;lama dua puluh tahun dan paling rendah lima tahun, jika perbuatan terorisme&lt;br /&gt;tersebut menimbulkan bahaya bagi nyawa orang lain.&lt;br /&gt;Ayat 3 : Dipidana pidana mati atau pidana penjara paling lama duapuluh tahun dan&lt;br /&gt;paling rendah lima tahun, jika perbuatan terorisme tersebut menimbulkan&lt;br /&gt;bahaya bagi nyawa orang lain dan mengakibatkan matinya orang.&lt;br /&gt;Sedangkan tindak pidana pembunuhan berencana ditiadakan. Menurut&lt;br /&gt;penjelasan konsep Rancangan KUHP 1991/1992 hal ini memberi kebebasan kepada&lt;br /&gt;hakim dalam rangka mempertimbangkan ada tidaknya unsur berencana yang&lt;br /&gt;acapkali sulit dibuktikan.Dengan demikian hakim akan lebih mengutamakan untuk&lt;br /&gt;mempertimbangkan motif, cara, sarana atau upaya membunuh dan akibat serta&lt;br /&gt;dampaknya suatu pembunuhan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Beberapa Pandangan Tentang Pidana Mati&lt;br /&gt;Pidana mati sebagai salah satu jenis pidana yang paling kontroversial selalu&lt;br /&gt;mendapat sorotan dari berbagai kalangan di seluruh dunia. Bermacam-macam&lt;br /&gt;pendapat dan alasan dikemukakan untuk mendukung dan menentang pidana mati.&lt;br /&gt;Di Indonesia yang berlaku KUHP buatan pemerintah Belanda sejak 1&lt;br /&gt;Januari 1918, dalam pasal 10 masih mencantumkan pidana mati dalam pidana&lt;br /&gt;pokoknya, padahal di Belanda sendiri pidana mati sudah dihapuskan Pada tahun&lt;br /&gt;1870. Hal tersebut tak diikuti di Indonesia karena keadaan khusus di Indonesia&lt;br /&gt;menuntut supaya penjahat yang terbesar dapat dilawan dengan pidana mati.&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 6&lt;br /&gt;De Bussy membela adanya pidana mati di Indonesia dengan mengatakan&lt;br /&gt;bahwa di Indonesia terdapat suatu keadaan yang khusus. Bahaya terhadap&lt;br /&gt;gangguan yang sangat terhadap ketertiban hukum di Indonesia adalah lebih besar.&lt;br /&gt;Jonkers membela pidana mati dengan alasan bahwa walaupun ada&lt;br /&gt;keberatan terhadap pidana mati yang seringkali dajukan adalah bahwa pidana mati&lt;br /&gt;itu tak dapat ditarik kembali, apabila sudah dilaksanakan dan diakui bahwa ada&lt;br /&gt;kekhilafan atau kekeliruan dalam putusan hakim, lalu tak dapat diadakan pemulihan&lt;br /&gt;hak yang sesungguhnya. Terhadap orang mati ketidakadilan yang dialaminya tidak&lt;br /&gt;dapat diperbaiki lagi.&lt;br /&gt;Hazewinkel-Suringa mengemukakan bahwa pidana mati adalah suatu&lt;br /&gt;alat pembersih radikal yang pada setiap masa revolusioner kita dapat&lt;br /&gt;menggunakannya.&lt;br /&gt;Bichon van Tselmonde menyatakan : saya masih selalu berkeyakinan,&lt;br /&gt;bahwa ancaman dan pelaksanaan pidana mati harus ada dalam tiap-tiap negara dan&lt;br /&gt;masyarakat yang teratur, baik ditinjau dari sudut keputusan hakum maupun dari&lt;br /&gt;sudut tidak dapat ditiadakannya, kedua-duanya jure divino humano. Pedang pidana&lt;br /&gt;seperti juga pedang harus ada pada negara. Hak dan kewajiban ini tak dapat&lt;br /&gt;diserahkan begitu saja. Tapi haruslah dipertahankannya dan juga digunakannya.&lt;br /&gt;Lombrosso dan Garofalo juga termasuk yang mendukung pidana mati.&lt;br /&gt;Mereka berpendapat bahwa pidana mati adalah alat mutlak yang harus ada pada&lt;br /&gt;masyarakat untuk melenyapkan individu yang tak mung kini dapat diperbaiki lagi.&lt;br /&gt;Para sarjana hokum di Indonesia juga ada yang mendukung pidana mati.&lt;br /&gt;Diantaranya adalah Bismar Siregar yang menghendaki tetap dipertahankannya&lt;br /&gt;pidana mati dengan maksud untuk menjaga sewaktu-waktu kita membutuhkan&lt;br /&gt;masih tersedia. Sebab beliau menilai kalau seseorang penjahat sudah terlalu keji&lt;br /&gt;tanpa perikemanusiaan , pidana apa lagi yang mesti dijatuhkan kalau bukan pidana&lt;br /&gt;mati. Sedangkan Oemar Seno Adji menyatakan bahwa selama negara kita masih&lt;br /&gt;meneguhkan diri, masih bergulat dengan kehidupan sendiri yang terancam oleh&lt;br /&gt;bahaya, selama tata tertib masyarakat dikacaukan dan dibahayakan oleh anasiranasir&lt;br /&gt;yang tidak mengenal perikemanusiaan, ia masih memerlukan pidana mati.&lt;br /&gt;Hartawi AM memandang ancaman dan pelaksanaan pidana mati sebagai&lt;br /&gt;suatu social defence. Pidana mati adalah suatu pertahanan sosial untuk&lt;br /&gt;menghindarkan masyarakat umum dari bencana dan bahaya ataupun ancaman&lt;br /&gt;kejahatan besar yang mungkin terjadi yang akan menimpa masyarakat, yang telah&lt;br /&gt;atau akan mengakibatkan kesengsaraan dan mengganggui ketertiban serta&lt;br /&gt;keamanan rakyat umum, dalam pergaulan manusia bermasyarakat dan bergama.&lt;br /&gt;Adanya bahaya-bahaya dan kejahatan-kejahatan besar yang menimpa dan&lt;br /&gt;mengancam kehidupan masyarakat, memberikan hak pada masyarakat sebagai&lt;br /&gt;kesatuan untuk menghindarkan dan pembelaan terhadap kejahatan dengan&lt;br /&gt;memakai senjata, salah satunya adalah pidana mati.&lt;br /&gt;Bila pidana mati mendapat dukungan dari berbagai kalangan yang ingin&lt;br /&gt;tetap mempertahankannya, maka ia juga mendapat penentang yang semakin hari&lt;br /&gt;semakin banyak jumlahnya. Yang dianggap sebagai pelopor dari gerakan anti pidana&lt;br /&gt;mati ini adalah Beccaria dengan karangannya yang terkenal Dei Delitti E Delle Pene&lt;br /&gt;(1764). Yang menyebabkan Beccaria menentang pidana mati ialah proses yang&lt;br /&gt;dijalankan dengan cara yang amat buruk terhadap Jean Callas yang dituduh telah&lt;br /&gt;membunuh anaknya sendiri. Hakim menjatuhkan pidana mati. tapi Voltaire&lt;br /&gt;kemudian dapat membuktikan bahwa Jean Callas tidak bersalah sehingga namanya&lt;br /&gt;direhabilitasi. Walaupun demikian ia telah mati tanpa salah, akibat pidana mati yang&lt;br /&gt;diperkenankan pada waktu itu.&lt;br /&gt;Beccaria menunjukkan adanya pertentangan antara pidana mati dan&lt;br /&gt;pandangan negara sesuai dengan doktrin Contra Social. Karena hidup adalah sesuatu&lt;br /&gt;yang tak dapat dihilangkan secara legal dan membunuh adalah tercela, karena&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 7&lt;br /&gt;pembunuhan yang manapun juga yang mengijinkan untuk pidana mati adalah&lt;br /&gt;immoral dan makanya tidak sah.&lt;br /&gt;Van Bemmelen menyatakan bahwa pidana mati menurunkan wibawa&lt;br /&gt;pemerintah, pemerintah mengakui ketidakmampuan dan kelemahnnya.&lt;br /&gt;Menurut Roling, pidana mati justru mempunyai daya destruktif, yaitu bila&lt;br /&gt;negara tidak menghormati nyawa manusia dan menganggap tepat untuk dengan&lt;br /&gt;tenang melenyapkan nyawa seseorang, maka ada kemungkinan besar dan akan&lt;br /&gt;berkurang pulalah hormat orang pada nyawa manusia. Disamping itu adalagi suatu&lt;br /&gt;bahaya, yaitu bahwa perbuatan membunuh oleh negara itu akan memancing suatu&lt;br /&gt;penyusulan pula terhadapnya.&lt;br /&gt;Ernest Bowen Rowlands berpendapat bahwa pidana mati tidak dapat&lt;br /&gt;diperbaiki kalau seorang hakim telah keliru dan pidana mati telah dilaksanakan, tak&lt;br /&gt;pernah kehidupan dikembalikan pada yang dipidana mati.&lt;br /&gt;Von Hentig menyatakan bahwa pengaruh yang kriminogen pidana mati&lt;br /&gt;itu terutama sekali disebabkan karena telah memberikan suatu contoh yang jelek&lt;br /&gt;dengan pidana mati tersebut. Sebenarnya negara yang berkewajiban&lt;br /&gt;mempertahankan nyawa manusia dalam keadaan apapun. la menambahkan bahwa&lt;br /&gt;dengan menahan seseorang dalam penjara, kita mengadakan suatu eksperimen&lt;br /&gt;yang sangat berharga. Hal ini tak mungkin ditemukan pada pidana mati.&lt;br /&gt;Is Cassutto menyatakan bahwa pada pidana mati ditemui kesukarankesukaran&lt;br /&gt;yang serius, pertama-tama terbentur pada kemungkinan terjadinya&lt;br /&gt;kekhilafan yang tak mungkin dapat diperbaiki.&lt;br /&gt;Damstee menyatakan bahwa "saya tak merasa perlu pidana mati, saya tak&lt;br /&gt;percaya kegunaannya, malah saya percaya keburukannya. Dan kalau pemerintah&lt;br /&gt;melalui pembunuhan. maka ia merendahkan kewibawaannya terhadap rakyat pada&lt;br /&gt;siapa dianjurkan janganlah engkau membunuh. Dengan membunuh ia&lt;br /&gt;membangunkan naluri yang jahat. Suatu masyarakat yang mengagung-agungkan&lt;br /&gt;pidana mati dikecam bahwa disini masih ada orang-orang biadab dan anggotaanggota&lt;br /&gt;masyarakat itu tak akan meninggalkan sifat-sifat biadabnya."&lt;br /&gt;leo Polak beranggapan bahwa pidana mati setelah dilaksanakan tidak&lt;br /&gt;membawa nestapa yang harus diderita oleh penjahat karena ia sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;Jadi pidana mati sama bukan pidana, bahkan bukan juga suatu pidana yang ringan.&lt;br /&gt;leo Polak berpendapat pidana mati itu tidak adil, pelaksanaan pidana mati itu&lt;br /&gt;dianggap sebagai suatu dosa kekeliruan besar dalam penetapan pembalasan yang&lt;br /&gt;adil.&lt;br /&gt;Diantara sarjana hukum Indonesia yang menentang adanya pidana mati&lt;br /&gt;adalah Roeslan Menurut beliau bagi kita penjara seumur hidup dan lain-lainnya&lt;br /&gt;pidana yang merupakan perampasan dan pembatasan atas kemerdekaan dan harta&lt;br /&gt;kekayaan seseorang sajalah yang dipandang sebagai pidana. Selanjutnya beliau&lt;br /&gt;menyatakan bahwa karena orang semakin tahu betapa buruknya pidana mati itu,&lt;br /&gt;sehingga bertrurut-turut banyak negara beradab yang menghapuskannya.&lt;br /&gt;Ing Dei Tjo lam menyatakan bahwa tujuan pidana adalah memperbaiki&lt;br /&gt;individu yang melakukan tindak pidana disamping melindungi masyarakat. Jadi nyata&lt;br /&gt;bahwa dengan adanya pidana mati bertentangan dengan salah satu tujuan pidana&lt;br /&gt;yang disebutkan tadi.&lt;br /&gt;J.E Sahetapy juga dianggap sebagai penentang pidana mati, walaupun&lt;br /&gt;terbatas hanya mengenai pembunuhan berencana. Dalam desertasinya yang&lt;br /&gt;berjudul Suatu Studi Khusus mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap&lt;br /&gt;Pembunuhan Berencana, beliau memberikan hipotesa :&lt;br /&gt;1. Acaman pidana mati dalam pasal 340 KUHP dewasa ini dalam praktek merupakan&lt;br /&gt;suatu ketentuan abolisi de facto&lt;br /&gt;©2003 Digitized by USU digital library 8&lt;br /&gt;2.Acaman pidana mati dalam pasal 340 KUHP tidak akan mengenai sasarannya&lt;br /&gt;selama ada berapa faktor seperti lembaga banding, lembaga kasasi, lembaga&lt;br /&gt;grasi, kebebasan hakim dan "shame culture"&lt;br /&gt;3. Dari segi kriminologi sangat diragukan manfaat pidana mati.&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dunia internasional juga menunjukkan perhatian terhadap ancaman pidana&lt;br /&gt;mati ini. Pada tahun 1987 di Syracuse, Italia telah dilakukan suatu Konferensi&lt;br /&gt;Internasional tentang pidana mati. Dalam konferensi tersebut antara lain dibahas&lt;br /&gt;tentang pelbagai pengaturan pidana mati diperlbagai negara di dunia. Gambaran&lt;br /&gt;tentang hal ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Negara yang sama sekali menghapuskan pidana mati 32&lt;br /&gt;b. Negara yang mengancamkan pidana mati hanya untuk kejahatankejahatan&lt;br /&gt;tertentu dalam keadaan dibawah hukum militer atau&lt;br /&gt;karena kondisi negara) 18&lt;br /&gt;c. Negara yang termasuk kelompokabolisionis de facto 16&lt;br /&gt;d. Negara yang termasuk kelompok retensionis termasuk Indonesia) 110&lt;br /&gt;Masalah pidana mati didunia, termasuk di Indonesia, adalah&lt;br /&gt;merupakan realitas, yang keberadaannya tidak terlepas dari nilai-nilai sosial&lt;br /&gt;budaya masing-masing bangsa dan dari sejarah bangsa tersebut.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Andi Hamzah dan A. Sumangelipu, Pidana Mati di Indonesia di Masa lain, Kini&lt;br /&gt;dan di Masa Depan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985.&lt;br /&gt;E. Utrecht Hukum Pidana I, Penerbitan Universitas, Bandung, 1968.&lt;br /&gt;J.E. Sahetapy, Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap&lt;br /&gt;Pembunuhan Berencana, CV Rajawali, Jakarta, 1982.&lt;br /&gt;Djoko Prakoso dan Nurwachid, Studi Tentang Pendapat-Pendapat Mengenai&lt;br /&gt;Efektivitas Pidana Mati di Indonesia Dewasa Ini, Ghalia Indonesia,&lt;br /&gt;Jakarta, 1985.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;muladi, Proyeksi Hukum Pidana Materil lndonesia di Masa Datang, Pidato&lt;br /&gt;Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Semarang, 1990.&lt;br /&gt;Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1977.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-4803428350386798469?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/4803428350386798469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/pidana-mati-menurut-hukum-pidana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4803428350386798469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4803428350386798469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/02/pidana-mati-menurut-hukum-pidana.html' title='PIDANA MATI MENURUT HUKUM PIDANA INDONESIA'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-4504711517223143809</id><published>2010-01-29T11:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T12:18:20.665-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>kekerasan dalam rumah tangga</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="icon" style="text-align: center;" width="24"&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td class="cattitle" style="text-align: center;"&gt;PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN MELALUI                    UNDANG-UNDANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA:&lt;/td&gt;                 &lt;td class="itemsubsub"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div author="tholous" author_possessive="tholous'" class="bodytext" id="item_body" is_pmrepliable="1"&gt;&lt;div align="center" style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Analisa               Perbandingan antara Indonesia dan India&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="color: black; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kekerasan Dalam Rumah Tangga  (KDRT) telah              menjadi agenda bersama dalam beberapa dekade terakhir. Fakta               menunjukan bahwa KDRT memberikan efek negatif yang cukup  besar bagi              wanita sebagai korban.&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_5"&gt;[1]&lt;/span&gt; &lt;i&gt;World Health Organization              (WHO)&lt;/i&gt; dalam &lt;i&gt;World Report&lt;/i&gt; pertamanya mengenai              “Kekerasan dan Kesehatan” di tahun 2002, menemukan bahwa  antara 40              hingga 70 persen perempuan yang meninggal karena pembunuhan,  umumnya              dilakukan oleh mantan atau pasangannya sendiri.&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_6"&gt;[2]&lt;/span&gt; Laporan Khusus dari PBB mengenai              Kekerasan Terhadap Perempuan telah mendefinisikan KDRT dalam  bingkai              jender sebagai ”kekerasan yang dilakukan di dalam lingkup  rumah              tangga dengan target utama terhadap perempuan dikarenakan  peranannya              dalam lingkup tersebut; atau kekerasan yang dimaksudkan  untuk              memberikan akibat langsung dan negatif pada perempuan dalam  lingkup              rumah tangga.” &lt;a href="http://hukumindo2.blogspot.com/" name="_ftnref3" rel="nofollow" target="_blank" title=""&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_7"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Signifikansi menggunakan  jender sebagai              basis analisa dalam permasalahan ini yaitu untuk mendorong              terjadinya perubahan paradigma terhadap KDRT dengan  obeservasi              sebagai berikut, “Daripada menanyakan kenapa pihak pria  memukul,              terdapat tendensi untuk bertanya kenapa pihak perempuan  berdiam              diri” &lt;a href="http://hukumindo2.blogspot.com/" name="_ftnref4" rel="nofollow" target="_blank" title=""&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_8"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Kunci utama untuk memahami KDRT dari perspektif              jender adalah untuk memberikan apresiasi bahwa akar masalah  dari              kekerasan tersebut terletak pada kekuasaan hubungan yang  tidak              seimbang antara pria dan perempuan yang terjadi pada  masyarakat yang              didominasi oleh pria. Sebagaimana disampaikan oleh Sally E.  Merry,              &lt;i&gt;“Kekerasan adalah… suatu tanda dari perjuangan untuk  memelihara              beberapa fantasi dari identitas dan kekuasaan. Kekerasan  muncul,              dalam analisa tersebut, sebagai sensitifitas jender dan  jenis              kelamin”.&lt;/i&gt; &lt;a href="http://hukumindo2.blogspot.com/" name="_ftnref5" rel="nofollow" target="_blank" title=""&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_9"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekerasan Dalam Rumah              Tangga (KDRT) yang dilakukan khususnya terhadap perempuan  oleh              pasangannya maupun anggota keluarga dekatnya, terkadang juga  menjadi              permasalahan yang tidak pernah diangkat ke permukaan.  Meskipun              kesadaran terhadap pengalaman kekerasan terhadap wanita  berlangsung              setiap saat, fenomena KDRT terhadap perempuan diidentikkan  dengan              sifat permasalahan ruang privat. Dari perspektif tersebut,  kekerasan              seperti terlihat sebagai suatu tanggung jawab pribadi dan  perempuan              diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab baik itu  untuk              memperbaiki situasi yang sebenarnya didikte oleh norma-norma  sosial              atau mengembangkan metode yang dapat diterima dari  penderitaan yang              tak terlihat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemahaman dasar terhadap KDRT sebagai  isu              pribadi telah membatasi luasnya solusi hukum untuk secara  aktif              mengatasi masalah tersebut. Di sebagian besar masyarakat,  KDRT belum              diterima sebagai suatu bentuk kejahatan. Bagaimanapun juga,  sebagai              suatu hasil advokasi kaum feminis dalam lingkup HAM  internasional,              tanggung jawab sosial terhadap KDRT secara bertahap telah  diakui              sebagian besar negara di dunia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekerasan dalam  rumah tangga              seringkali menggunakan paksaan yang kasar untuk menciptakan  hubungan              kekuasaan di dalam keluarga, di mana perempuan diajarkan dan               dikondisikan untuk menerima status yang rendah terhadap  dirinya              sendiri. KDRT seakan-akan menunjukkan bahwa perempuan lebih  baik              hidup di bawah belas kasih pria. Hal ini juga membuat pria,  dengan              harga diri yang rendah, menghancurkan perasaan perempuan dan               martabatnya karena mereka merasa tidak mampu untuk mengatasi  seorang              perempuan yang dapat berpikir dan bertindak sebagai manusia  yang              bebas dengan pemikiran dirinya sendiri. Sebagaimana  pemerkosaan,              pemukulan terhadap istri menjadi hal umum dan menjadi suatu  keadaan              yang serba sulit bagi perempuan di setiap bangsa, kasta,  kelas,              agama maupun wilayah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada tingkat internasional,  kekerasan              terhadap perempuan telah dilihat sebagai suatu bingkai  kejahatan              terhadap hak dan kebebasan dasar perempuan serta perusakan  dan              pencabutan kebebasan mereka terhadap hak-hak yang melekat  pada              dirinya. Hal ini menjadi sebuah tantangan dalam pencapaian  persamaan              hak, pengembangan dan kedamaian yang diakui dalam &lt;i&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_10" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Nairobi&lt;/span&gt;              Forward-looking Strategis for the Advancement of Women&lt;/i&gt;&lt;a href="http://hukumindo2.blogspot.com/" name="_ftnref6" rel="nofollow" target="_blank" title=""&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_11"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang merekomendasikan satu              perangkat tindakan untuk memerangi kekerasan terhadap  perempuan.              Rekomendasi tersebut dibebankan kepada Pemerintah sebagai  kewajiban              hukum dan moral untuk menghilangkan KDRT melalui kombinasi  berbagai              langkah serius. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KDRT merupakan permasalahan yang  telah              mengakar sangat dalam dan terjadi di seluruh negara dunia.  Dalam hal              ini, masyarakat internasional telah menciptakan standar  hukum yang              efektif dan khusus memberikan perhatian terhadap KDRT.  Tindakan              untuk memukul perempuan, misalnya, telah dimasukan di dalam  konvensi              HAM internasional maupun regional yang mempunyai sifat hukum               mengikat terhadap negara yang telah meratifikasinya. Dokumen  HAM              Internasional tersebut meliputi, &lt;i&gt;Universal Declaration  of Human              Rights&lt;/i&gt; (“UDHR”), the &lt;i&gt;International Covenant on  Civil and              Political Rights&lt;/i&gt; (“ICCPR”), dan the &lt;i&gt;International  Covenant              on Economic, Social and Cultural Rights&lt;/i&gt; (“ICESCR”) yang  menjadi              standar umum mengenai Hak Asasi Manusia, di mana para korban  dari              KDRT dapat menggugat negaranya masing-masing. &lt;a href="http://hukumindo2.blogspot.com/" name="_ftnref7" rel="nofollow" target="_blank" title=""&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_12"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berbagai pertistiwa              kekerasan dalam rumah tangga telah menunjukkan bahwa negara  telah              gagal untuk memberi perhatian terhadap keluhan para korban.  Maka              negara dapat dikenakan sanksi jika negara tersebut merupakan  anggota              dari instrumen internasional sebagaimana telah disebutkan              sebelumnya. Hal yang sama dapat pula dilakukan di bawah              &lt;i&gt;Convention on the Elimination of All Forms of  Discrimination              Against Women&lt;/i&gt; (“CEDAW”) beserta dengan Protokolnya, dan  juga              melalui &lt;i&gt;Convention Against Torture and Other Cruel,  Inhuman, or              Degrading Treatment or Punishment&lt;/i&gt; (“CAT”). Demikian  juga,              instrumen regional dapat memberikan perlindungan terhadap  perempuan              yang menjadi korban. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;The European Convention for  the              Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms&lt;/i&gt;  (“ECHR”),              &lt;i&gt;the American Convention on Human Rights&lt;/i&gt; (“ACHR”),  bersama              dengan the &lt;i&gt;Inter-American Convention on the Prevention,              Punishment and Eradication of Violence Against Women&lt;/i&gt;              (“&lt;i&gt;Inter-American Convention on Violence Against Women&lt;/i&gt;”),               dan the &lt;i&gt;African Charter on Human and Peoples' Rights&lt;/i&gt;               (“African Charter”) merupakan dokumen utama HAM regional  yang dapat              dijadikan landasan bagi korban KDRT. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pengaruh  negatif dari              KDRT pun beraneka ragam dan bukan hanya bersifat hubungan  keluarga,              tetapi juga terhadap anggota dalam keluarga yang ada di  dalamnya.              Dalam hal luka serius fisik dan psikologis yang langsung  diderita              oleh korban perempuan, keberlangsungan dan sifat endemis  dari KDRT              akhirnya membatasi kesempatan perempuan untuk memperoleh  persamaan              hak bidang hukum, sosial, politik dan ekonomi di  tengah-tengah              masyarakat. Terlepas dari viktimisasi perempuan, KDRT juga              mengakibatkan retaknya hubungan keluarga dan anak-anak yang  kemudian              dapat menjadi sumber masalah sosial. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekerasan di  antara              mereka yang mempunyai hubungan dekat sebagaimana telah              dideskripsikan di atas merupakan salah satu masalah utama di  &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_13" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;,              sebagaimana juga di seluruh dunia termasuk &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_14" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;India&lt;/span&gt;.              Satu pendekatan umum untuk mengatasi permasalahan ini  haruslah              dilihat dari peranan hukum. Dengan demikian, advokasi  perempuan baik              di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_15" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;               maupun di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_16" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;India&lt;/span&gt;               haruslah dengan melakukan perbaikan legslasi dan kebijakan  yang              mengkriminalisasi tindak-tindakan kekerasan dalam rumah  tangga.              &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penelitian ini memeberikan fokus pada isu  perlindungan              terhadap perempuan melalui UU KDRT di negara berkembang,  yaitu &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_17" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;              dan India. Deskripsi dan analisa perbandingan dihadirkan  untuk              memberikan solusi hukum terhadap permasalahan tersebut.  Penelitian              ini menemukan bahwa masyarakat di suatu negara memberikan  pengaruh              yang sangat besar dalam pembuatan proses UU KDRT, di mana  antara              India dan Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda  untuk              mendefinisikan apa itu KDRT. Sebagai contoh, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_18" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;India&lt;/span&gt;              menamakan UU-nya sebagai &lt;i&gt;the Protection of Women from  Domestic              Violence Act&lt;/i&gt;, 2005, sementara &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_19" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;              menyebutkannya dengan &lt;i&gt;the Elimination of Violence in  Household              Act&lt;/i&gt;, 2004. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lebih lanjut, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_20" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;India&lt;/span&gt;              mengenal “&lt;i&gt;dowry&lt;/i&gt;” dan “&lt;i&gt;sati&lt;/i&gt;” sebagai KDRT  yang              bersifat spesifik, sementara &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_21" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;              tidak mengenai kedua hal tersebut. Namun demikian, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1198745048_22" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;              memberikan definisi yang sangat luas untuk mengatasi segala  bentuk              tindakan KDRT. Akhirnya, penelitian ini mencoba untuk  memberikan              beberapa masukan dalam rangka mengatasi salah satu kekerasan  yang              sangat signifikan ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Analisa jender mendorong kita              tidak hanya menanyakan mengapa pria melakukan kekerasan,  tetapi juga              menanyakan kenapa kekerasan terhadap perempuan terjadi dan  diterima              oleh banyak masyarakat. Merestrukturisasi pertanyaan tesebut               merupakan hal penting dalam melakukan pembaharuan hukum,  khususnya              dari perspektif keadilan dan hak asasi manusia (HAM).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;feedblitz.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-4504711517223143809?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/4504711517223143809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/kekerasan-dalam-rumah-tangga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4504711517223143809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/4504711517223143809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/kekerasan-dalam-rumah-tangga.html' title='kekerasan dalam rumah tangga'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-3238526701224601774</id><published>2010-01-28T23:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T23:53:13.082-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPIKOR'/><title type='text'>RUU Tipikor Tak Cantumkan Ancaman Hukuman Mati</title><content type='html'>&lt;table class="contentpaneopen" height="51" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left; width: 659px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;RUU Tipikor Tak Cantumkan Ancaman Hukuman Mati&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;/td&gt;        &lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;    &lt;a href="javascript:void%20window.open('http://www.indonesia.go.id/id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=6651',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');" title="PDF"&gt;    &lt;img align="middle" alt="PDF" border="0" name="image" src="http://www.indonesia.go.id/id/images/M_images/pdf_button.png" /&gt;   &lt;/a&gt;    &lt;/td&gt;        &lt;td align="right" class="buttonheading" width="100%"&gt;     &lt;a href="javascript:void%20window.open('http://www.indonesia.go.id/id/index2.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=6651&amp;amp;Itemid=701&amp;amp;pop=1&amp;amp;page=0',%20'win2',%20'status=no,toolbar=no,scrollbars=yes,titlebar=no,menubar=no,resizable=yes,width=640,height=480,directories=no,location=no');" title="Print"&gt;     &lt;img align="middle" alt="Print" border="0" name="image" src="http://www.indonesia.go.id/id/images/M_images/printButton.png" /&gt;    &lt;/a&gt;     &lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;table class="contentpaneopen" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;     21-01-2008&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="createdate" colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;    &lt;div align="justify"&gt;Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi  (RUU Tipikor) yang dalam waktu dekat akan diserahkan ke DPR RI itu,  dipastikan tidak akan mencantumkan ancaman hukuman mati. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebab, jika ancaman hukuman  mati dicantumkan, akan membuka peluang bagi para koruptor yang melarikan  ke luar negeri untuk menolak diekstradisi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dekimikian dikemukakan Ketua Tim Perumus Racangan  Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Andi Hamzah dalam keterangannya  kepada sejumlah wartawan di Pusat Informasi dan Komunikasi Departemen  Hukum dan HAM, Jakarta, kemarin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Menurut  Andi, RUU Tipikor yang sudah memasuki tahap akhir ini, terdapat banyak  perubahan dibandingkan dengan UU Tipikor sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;"Rumusan delik dalam RUU Tipikor ini, diambil dari  tiga sumber. Pertama, dari United Nation Convention, Againd Corruption  (UNCAC) yang sudah diratifikasi. Seluruh rumusannya diambil dari situ  tapi tentu saja disesuaikan dengan bahasa yang kita gunakan," kata Andi  Hamzah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kedua, kata dia, rumusan  RUU itu juga diambil dari UU yang sedang berlaku saat ini meskipun tidak  seluruhnya. Menurut dia, masih ada beberapa poin yang dapat diambil dan  dimasukkan ke dalam RUU Tipikor ini. "Ketiga, tumusan RUU Tipikor ini  juga mengambil dari UU Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap.  Dari sini juga diambil secara keseluruhan," katanya menambahkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dengan demikian, ia mengatakan, jika UU Tipikor  ini kemudian disetujui oleh DPR dan disahkan menjadi UU, dengan  sendirinya undang-undang yang berlaku sekarang, yakni UU Nomor 31 Tahun  1999, UU Nomor 11 Tahun 1980, dan UU Nomor 19 Tahun 1999, dicabut.  "Kenapa dicabut, karena semuanya sudah" menjadi satu dalam UU Tipikor  yang baru," katanya lebih lanjut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aset  Koruptor Ia juga mengatakan, perbedaan yang paling mendasar antara RUU  Tipikor dengan UU serupa sebelumnya, yaitu menyangkut mekanisme  penyitaan aset-aset milik koruptor. Misalnya, ia mencontohkan, koruptor  yang melarikan diri ke luar negeri dengan meninggalkan asetnya  Indonesia, maka asetnya bisa disita oleh negara.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;"Begitu juga dengan peningkatan harta kekayaan pribadi  yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, maka negara juga dapat  menyitanya," katanya menambahkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dalam  RUU Tipikor ini, kata dia, juga akan melakukan tindakan terhadap  pejabat yang menyalahgunakan anggaran non bujeter. Menurut dia, jika  penggunaan anggaran nonbujeter itu tidak dilakukan sesuai posnya, maka  orang yang menggunakan uang itu akan ditindak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;"Yang jelas, secara keseluruhan RUU Tipikor ini  tinggal proses tahap akhir. Kalau ibarat kendaraan, mungkin RUU Tipikor  ini tinggal jalan. Mesinnya sudah jalan, catnya sudah mengkilat, beritu  juga akesorisnya sudah terpasang. Ya, pokoknya tingga sekali lagi kita  mengadakan rapat, RUU Tipikor ini akan diserahkan kepada DPR, dan  mudah-mudahan diterima," katanya lebih lanjut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sumber : Suara Karya, 18 Januari 2008&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-3238526701224601774?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/3238526701224601774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/ruu-tipikor-tak-cantumkan-ancaman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3238526701224601774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3238526701224601774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/ruu-tipikor-tak-cantumkan-ancaman.html' title='RUU Tipikor Tak Cantumkan Ancaman Hukuman Mati'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-551452636437219897</id><published>2010-01-28T23:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T19:16:01.854-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL HUKUM TATA NEGARA'/><title type='text'>TENAGA AHLI DPRD</title><content type='html'>&lt;h1 class="title" style="text-align: center;"&gt;KEBUTUHAN TENAGA AHLI DPRD&lt;/h1&gt;&lt;h1 class="title" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/h1&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="meta with-taxonomy" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="submitted" style="text-align: right;"&gt;Dikirim/ditulis pada 11 October 2009 oleh  ikhlasul&lt;/div&gt;&lt;div class="submitted"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="taxonomy"&gt;&lt;ul class="links inline"&gt;&lt;li class="first last taxonomy_term_36" style="text-align: right;"&gt;&lt;a class="taxonomy_term_36" href="http://www.legalitas.org/?q=category/kategori-artikel/artikel-hkm-perburuhan-dan-perusahaan" rel="tag" title=""&gt;ARTIKEL HKM PERBURUHAN DAN  PERUSAHAAN&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Oleh:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Winasis Yulianto&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Dosen&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Fakultas Hukum Universitas Abdurachman Saleh Situbondo, &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;tinggal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;di Perumahan Villa Situbondo Indah Blok C-15 Situbondo&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendahului apa yang&lt;br /&gt;diamanatkan oleh UU No. 27 Tahun 2009 kepada pemerintah untuk menetapkan&lt;br /&gt;peraturan pelaksanaan (baca: peraturan pemerintah) paling lambat satu  tahun sejak&lt;br /&gt;diundangkan. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menggurui  kawan-kawan&lt;br /&gt;yang duduk di kursi DPRD. Tulisan ini merupakan ajakan penulis untuk&lt;br /&gt;bersama-sama melakukan kontemplasi, agar pelaksanaan fungsi, tugas dan  wewenang&lt;br /&gt;yang diamanatkan oleh undang-undang menjadi lebih optimal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Penulis menyadari betul bahwa kawan-kawan yang duduk di&lt;br /&gt;kursi DPRD memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;Apalagi setiap partai politik juga telah memberikan pembekalan kepada  setiap&lt;br /&gt;anggotanya yang duduk di kursi DPRD sebelum pelantikan dilaksanakan.  Dengan dua&lt;br /&gt;alat ukur tersebut, setiap anggota DPRD telah siap dalam melaksanakan  fungsi,&lt;br /&gt;tugas dan wewenangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Peristilahan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Secara normatif, belum ada kesamaan penyebutan terhadap&lt;br /&gt;tenaga ahli. Dalam UU No. 27 Tahun 2009 memberikan istilah yang tidak  sama,&lt;br /&gt;Pasal 301 ayat (10) dan Pasal 352 ayat (10) menyebutnya dengan tenaga  ahli,&lt;br /&gt;sedangkan Pasal 397 dan Pasal 399 menyebutnya dengan kelompok pakar atau  tim&lt;br /&gt;ahli (KPTA). Istilah tenaga ahli juga dipergunakan dalam PP No. 41 Tahun  2007&lt;br /&gt;maupun Permendagri No. 57 Tahun 2007. Perbedaan penyebutan tersebut  tentu&lt;br /&gt;membawa konskuensi, istilah tenaga ahli dapat dimaknakan tunggal ataupun  jamak,&lt;br /&gt;sedangkan istilah KPTA dapat dipastikan jamak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan mengamati secara cermat, &lt;i&gt;roh&lt;/i&gt; yang  diinginkan oleh UU No. 27 Tahun 2009 KPTA akan membantu&lt;br /&gt;tugas anggota DPRD sesuai dengan pengelompokan tugas dan wewenang DPRD.  Ini&lt;br /&gt;berarti bahwa kinerja KPTA membantu fraksi maupun komisi. Dengan  demikian&lt;br /&gt;jumlah KPTA tergantung pada jumlah fraksi dan komisi di masing-masing  daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keberadaan KPTA sangat ditentukan 2&lt;br /&gt;hal: kebutuhan atas usul anggota DPRD dan kemampuan daerah. Penulis&lt;br /&gt;berpandangan bahwa kedua syarat tersebut bersifat komulatif, artinya  kedua&lt;br /&gt;syarat tersebut harus terpenuhi. Bilamana anggota DPRD mengusulkan  kepada&lt;br /&gt;sekretaris dewan bahwa diperlukan KPTA, sedangkan kemampuan daerah tidak  ada,&lt;br /&gt;maka KPTA menjadi tidak ada. Sebaliknya, kemampuan daerah ada sedangkan  anggota&lt;br /&gt;DPRD beranggapan bahwa dalam melaksanakan fungsi, tugas dan wewenangnya  tidak&lt;br /&gt;memerlukan KPTA, maka KPTA menjadi tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Yang cukup menggelisahkan,&lt;br /&gt;regulasi tentang KPTA ada pada &lt;i&gt;grey area&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;Tidak ada satu pasalpun yang menjelaskan tentang persyaratan untuk  menjadi KPTA&lt;br /&gt;DPRD. Seluruh pengaturan pengangkatan dan pemberhentian ada di tangan&lt;br /&gt;sekretaris dewan. Dengan demikian, sekretaris dewan memiliki otoritas  penuh (&lt;i&gt;full powers&lt;/i&gt;) untuk mengangkat dan&lt;br /&gt;memberhentikan KPTA DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal ini berbeda dengan&lt;br /&gt;staf ahli bupati maupun gubernur yang memiliki kriterium yang jelas  untuk dapat&lt;br /&gt;diangkat sebagai staf ahli. Kriterium yang dimaksud adalah bahwa calon  staf&lt;br /&gt;ahli yang diangkat harus berasal dari PNS dan akan didudukkan sebagai  eselon&lt;br /&gt;II. Dalam regulasi kepegawaian, seseorang yang akan menduduki eselon II  juga&lt;br /&gt;memiliki persyaratan-persyaratan tertentu, diantaranya harus golongan  IV. Hak&lt;br /&gt;dan kewajiban untuk eselon II juga jelas, dapat kendaraan dinas dan  tunjangan&lt;br /&gt;jabatan yang semuanya diatur dengan jelas dalam regulasi kepegawaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karena tidak diatur dengan&lt;br /&gt;regulasi yang jelas, maka hak dan kewajiban KPTA DPRD akan sangat  tergantung&lt;br /&gt;pada &lt;i&gt;good will&lt;/i&gt; sekretaris dewan.&lt;br /&gt;Sekretaris dewan dapat menentukan besar kecilnya honorarium dengan&lt;br /&gt;menganggarkannya dalam APBD. Akhirnya, optimal atau tidaknya kinerja  KPTA DPRD&lt;br /&gt;tergantung pada honorarium yang diterimanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Keahlian yang dibutuhkan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KPTA DPRD diamanatkan&lt;br /&gt;untuk mendukung pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang DPRD. Idealnya,  setiap&lt;br /&gt;anggota DPRD memiliki satu orang KPTA, tetapi hal ini akan membawa  konskuensi&lt;br /&gt;besarnya anggaran yang harus dibebankan di APBD. Penulis berpandangan  bahwa&lt;br /&gt;KPTA cukup disesuaikan dengan jumlah fraksi dan komisi yang ada di DPRD.  Dengan&lt;br /&gt;demikian jumlah KPTA di masing-masing daerah dapat berbeda antara yang  satu&lt;br /&gt;dengan yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; KPTA yang ditugaskan&lt;br /&gt;membantu fraksi, haruslah memiliki pengetahuan yang cukup tentang visi,  misi&lt;br /&gt;dan program fraksi yang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa pengetahuan  tersebut,&lt;br /&gt;KPTA akan mengalami kesulitan dalam memberikan masukan terhadap  kebijakan yang&lt;br /&gt;akan diambil oleh fraksi. Orang yang dapat mengemban posisi KPTA fraksi  dapat&lt;br /&gt;saja berasal dari akademisi, profesional ataupun pihak lain yang menurut  fraksi&lt;br /&gt;dapat memberikan pertimbangan kebijakan fraksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berbeda dengan KPTA yang ditempatkan di fraksi, KPTA yang&lt;br /&gt;ditempatkan di komisi harus orang yang benar-benar memiliki pengetahuan  yang&lt;br /&gt;cukup sesuai dengan fungsi, tugas dan wewenang komisi. Komisi A atau  Komisi I&lt;br /&gt;DPRD, bergerak dalam bidang hukum dan pemerintahan. Idealnya, komisi ini&lt;br /&gt;memiliki 2 orang KPTA yang berlatar belakang pendidikan ilmu hukum dan  ilmu&lt;br /&gt;pemerintahan. Kedua KPTA ini akan dapat meng&lt;i&gt;cover&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang Komisi A atau Komisi I DPRD. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komisi B atau Komisi II DPRD bergerak dalam bidang&lt;br /&gt;keuangan dan anggaran. Seperti halnya Komisi A, Komisi B idealnya juga  memiliki&lt;br /&gt;2 orang KPTA yang berlatar belakang pendidikan ilmu akuntansi dan ilmu&lt;br /&gt;manajemen (keuangan). KPTA Komisi B akan meng&lt;i&gt;cover &lt;/i&gt;tugas Komisi  B dalam&lt;br /&gt;menganalisis RAPBD, Nota Perhitungan APBD, PAPBD dan LKPJ Kepala Daerah,  yang&lt;br /&gt;selanjutnya memberikan rekomendasi kepada Komisi B sebagai masukan dalam&lt;br /&gt;pembahasan materi-materi tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komisi C atau Komisi III lebih banyak bergerak di bidang&lt;br /&gt;pembangunan fisik, jalan, jembatan, bangunan dan seterusnya. KPTA yang&lt;br /&gt;diharapkan dapat mendorong fungsi, tugas dan wewenang Komisi C adalah  mereka&lt;br /&gt;yang berlatar pendidikan teknik sipil atau profesional yang berkecimpung&lt;br /&gt;sebagai kontraktor proyek fisik. Lebih ideal lagi, keduanya disatukan  sebagai&lt;br /&gt;KPTA. KPTA yang berpendidikan teknik sipil sangat paham betul tentang&lt;br /&gt;pembangunan fisik berdasarkan &lt;i&gt;teksbook&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;yang ada. Sedangkan profesional yang berkecimpung sebagai kontraktor  proyek&lt;br /&gt;fisik paham betul tentang &lt;i&gt;rimba&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;proyek fisik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komisi D atau Komisi IV bergerak di bidang pendidikan dan&lt;br /&gt;kesehatan. Kedua bidang ini sangat jauh perbedaannya, karena itu KPTA  harus&lt;br /&gt;berasal dari kedua bidang tersebut. KPTA yang membantu bidang pendidikan  harus&lt;br /&gt;paham betul tentang dunia pendidikan. Sekretaris dewan maupun Komisi D  dapat&lt;br /&gt;saja mensyaratkan untuk menjadi KPTA bidang pendidikan harus pernah atau  sedang&lt;br /&gt;menduduki jabatan sebagai Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.  Mereka&lt;br /&gt;yang pernah atau sedang menduduki jabatan sebagai Dewan Pendidikan sudah  teruji&lt;br /&gt;pemahamannya dalam dunia pendidikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sedangkan untuk KPTA bidang kesehatan, haruslah memiliki&lt;br /&gt;latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat. Dengan berlatar belakang&lt;br /&gt;pendidikan kesehatan masyarakat, diharapkan akan dapat memberikan  masukan&lt;br /&gt;kepada Komisi D tentang kebijakan daerah di bidang kesehatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Eksistensi KPTA dalam mendukung pelaksanaan fungsi, tugas&lt;br /&gt;dan wewenang DPRD adalah sangat vital. Oleh karena itu, tidak ada lagi&lt;br /&gt;argumentasi tidak ada anggaran untuk meniadakan KPTA. Kawan-kawan  ekskutif&lt;br /&gt;(baca: pemerintah daerah) sangat &lt;i&gt;expert&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;di bidangnya, dan itu harus diimbangi oleh kawan-kawan DPRD. Bila tidak,  lagunya Iwan Fals dengan kalimat “nyanyian lagu setuju” akan&lt;br /&gt;sering terdengar lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kepada kawan-kawan fraksi&lt;br /&gt;dan komisi DPRD, selamat memilih KPTA.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-551452636437219897?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/551452636437219897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/tenaga-ahli-dprd.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/551452636437219897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/551452636437219897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/tenaga-ahli-dprd.html' title='TENAGA AHLI DPRD'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-7577266025842596456</id><published>2010-01-28T23:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T12:10:29.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL HUKUM TATA NEGARA'/><title type='text'>Menyoroti klausul “Bahasa Negara” dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="node" id="node-909" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="meta with-taxonomy"&gt;&lt;div class="submitted"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dikirim/ditulis pada 15 September 2009 oleh  Marina Eka Amalia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="taxonomy"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;ARTIKEL HUKUM PERDATA/BISNIS&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="taxonomy"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="taxonomy"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;I. Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;                Diundangkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 pada  9 Juli 2009 dilatarbelakangi oleh beberapa faktor diantaranya karena,  baik Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan pada  dasarnya merupakan sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi  suatu Bangsa dimana kesemua hal tersebut merupakan manifestasi  kebudayaan yang berakar dari sejarah perjuangan bangsa, namun disadari  bahwa pengaturannya belumlah termuat dalam bentuk undang-undang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;                Pengundangan sebuah peraturan tentunya bukanlah hal  yang mudah, diperlukan berbagai proses sehingga peraturan tersebut  akhirnya resmi diundangkan. Hal tersebut patut kita hargai sebagai hasil  kinerja lembaga perwakilan rakyat yang memang memiliki tugas untuk  melakukan hal tersebut. Namun, untuk kepentingan kita bersama pula lah,  tidak salah jika kita terus mengkritisi dan menganalisis atas peraturan  yang diundangkan tersebut, agar kita lebih mawas diri dan mengetahui  mana-mana hal yang menjadi celah atau kekurangan dari Peraturan  Perundang-undangan tersebut. Dengan pertimbangan itu lah, di sini saya  mencoba menganalisis dan mengkritisi pasal-pasal tertentu dari  Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;II. Analisis dan Kritisi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;                Bab I tentang Ketentuan Umum, khususnya Pasal 1 ayat  (1) menyatakan bahwa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;“Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya  disebut Bendera Negara adalah Sang Merah Putih. Bahasa Negara Kesatuan  Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Bahasa Indonesia adalah  bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan  Republik Indonesia”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Analisis &amp;amp; Kritisi:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan Bendera Negara dan Bahasa Negara dalam satu ayat sesungguhnya  kurang tepat, karena keduanya tidak berkaitan satu sama lain secara  langsung. Sebaiknya, “Bahasa Negara” juga dibuat menjadi satu ayat  tersendiri, sama seperti pengertian-pengertian lainnya misalnya: Lambang  Negara, Lagu Kebangsaan, Bahasa Daerah, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bab III tentang Bahasa Negara, khususnya Pasal 31 menyatakan bahwa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;“(1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nota kesepahaman atau  perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik  Indonesia, lembaga swasta Indonesia, atau perseorangan warga negara  Indonesia. (2) Nota kesepahaman atau perjanjian sebagaimana dimaksud  pada ayat (1) yang melibatkan pihak asing ditulis juga dalam bahasa  nasional pihak asing tersebut dan/atau bahasa Inggris”.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Analisis &amp;amp; Kritisi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(1)  Jika hendak menafsirkan dari ayat tersebut di atas, maka  penggunaan Bahasa Negara dalam pembuatan Nota Kesepahaman atau  Perjanjian adalah menjadi wajib apabila pembuatan Nota Kesepahaman atau  Perjanjian tersebut melibatkan:&lt;br /&gt;a. Lembaga Negara;&lt;br /&gt;b. Instansi Pemerintah RI;&lt;br /&gt;c. Lembaga Swasta Indonesia; atau&lt;br /&gt;d. Perseorangan Warga Negara Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Secara a-contrario, dapat ditarik kesimpulan jika tidak melibatkan  salah satu dari ke-empat unsur di atas, maka Bahasa Indonesia tidak  wajib digunakan dalam pembuatan Nota Kesepahaman atau Perjanjian. Namun  apakah ketidakwajiban tersebut dimungkinkan? Nampaknya tidak, mengingat  unsur paling sederhana dalam pembuatan Nota Kesepahaman atau Perjanjian,  yaitu orang perseorangan (WNI), juga termasuk dalam unsur yang  disebutkan dalam pasal ini. Dengan kata lain, sejauh pembuatan Nota  Kesepahaman atau Perjanjian tersebut melibatkan Subjek Hukum di  Indonesia, maka pembuatan Nota Kesepahaman atau Perjanjian tersebut  adalah mutlak menggunakan bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(2) Atas Nota Kesepahaman atau Perjanjian yang melibatkan pihak  asing, maka ketentuannya: Selain ditulis dalam Bahasa Indonesia, juga:&lt;br /&gt;a. dalam Bahasa Nasional Pihak Asing tersebut; dan/atau&lt;br /&gt;b. dalam Bahasa Inggris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan demikian, dalam ayat ini bisa diberlakukan 2 (dua) ketentuan,  jika kita merujuk kata-kata “dan/atau”, yaitu sbb:&lt;br /&gt;- Pembuatan Nota Kesepahaman atau Perjanjian tersebut, menggunakan 2  bahasa, yaitu: Bahasa Indonesia dan Bahasa Nasional Negara asing yang  bersangkutan.&lt;br /&gt;- Pembuatan Nota Kesepahaman atau Perjanjian tersebut, menggunakan 3  bahasa; yaitu: Bahasa Indonesia, Bahasa Nasional Negara asing yang  bersangkutan, serta Bahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Untuk Perjanjian Internasional, maka Perjanjian ditulis dengan  mengikuti ketentuan Pasal 31 (2) jo. Penjelasan Pasal 31 ayat (1) UU  Nomor 24 Tahun 2009, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Nasional Negara  Asing yang bersangkutan, dan/atau Bahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang menjadi pertanyaan adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;1. Apakah dengan adanya UU ini, lantas membuat unsur-unsur  syarat sahnya Perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata) menjadi dikesampingkan?  Bagaimana jika Para Pihak sepakat (unsur pertama dalam Pasal 1320  KUHPer) untuk menggunakan satu bahasa saja, misalnya Bahasa Inggris  sebagai dasar membuat Perjanjian?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mengenai hal tersebut, maka kita dapat melihat Bagian Ketiga tentang  “Akibat Persetujuan-persetujuan” KUHPerdata, Pasal 1339 dimana dikatakan  bahwa suatu kesepakatan tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan  tegas dinyatakan didalamnya, tapi juga terhadap segala sesuatu yang  diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau undang-undang. Sehingga,  walaupun Para Pihak telah  menyepakati untuk menggunakan satu bahasa  saja (dalam kasus ini adalah Bahasa Inggris), maka itu tidak dapat  dibenarkan karena berarti tidak sesuai dengan Pasal 1339 KUHPerdata jo.  Pasal 31 (2) UU 24 Tahun 2009 yang mengharuskan salah satu naskah  tersebut dibuat dalam Bahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Lain halnya jika, Para Pihak sepakat hanya menggunakan Bahasa  Indonesia dalam Perjanjian tersebut, maka berdasarkan Pasal 1339  KUHPerdata jo. Pasal 31 (2) UU 24 Tahun 2009, maka hal tersebut sah-sah  saja, hal itu karena dalam Pasal 31 (2) UU 24 Tahun 2009 dikatakan “Nota  Kesepahaman … ditulis juga dalam Bahasa Nasional pihak asing tersebut  dan/atau Bahasa Inggris”, kata-kata “ditulis juga” dapat diartikan bahwa  penggunaan Bahasa Asing/Bahasa Inggris tersebut sifatnya tidak wajib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;2. Bagaimana Kekuatan Hukum sebuah Perjanjian yang dibuat  diantara Para Pihak yang salah satunya WNI, tetapi Perjanjian tersebut  seluruh klausulanya menggunakan bahasa Inggris? Apakah status Perjanjian  tersebut menjadi Batal Demi Hukum atau Dapat Dibatalkan?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kembali ke peraturan dasar, bahwa sepanjang syarat sahnya perjanjian  terpenuhi, maka Perjanjian tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi  Para Pihak yang membuatnya (asas pacta sunt servanda). Namun, dalam  konteks ini, dikarenakan Para Pihak menyepakati membuat Perjanjian dalam  Bahasa Inggris, maka salah satu syarat sah Perjanjian menjadi tidak  terpenuhi (yaitu klausula “sebab yang halal” sebagaimana dipersyaratkan  dalam Pasal 1337 KUHPerdata jo. Pasal 31 UU 24 Tahun 2009), dengan  demikian, Perjanjian sebagaimana tersebut diatas adalah Batal Demi  Hukum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;3. Apakah ketentuan Pasal 31 ini bersifat mandatory? Apa  akibat hukumnya jika Pasal ini dilanggar?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut hemat saya, Pasal 31 UU ini bersifat Mandatory karena dengan  jelas dinyatakan secara eksplisit kata-kata “wajib” dalam Pasal  tersebut. Namun yang menjadi kekurangan dari UU ini adalah tidak  mencantumkan sanksi apabila kewajiban tersebut dilanggar. Apakah yang  demikian dpat dikatakan terjadi kekosongan hukum? Kita tidak dapat serta  merta menyatakan demikian. Mari kita melihat ke dalam konteks yang  lebih umum, yakni ke salah satu syarat sah Perjanjian yaitu “sebab yang  halal” (Pasal 1320 Jo. 1337 KUHPerdata) yang menyatakan bahwa “suatu  sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang,…”. Dengan  kata lain, jika hal tersebut bertentangan dengan UU, maka Perjanjian  yang bersangkutan menjadi Batal Demi Hukum (karena salah satu syarat sah  Perjanjian tidak terpenuhi).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;4. Dinyatakan dalam Pasal 40 bahwa “Ketentuan lebih lanjut  mengenai penggunaan Bahasa Indonesia, diatur dalam Peraturan Presiden.  Kemudian jika merujuk ke Pasal 73, maka Peraturan Pelaksana atas UU ini  akan diselesaikan paling lambat 2 tahun sejak UU ini diundangkan.  Pertanyaannya, apakah hal ini menjadikan adanya kekosongan hukum selama  tenggang waktu tersebut?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Peraturan Presiden sebagai Peraturan Pelaksana dari UU ini memang  belum ada, namun hal tersebut tidak menyebabkan terjadinya kekosongan  hukum karena kita masih dapat menjadikan Sumber Hukum lainnya sebagai  dasar untuk mengimplementasikan UU 24 Tahun 2009 ini, seperti KUHPerdata  dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;III. Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat saya simpulkan bahwa  sepanjang suat Perjanjian melibatkan Subjek Hukum Indonesia, maka  Perjanjian tersebut haruslah (salah satu naskahnya) menggunakan Bahasa  Indonesia, jika tidak, maka Perjanjian tersebut menjadi Batal Demi  Hukum. Dasar Hukum yang dapat dirujuk atas kesimpulan ini adalah Pasal  1320, 1337, 1339 KUHPerdata jo. Pasal 31 UU 24 Tahun 2009 jo. Penjelasan  Pasal 31 UU 24 Tahun 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;IV. Penutup&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikian analisis dan kritisi yang dapat saya sampaikan. Jika  terdapat masukan, saran, atau koreksi atas tulisan ini, saya dengan  sangat senang hati akan menerimanya dan dapat dijadikan bahan diskusi  kita bersama. Terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Salam,&lt;br /&gt;Marina Eka Amalia,SH&lt;br /&gt;15 September 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="links"&gt;&lt;ul class="links inline"&gt;&lt;li class="first last statistics_counter"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="statistics_counter"&gt;3485 reads&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="comment" style="text-align: justify;"&gt;&lt;h3 class="title"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa adalah identitas&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="submitted"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada 1 October 2009 elkisab (not verified)  mengirim komentar:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bahasa adalah identitas bangsa, tapi pada  kenyataannya pemakaian Bahasa Indonesia mulai terpinggirkan. Hadirnya UU  Bahasa diharapkan mampu mengangkat kembali Bahsa Indonesia sebagai  bahasa persatuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kami ingin mendownload draft UU Bahasa dimaksud, tapi di situs ini  tampaknya tidak ada. Apa admin memilikinya? tolong sent ke email kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Terimakasih. salam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="links"&gt;&lt;ul class="links"&gt;&lt;li class="first last comment_reply"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;reply&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="comment" style="text-align: justify;"&gt;&lt;h3 class="title"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;choice of language&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="submitted"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada 11 December 2009 onyis mengirim  komentar:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;pilihan bahasa dan bahasa pilihan&lt;br /&gt;sudut pandang kita sebenarnya harus worldwide, pilihan bahasa sebenarnya  salah satu pointer penerapan asas kebebasan berkontrak namun itu tidak  sertamerta dijadikan senjata dalam upaya penyelundupan hukum apabila  para pihak adalah WNI bahkan dalam UU No.30/99 (ADR) dalam proses  arbitrase yang mana pada perjanjian arbitrase ada klausul "choice of  language" bagi para pihak dengan bahasa yang berbeda. para pratisi hukum  bukan hanya memiliki kompetensi juga etika hukum yang merupakan sikap  profesionalismenya.&lt;br /&gt;sehingga kita harus jeli melihat keberlakuan ketentuan ini dari sudut  pandang hukum dan pandang worldwide yang tidak merugikan semua pihak  dengan tidak memaksakan menjadi bahasa pilihan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="links"&gt;&lt;ul class="links"&gt;&lt;li class="first last comment_reply"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;reply&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="comment" style="text-align: justify;"&gt;&lt;h3 class="title"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kebatalan Demi Hukum&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="submitted"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada 6 January 2010 cristi (not verified)  mengirim komentar:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;wah memang dengan keluarnya UU ini sempat  membuat praktisi heboh karena ternyata menimbulkan banyak masalah yang  tidak terjawab, seperti kekuatan hukum perjanjian yang digunakan jika  ada sengketa bagaimana, padahal interpertasi mengenai sesuatu istilah  bisa saja berbeda antara masing-masing bahasa. tapi terimakasih karena  telah membahas mengenai UU ini karena saya sendiri masih bingung dengan  pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut saya karena tidak adanya sanksi pada uu tersebut maka  perjanjian yang tidak dibuat dalam Bahasa Indonesia (sebagaimana yang  dimaksud dalam Pasal 31 uu ini ) tidak membuat perjanjian tersebut batal  demi hukum melainkan dapat dimintakan pembatalan kepada hakim. jadi  tidak otomatis. Kecuali jika isi perjanjiannya merupakan klausula yang  tidak halal seperti yang dimaksud dalam pasal 1320 KUHPerdata maka  perjanjian tersebut batal demi hukum.&lt;br /&gt;Jadi mengenai kekuatan perjanjian yang tidak dilaksanakan menurut Pasal  31 UU ini tergantung pada interpertasi hakim apakah menjadi batal atau  tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;cmiiw..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="links"&gt;&lt;ul class="links"&gt;&lt;li class="first last comment_reply"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;reply&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 class="title" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kebatalan Demi Hukum&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="submitted" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada 6 January 2010 cristi (not verified)  mengirim komentar:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;wah memang dengan keluarnya UU ini sempat  membuat praktisi heboh karena ternyata menimbulkan banyak masalah yang  tidak terjawab, seperti kekuatan hukum perjanjian yang digunakan jika  ada sengketa bagaimana, padahal interpertasi mengenai sesuatu istilah  bisa saja berbeda antara masing-masing bahasa. tapi terimakasih karena  telah membahas mengenai UU ini karena saya sendiri masih bingung dengan  pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Menurut saya karena tidak adanya sanksi pada uu tersebut maka  perjanjian yang tidak dibuat dalam Bahasa Indonesia (sebagaimana yang  dimaksud dalam Pasal 31 uu ini ) tidak membuat perjanjian tersebut batal  demi hukum melainkan dapat dimintakan pembatalan kepada hakim. jadi  tidak otomatis. Kecuali jika isi perjanjiannya merupakan klausula yang  tidak halal seperti yang dimaksud dalam pasal 1320 KUHPerdata maka  perjanjian tersebut batal demi hukum.&lt;br /&gt;Jadi mengenai kekuatan perjanjian yang tidak dilaksanakan menurut Pasal  31 UU ini tergantung pada interpertasi hakim apakah menjadi batal atau  tidak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-7577266025842596456?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/7577266025842596456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/menyoroti-klausul-bahasa-negara-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/7577266025842596456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/7577266025842596456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/menyoroti-klausul-bahasa-negara-dalam.html' title='Menyoroti klausul “Bahasa Negara” dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-3616868686431697806</id><published>2010-01-28T23:25:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T12:13:59.907-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ARTIKEL HUKUM TATA NEGARA'/><title type='text'>HUKUM TATA NEGARA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Makalah Penyusunan Program Legislasi Daerah (Prolegda) Dalam Rangka Mewujudkan Produk Hukum Daerah yang Komprehensif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;DR. WAHIDUDDIN ADAMS, SH., MA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Direktur Fasilitasi Perancangan Peraturan Daerah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;I. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Reformasi telah membawa perubahan mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah yang sentralistis digantikan dengan pemerintah yang desentralistis. Artinya sejumlah wewenang pemerintahan diserahkan oleh Pemerintah kepada daerah otonom, kecuali urusan pemerintahan yang meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan dan yusti yang tetap menjadi kewenangan Pemerintah. Dalam era otonomi daerah, pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan yang diserahkan menjadi kewenangannya dalam sistem Negara Kesatuan RI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Anda butuh Makalah tersebut?. Silahkan download.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/home"&gt;Download &lt;/a&gt;Makalah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-3616868686431697806?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/3616868686431697806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/hukum-tata-negara.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3616868686431697806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/3616868686431697806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/hukum-tata-negara.html' title='HUKUM TATA NEGARA'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-7152527582546021777</id><published>2010-01-28T07:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T07:53:41.729-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HUKUM KOLONIAL'/><title type='text'>POLITIK HUKUM KOLONIAL TERHADAP HUKUM ISLAM DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;POLITIK HUKUM KOLONIAL TERHADAP HUKUM ISLAM DI INDONESIA&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;AHMAD SYAFRUDDIN, SHI, MH1 (Cakim pada Pengadilan Agama Bukittinggi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Hukum Islam merupakan suatu sistem hukum yang saling berkaitan antara sub sistem-sub sistem hukum yang terlingkup di dalamnya. Sub sistem dimaksud di antaranya mencakup hukum pidana (jinayah), perdata (muamalah), maupun politik (siyasah). Sebagai sumber dari segala sumber hukum ditetapkan al Qur‟an dan al Sunnah. Adapun metode untuk memahami dan mengeluarkan hukum dari kedua sumber itu dipergunakan Ijtihad.2 Oleh&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;1Penulis juga salah seorang tenaga edukatif di STIH (Sekolah Tinggi Ilmu Hukum) Padang dan Fakultas Hukum UMSB (Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat) Bukittinggi. 2al Qur‟an merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad dalam rentang waktu lebih kurang 22 tahun (semenjak Nabi diangkat menjadi Rasul sampai wafatnya) dengan perantara malaikat Jibril dalam bahasa arab yang bernilai ibadah jika dibaca dan disampaikan secara kontinu dari generasi ke generasi. Adapun al Sunnah adalah perkataan, perbuatan, maupun persetujuan (berupa diam) Nabi sekaitan dengan hukum sebagai penjelas atau bayan terhadap al Qur‟an yang global. Ijtihad merupakan rangkaian kerja yang diupayakan manusia dalam memahami al Qur‟an maupun al Sunnah. Rangkaian kerja ini melahirkan beberapa konsep hukum seperti Ijma’ (konsensus para ahli ijtihad tentang suatu masalah yang berkaitan dengan ruang lingkup agama setelah Rasul wafat), Qiyas (menjelaskan hukum suatu masalah yang belum ditentukan hukumnya dengan merujuk kepada persamaan atau perbedaan „illat/substansi hukum yang telah jelas), Istihsan (penerapan hukum berdasarkan kepentingan umum yang disokong oleh nash dengan cara induksi terhadap beberapa hukum syara‟), Mashlahah (menetapkan hukum sesuatu dengan memprioritaskan manfaat dan mengabaikan mudarat demi memelihara tujuan syara‟), Istishhab (menetapkan hukum terhadap sesuatu sesuai dengan hukum awalnya selama tidak ada argumen hukum lain yang merubahnya), „Urf (kebiasaan–lebih khusus dari adat–mayoritas umat baik dalam berbuat maupun berbicara), Syar’u man qablana (ajaran nabi sebelum Muhammad yang diakomodir oleh nash), Mazhab Shahabi (pendapat sahabat terhadap suatu persoalan yang tidak ada penjelasannya baik dari al Qur‟an maupun al Sunnah), dan Dzari’ah (sarana menuju kepada sesuatu yang apabila dilarang disebut sadd al dzari’ah dan apabila diperintahkan disebut dengan fath al dzari’ah). Lebih lanjut berkaitan dengan sumber dan dalil dalam hukum Islam dapat dilihat Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, Jil. 1, Cet. 2, 1997, h. 15-172, Bandingkan dengan Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, Jil. 2, Cet. 2, 2001, h. 219–406.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;karena itu, tanpa adanya metode dalam memahami kedua sumber hukum tersebut maka usaha untuk memahami al Qur‟an maupun al Sunnah dalam melahirkan konsep-konsep hukum adalah suatu pekerjaan sia-sia. Jika di coba untuk memformulasikan defenisi hukum Islam sebagaimana disinggung di atas maka dapat dikatakan bahwa hukum Islam merupakan hukum yang bersumber dari al Qur‟an dan al Hadits dengan melibatkan segala daya upaya manusia untuk melahirkan interpretasi-interpretasi hukum yang sistemis-metodis dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga terintegrasi antara relasi vertikal dengan Allah maupun horizontal antar manusia. Dari defenisi ini, tentunya kriteria yang paling berperan adalah dua relasi yang disebut terakhir. Artinya, bahwa hukum Islam tidak hanya mengatur aspek jasmani berupa interaksi antar manusia melainkan juga mengatur aspek rohani berupa interaksi manusia dengan khaliqnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Beranjak ke konteks Indonesia, hukum Islam memang telah lama mendapat tempat di masyarakat Indonesia.3 Hal ini tidak dapat dipungkiri karena–setidak-tidaknya–realitas mayoritas masyarakat Indonesia adalah penganut agama Islam. Realitas lain yang hingga saat ini masih eksis adalah keberadaan salah satu lembaga hukum di samping lembaga-lembaga hukum lain yang ada. Lembaga yang dimaksudkan adalah Pengadilan Agama.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;3Seputar bukti-bukti bahwa hukum Islam telah lama diterapkan oleh masyarakat Indonesia lihat Mohd. Idris Ramulyo, Asas-Asas Hukum Islam Sejarah Timbul dan Berkembangnya Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. 1, 1995, h. 48–54.&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br style="color: red;" /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Meskipun pengadilan ini memiliki wewenang di bidang keperdataan4 namun tetap saja memberi bukti bahwa wujud dari pelembagaan hukum Islam di negeri ini–sedikit–telah tercapai. Kenyataan ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, apalagi pada saat penjajah masih berkuasa. Sebagaimana diketahui, bangsa penjajah selain bertujuan untuk mengeruk keuntungan ekonomi (gold) dari tanah jajahan (glory) juga mengemban misi agama (gospel) yang sama sekali berbeda dengan agama mayoritas bangsa Indonesia. Di antara upaya yang dilakukan untuk mewujudkan misi agama tersebut adalah dengan mempertentangkan hukum adat dengan hukum Islam. Inilah yang akan dipaparkan lebih lanjut dalam ruang tulis berikut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;B. Politik Hukum Kolonial terhadap Hukum Islam di Indonesia dilihat dari beberapa Teori yang Dimunculkan&lt;br /&gt;Seperti telah disinggung di awal tulisan ini bahwa di antara upaya yang dilakukan oleh bangsa penjajah dalam menyebarkan misi agama mereka&lt;br /&gt;4Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada Pasal 49 dinyatakan bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang :&lt;br /&gt;a. perkawinan;&lt;br /&gt;b. waris;&lt;br /&gt;c. wasiat;&lt;br /&gt;d. hibah;&lt;br /&gt;e. wakaf;&lt;br /&gt;f. zakat;&lt;br /&gt;g. infaq;&lt;br /&gt;h. shadaqah; dan&lt;br /&gt;i. ekonomi syariah.&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;adalah dengan memasuki dan mencampuri hukum bangsa jajahan. Hukum Islam sebagai hukum yang hidup dan diterapkan oleh masyarakat ketika itu dipengaruhi bahkan sedikit demi sedikit disingkirkan. Kenyataan ini dapat diinterpretasikan dari aturan-aturan yang dikeluarkan oleh mereka.&lt;br /&gt;Sedikitnya, ada dua aturan yang diapungkan secara jelas dalam rangka menghambat laju hukum Islam itu. Pertama adalah ketentuan Pasal 163 IS (Indische Staatsregeling) dan kedua adalah Pasal 131 ketentuan serupa. Di ketentuan pertama, yakni Pasal 163 IS mereka membagi penduduk Indonesia kepada tiga kelompok. Pembagian kepada tiga kelompok ini juga berimbas kepada bidang hukum yang berlaku bagi masing-masingnya.5 Kelompok dengan dasar Pasal 131 IS ini dapat dilihat sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Golongan Eropah&lt;br /&gt;2. Golongan Timur Asing&lt;br /&gt;3. Golongan Bumi Putera&lt;br /&gt;Golongan Eropah terdiri dari orang-orang Belanda, orang eropah lain di luar Belanda, orang Jepang, semua orang yang berasal dari wilayah lain dengan ketentuan wilayah itu tunduk kepada hukum keluarga yang secara substasial memiliki asas hukum yang sama dengan hukum Belanda. Kemudian juga ditambahkan dengan anak sah yang diakui dengan Undang-Undang serta anak-anak klasifikasi golongan eropah dimaksud yang lahir di tanah jajahan. Adapun golongan Timur Asing terdiri dari semua orang yang bukan golongan eropah maupun penduduk asli tanah jajahan. Mereka ini di&lt;br /&gt;5Sekaitan dengan penjelasan ini lihat Riduan Syahrani, Seluk-beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Bandung, Alumni, 1989, h. 2–7.&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;antaranya adalah orang Arab, India, dan China. Sedangkan golongan terakhir, yakni Bumi Putera terdiri dari orang Indonesia asli. Pengelompokan yang demikian ini–seperti disinggung terdahulu–berimbas kepada bidang hukum yang berlaku bagi tiap-tiap kelompok. Sebagaimana diatur dalam Pasal 131 IS bahwa bagi golongan Eropah hukum yang berlaku adalah hukum yang berlaku di negeri Belanda. Adapun golongan Timur Asing berlaku hukumnya sendiri. Selanjutnya bagi golongan terakhir–Bumi Putera–hukum yang berlaku adalah hukum adat. Jika kepentingan sosial menghendaki maka hukum eropah dapat berlaku lintas golongan. Keberlakuan ini selanjutnya disebut sebagai penundukan diri terhadap hukum eropah, baik secara sempurna maupun sebagian saja. Penundukan sempurna dipahami bahwa ketentuan hukum eropah berlaku utuh bagi setiap subjek hukum yang melakukan suatu perbuatan hukum. Dengan kata lain, subjek hukum tersebut dianggap sama dengan golongan eropah sehingga hukumnya juga hukum eropah. Berbeda halnya dengan jenis penundukan hukum yang disebutkan terakhir. Pada penundukan ini, hukum eropah baru berlaku ketika perbuatan hukum yang dilakukan oleh golongan lain tersebut tidak dikenal dalam hukum mereka.&lt;br /&gt;Pemberlakuan hukum adat bagi golongan Bumi Putera sudah tentu menimbulkan masalah. Masalah dimaksud mengingat bahwa adat yang terdapat di Indonesia sangat beraneka ragam sesuai dengan etnis, kondisi sosial budaya, maupun agamanya. Paling tidak, dengan adanya ketentuan tertulis seperti dijelaskan terdahulu menimbulkan bias negatif terhadap hukum&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;agama yang dianut oleh bangsa Indonesia yang mayoritas Islam. Bias negatif itu adalah membenamkan hukum Islam di bawah bayang-bayang hukum adat. Hal ini sudah tentu dapat dimengerti. Bagaimanapun juga, bangsa penjajah selalu berusaha agar ideologi mereka bisa diikuti oleh bangsa jajahannya.&lt;br /&gt;Seiring dengan usaha untuk menanamkan ideologi ini, ada tiga teori yang diperkenalkan. Dua teori pertama diperkenalkan oleh bangsa Belanda dan satu teori terakhir dilontarkan oleh orang Indonesia. Teori terakhir ini merupakan teori bantahan sekaligus teori pematah. Ketiga teori itu secara berurut adalah; Receptio in Complexu, Receptie Theorie, dan Receptio a Contrario.6&lt;br /&gt;1. Receptio in Complexu&lt;br /&gt;Receptio in Complexu merupakan teori yang dikemukakan oleh Lodewijk Willem Christian Van Den Berg (1845–1927). Teori ini bermakna bahwa hukum yang diyakini dan dilaksanakan oleh seseorang seharmoni dengan agama yang diimaninya. Oleh sebab itu, jika seseorang beragama Islam maka secara langsung hukum Islamlah yang berlaku baginya, demikian seterusnya. Dengan kata lain, teori ini dapat dipadankan dengan sebutan “teori penerimaan secara kompleks atau sempurna”.&lt;br /&gt;2. Receptie Theorie&lt;br /&gt;Receptie Theorie atau teori resepsi merupakan teori yang diperkenalkan oleh Christian Snouck Hurgronje (1857–1936). Teori ini selanjutnya ditumbuhkembangkan oleh pakar hukum adat Cornelis Van Vollenhoven (1874–1933) dan Betrand Ter Haar (1892–1941). Teori&lt;br /&gt;6Tentang teori-teori ini telusuri salah satunya di dalam Mohd. Idris Ramulyo, Op. Cit, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. 1, 1995, h. 54–60.&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;resepsi berawal dari kesimpulan yang menyatakan bahwa hukum Islam baru diakui dan dilaksanakan sebagai hukum ketika hukum adat telah menerimanya. Terpahami di sini bahwa hukum Islam berada di bawah hukum adat. Oleh karena itu, jika didapati hukum Islam dipraktekkan di dalam kehidupan masyarakat pada hakikatnya ia bukanlah hukum Islam melainkan hukum adat. Teori ini dapat pula dipadankan dengan sebutan “teori penerimaan”.&lt;br /&gt;3. Receptio a Contrario&lt;br /&gt;Sebagaimana diutarakan di depan bahwa teori ini merupakan teori pematah–populer disebut teori Iblis–yang dikemukakan oleh Hazairin (1906–1975) dan Sajuti Thalib (1929–1990). Dikatakan sebagai teori pematah karena teori ini menyatakan pendapat yang sama sekali berlawanan arah dengan receptie theorie Christian Snouck Hurgronje di atas. Pada teori ini justru hukum adatlah yang berada di bawah hukum Islam dan harus sejiwa dengan hukum Islam. Dengan sebutan lain, hukum adat baru dapat berlaku jika telah dilegalisasi oleh hukum Islam. Dari ketiga teori ini terlihat bahwa usaha untuk meredam gerak maju hukum Islam didasarkan kepada teori kedua, yakni receptie theorie. Hukum Islam dianggap sebagai hukum jika telah dilegalisasi oleh hukum adat. Oleh karenanya, jika hukum yang diterapkan adalah hukum Islam namun menurut ketentuan hukum tertulis–Pasal 131 IS–ia bukanlah hukum Islam melainkan hukum adat.&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Makna tersembunyi di balik pemberlakuan teori ini adalah dihadapkannya bangsa penjajah ketika itu dengan tiga konsep hukum yang masing-masingnya memiliki karakter tersendiri.. Ketiga konsep dimaksud adalah hukum Islam, hukum Barat, dan hukum adat. Berhadapan dengan ketiga konsep ini sudah dapat dipastikan bahwa bangsa penjajah akan menetapkan hukum yang lebih menguntungkan bagi mereka. Dan hukum yang lebih menguntungkan itu dijatuhkan kepada hukum adat. Jika hukum yang diberlakukan semata-mata adalah hukum bangsa penjajah sudah tentu tingkat kebencian dan permusuhan terhadap mereka semakin besar. Oleh karena itu, untuk menghindari sisi negatif ini mereka mengapungkan hukum adat yang memang menunjang terhadap misi mereka. Dengan demikian, benar kiranya kalau hukum adat dimaksudkan oleh bangsa penjajah untuk melumpuhkan gerak langkah pelembagaan hukum Islam yang bermuara kepada tercapainya misi penjajahan mereka.7&lt;br /&gt;C. Kesimpulan dan Rekomendasi&lt;br /&gt;1. Kesimpulan&lt;br /&gt;Penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa politik hukum yang dijalankan oleh bangsa penjajah selalu mengacu dan melindungi kepentingan mereka di negeri jajahan. Kepentingan itu tidak hanya berada&lt;br /&gt;7Tentang pernyataan ini juga telah dikemukakan oleh Yaswirman dalam disertasinya. Ia mengatakan bahwa pemberlakuan hukum adat tidak didasarkan kepada kenyataan hukum yang hidup di masyarakat yang telah dipraktekkan sejak masa sebelumnya. Akan tetapi, hukum adat hanya dimunculkan adalah untuk kepentingan kolonial serta memperkecil ruang lingkup hukum agama. Lebih lanjut, telusuri kembali Yaswirman, Hukum Kekeluargaan Adat dan Hukum Kekeluargaan Islam di Indonesia Studi Perbandingan Hukum dalam Masyarakat Matrilineal Minangkabau, (Disertasi Doktor dalam Ilmu Agama Islam pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah), Jakarta, 1997, h. 82.&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;pada lingkup ekonomi dengan keuntungan materilnya tetapi juga dalam bidang hukum, memunculkan hukum adat di atas hukum agama dengan tujuan menumbuhsuburkan politik devide et impera.&lt;br /&gt;2. Rekomendasi&lt;br /&gt;Pembangunan dan pembaharuan hukum nasional yang terus diupayakan harus difokuskan kepada kebenaran legal substance atau substansi hukum bukan kepada term atau label-label yang ada sehingga politik devide et impera dapat dikikis dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;DAFTAR KEPUSTAKAAN Friedmann, W, Teori dan Filsafat Hukum Telaah Kritis atas Teori-Teori Hukum, judul asli Legal Theory, Penerj. Muhammad Arifin, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, Cet. 3, 1990 Halim, Abdul, Peradilan Agama dalam Politik Hukum di Indonesia dari Otoriter Konservatif menuju Konfigurasi Demokratis-Responsif, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, Cet. 1, 2000 Haroen, Nasrun, Ushul Fiqh, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, Jil. 1, Cet. 2, 1997 Manan, Abdul dan M. Fauzan, Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan Agama, RajaGrafindo Persada, Jakarta, Ed. 1, Cet. 5, 2002 Nottingham, Elizabeth K., Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama, Penerj. Abdul Muis Naharong, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, Cet. 7, 1997 Ramulyo, Mohd. Idris, Asas-Asas Hukum Islam Sejarah Timbul dan Berkembangnya Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. 1, 1995 Sjadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, UI-Press, Jakarta, Ed. 5, 1993 Syahrani, Riduan, Seluk-beluk dan Asas-asas Hukum Perdata, Bandung, Alumni, 1989 Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, Jil. 2, Cet. 2, 2001 Yaswirman, Hukum Kekeluargaan Adat dan Hukum Kekeluargaan Islam di Indonesia Studi Perbandingan Hukum dalam Masyarakat Matrilineal Minangkabau, (Disertasi Doktor dalam Ilmu Agama Islam pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah), Jakarta, 1997&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-7152527582546021777?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/7152527582546021777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/politik-hukum-kolonial-terhadap-hukum.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/7152527582546021777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/7152527582546021777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/politik-hukum-kolonial-terhadap-hukum.html' title='POLITIK HUKUM KOLONIAL TERHADAP HUKUM ISLAM DI INDONESIA'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-1924287234457590149</id><published>2010-01-28T07:45:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T12:25:55.173-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum pidana'/><title type='text'>TINJAUAN TENTANG PENCABUTAN KETERANGAN TERDAKWA DALAM PERSIDANGAN DAN IMPLIKASI YURIDISNYA</title><content type='html'>&lt;div class="field-items" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="field-item"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TINJAUAN TENTANG PENCABUTAN KETERANGAN TERDAKWA DALAM  PERSIDANGAN DAN IMPLIKASI YURIDISNYA TERHADAP KEKUATAN ALAT BUKTI (Studi  Kasus di Pengadilan Negeri Klas IA Surakarta). Fakultas Hukum  Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan Hukum (Skripsi). 2006.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;AGUS SETIAWAN,  0610113081, &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulisan hukum ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ketentuan hukum  &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD2"&gt;dari&lt;/span&gt; pencabutan keterangan  terdakwa dalam persidangan pengadilan, dalam hal ini di Pengadilan  Negeri Kelas IA Surakarta &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD3"&gt;serta&lt;/span&gt;  mengetahui bagaimana implikasi yuridis dari pencabutan keterangan  terdakwa terhadap kekuatan alat bukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian hukum ini merupakan penelitian &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD1"&gt;yang&lt;/span&gt; bersifat deskriptif dan apabila dilihat dari  tujuannya termasuk dalam penelitian hukum sosiologis. Lokasi penelitian  di Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta. Jenis data yang dipergunakan  meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang  dipergunakan meliputi: wawancara dan studi kepustakaan baik berupa  buku-buku, peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen dan sebagainya.  Analisis yang digunakan yaitu analisis data kualitatif dengan metode  interaktif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa pencabutan keterangan  terdakwa dalam putusan perkara perkosaan Pengadilan Negeri Kelas IA  Surakarta Nomor: 306/Pid.B/2003/PN.Ska ditolak atau tidak dapat diterima  oleh Majelis &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD4"&gt;Hakim&lt;/span&gt; karena  pencabutan keterangan yang dilakukan oleh terdakwa Joko Kustiono alias  Gepeng dinilai tidak berdasar dan tidak logis. Alasan yang mendasar dan  logis tersebut mengandung arti bahwa alasan yang menjadi dasar  pencabutan tersebut harus dapat dibuktikan kebenarannya dan diperkuat  atau didukung oleh bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa alasan  pencabutan tersebut benar dan dapat dibuktikan oleh hakim. Implikasi  yuridis dari pencabutan keterangan terdakwa terhadap kekuatan alat  bukti, adalah apabila pencabutan diterima oleh hakim, maka keterangan  terdakwa dalam persidangan pengadilan dapat digunakan sebagai alat bukti  dan keterangan terdakwa (tersangka) di tingkat penyidikan tidak  digunakan sama sekali untuk menemukan bukti di persidangan karena isinya  yang dinilai tidak benar. Sedangkan apabila pencabutan ditolak oleh  hakim, maka keterangan terdakwa dalam persidangan pengadilan tidak dapat  digunakan sebagai alat bukti, justru keterangan terdakwa (tersangka) di  tingkat penyidikanlah (BAP) yang kemudian dapat digunakan dalam  pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Negara &lt;span class="IL_AD" id="IL_AD5"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; adalah Negara  yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas  kekuasaan belaka (machtsstaat). Pernyataan tersebut secara tegas  tercantum dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini  menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Sebagai negara hukum,  Indonesia menerima hukum sebagai ideologi untuk menciptakan ketertiban,  keamanan, keadilan serta kesejahteraan bagi warga negaranya. Konsekuensi  dari itu semua adalah bahwa hukum mengikat setiap tindakan yang  dilakukan oleh warga negara Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum bisa dilihat sebagai perlengkapan masyarakat untuk menciptakan  ketertiban dan keteraturan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu  hukum bekerja dengan cara memberikan petunjuk tentang tingkah laku dan  karena itu pula hukum berupa norma (Satjipto Rahardjo, 1982: 14). Hukum  yang berupa norma dikenal dengan sebutan norma hukum, dimana hukum  mengikatkan diri pada masyarakat sebagai tempat bekerjanya hukum  tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila pada uraian di atas dikatakan bahwa konsekuensi dari dianutnya  hukum sebagai ideologi oleh suatu negara adalah bahwa hukum mengikat  setiap tindakan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia, maka hukum  juga wajib memberikan timbal balik terhadap negara yang menerimanya  sebagai ideologi, dengan cara memperhatikan kebutuhan dan  kepentingan-kepentingan anggota-anggota masyarakat serta memberikan  pelayanan kepada masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka memberikan perhatian terhadap penciptaan keadilan dalam  masyarakat serta memberikan pelayanan terhadap kepentingan-kepentingan  masyarakat, hukum tidak selalu bisa memberikan keputusannya dengan  segera, hukum membutuhkan waktu untuk menimbang-nimbang yang bisa  memakan waktu lama sekali, guna mencapai keputusan yang seadil-adilnya  dan tidak merugikan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Indonesia sebagai negara hukum memiliki beberapa macam hukum untuk  mengatur tindakan warga negaranya, antara lain adalah hukum pidana dan  hukum acara pidana. Kedua hukum ini memiliki hubungan yang sangat erat,  karena pada hakekatnya hukum acara pidana termasuk dalam pengertian  hukum pidana. Hanya saja hukum acara pidana atau yang juga dikenal  dengan sebutan hukum pidana formal lebih tertuju pada ketentuan yang  mengatur bagaimana negara melalui alat-alatnya melaksanakan haknya untuk  memidana dan menjatuhkan pidana. Sedangkan hukum pidana (materiil)  lebih tertuju pada peraturan hukum yang menunjukan perbuatan mana yang  seharusnya dikenakan pidana dan pidana apa yang dapat dijatuhkan kepada  pelaku tindak pidana tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun hukum dibuat untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu memberikan  pelayanan bagi masyarakat guna terciptanya suatu ketertiban, keamanan,  keadilan dan kesejahteraaan, namun pada kenyataannya masih tetap terjadi  penyimpangan-penyimpangan atas hukum, baik yang dilakukan secara  sengaja maupun tidak sengaja atau lalai. Terhadap  penyimpangan-penyimpangan hukum ini tentunya harus ditindaklanjuti  dengan tindakan hukum yang tegas dan melalui prosedur hukum yang benar  sesuai dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara  Pidana. Sehingga ideologi Indonesia sebagai negara hukum benar-benar  terwujud.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana  (KUHAP) disebutkan bahwa tujuan hukum acara pidana adalah: “untuk  mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran  materiil, yaitu kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara  pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan  tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan  melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan  dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu  tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat  dipersalahkan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui hukum acara pidana ini, maka bagi setiap individu yang  melakukan penyimpangan atau pelanggaran hukum, khususnya hukum pidana,  selanjutnya dapat diproses dalam suatu acara pemeriksaan di pengadilan,  karena menurut hukum acara pidana untuk membuktikan bersalah tidaknya  seorang terdakwa haruslah melalui pemeriksaan di depan sidang pengadilan  (Darwan Prinst,1998: 132). Dan untuk membuktikan benar tidaknya  terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan diperlukan adanya suatu  pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembuktian ini, hakim perlu memperhatikan kepentingan korban,  terdakwa dan masyarakat. Kepentingan korban berarti bahwa seseorang yang  mendapat derita karena suatu perbuatan jahat orang lain berhak  mendapatkan keadilan dan kepedulian dari negara, kepentingan masyarakat  berarti bahwa demi ketentraman masyarakat maka bagi setiap pelaku tindak  pidana harus mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya.  Sedangkan kepentingan terdakwa berarti bahwa terdakwa harus diperlakukan  secara adil sedemikian rupa, sehingga tiap individu yang terbukti  bersalah harus dihukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuktian memegang peranan yang sangat penting dalam proses  pemeriksaan sidang pengadilan, karena dengan pembuktian inilah nasib  terdakwa ditentukan, dan hanya dengan pembuktian suatu perbuatan pidana  dapat dijatuhi hukuman pidana. Sehingga apabila hasil pembuktian dengan  alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang tidak cukup membuktikan  kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa, maka terdakwa dibebaskan dari  hukuman, dan sebaliknya jika kesalahan terdakwa dapat dibuktikan, maka  terdakwa harus dinyatakan bersalah dan kepadanya akan dijatuhkan pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuktian juga merupakan titik sentral hukum acara pidana. Hal ini  dapat dibuktikan sejak awal dimulainya tindakan penyelidikan,  penyidikan, prapenuntutan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, pemeriksaan  di sidang pengadilan, putusan hakim bahkan sampai upaya hukum, masalah  pembuktian merupakan pokok bahasan dan tinjauan semua pihak dan pejabat  yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan,  terutama bagi hakim. Oleh karena itu hakim harus hati-hati, cermat, dan  matang dalam menilai dan mempertimbangkan nilai pembuktian serta dapat  meneliti sampai dimana batas minimum kekuatan pembuktian atau  bewijskracht dari setiap alat bukti yang sah menurut undang-undang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana tidak  memberikan penafsiran atau pengertian mengenai pembuktian baik pada  Pasal 1 yang terdiri dari 32 butir pengertian, maupun pada penjelasan  umum dan penjelasan Pasal demi Pasal. KUHAP hanya memuat macam-macam  alat bukti yang sah menurut hukum acara pidana di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan  pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang untuk  membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga  merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan  undang-undang dan boleh dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang  didakwakan (M. Yahya Harahap, 2003: 273).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 184 ayat (1) KUHAP, jenis alat bukti yang sah dan dapat  digunakan sebagai alat bukti adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Keterangan saksi;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Keterangan ahli;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Surat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Petunjuk;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Keterangan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maksud penyebutan alat-alat bukti dengan urutan pertama pada  keterangan saksi, selanjutnya keterangan ahli, surat, petunjuk dan  keterangan terdakwa pada urutan terakhir, menunjukkan bahwa pembuktian  (bewijsvoering) dalam hukum acara pidana diutamakan pada kesaksian.  Namun perihal nilai alat-alat bukti yang disebut oleh pasal 184 KUHAP  tetap mempunyai kekuatan bukti (bewijskracht) yang sama penting dalam  menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kata lain, walaupun pembuktian dalam hukum acara pidana  diutamakan pada kesaksian, namun hakim tetap harus hati-hati, dan cermat  dalam menilai alat-alat bukti lainnya. Karena pada prinsipnya semua  alat bukti penting dan berguna dalam membuktikan kesalahan terdakwa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis dalam penulisan hukum ini tidak akan membahas lebih jauh  mengenai alat bukti keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan  petunjuk karena keempat alat bukti tersebut secara umum sudah lebih  dikenal oleh pihak dan pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat  pemeriksaan dan tidak banyak menimbulkan permasalahan dalam penerapannya  dalam persidangan. Lain halnya dengan alat bukti keterangan terdakwa  yang kadang kala masih sering menimbulkan permasalahan, baik mengenai  eksistensinya sebagai alat bukti yang sah, masalah kekuatan nilai  pembuktian dan penerapannya di persidangan, maupun kedudukannya sebagai  alat bukti terakhir di dalam Pasal 184 ayat (1)  KUHAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila melihat urutan jenis alat bukti pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP,  maka keterangan terdakwa merupakan alat bukti yang terakhir setelah   petunjuk. Akan tetapi karena suatu petunjuk dapat diperoleh dari  keterangan terdakwa, maka dalam hal yang demikian petunjuk hanya bisa  diperoleh setelah lebih dahulu memeriksa terdakwa, sehingga petunjuklah  yang seharusnya menduduki posisi terakhir sebagai alat bukti. Terlepas  dari permasalahan di atas, pada kenyataannya keterangan terdakwa masih  belum memiliki peraturan yang jelas dalam penerapannya, yang  dikhawatirkan dapat mempengaruhi nilai kekuatannya sebagai alat bukti  yang sah, sehingga akan berpengaruh juga terhadap putusan pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 189 ayat (1) KUHAP, Keterangan terdakwa adalah apa yang  terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang dilakukan atau yang  ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri. Mengingat bahwa keterangan  terdakwa yang memuat informasi tentang kejadian peristiwa pidana  bersumber dari terdakwa, maka hakim dalam melakukan penilaian terhadap  isi keterangan terdakwa haruslah cermat dan sadar bahwa ada kemungkinan  terjadinya kebohongan atau keterangan palsu yang dibuat oleh terdakwa  mengenai hal ikhwal kejadian atau peristiwa pidana yang terjadi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam persidangan sering dijumpai bahwa terdakwa mencabut keterangan  yang diberikannya di luar persidangan atau keterangan yang diberikannya  kepada penyidik dalam pemeriksaan penyidikan yang dimuat dalam Berita  Acara Penyidikan (BAP). Dimana keterangan tersebut pada umumnya berisi  pengakuan terdakwa atas tindak pidana yang didakwakan kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Martiman Prodjohamidjojo (1984: 137), terhadap keterangan di  muka penyidik dan keterangan dalam persidangan harus dibedakan,  keterangan yang diberikan di muka penyidik disebut keterangan tersangka,  sedangkan keterangan yang diberikan dalam persidangan disebut  keterangan terdakwa. Dengan adanya perbedaan ini, penulis menilai akan  memperjelas dari kedudukan masing-masing keterangan dalam pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa dalam persidangan terdakwa  kerap mencabut kembali keterangan pengakuan yang diberikan dalam  pemeriksaan penyidikan di sidang pengadilan. Suatu hal yang ironi memang  bila melihat bahwa setiap tersangka pasti memberikan keterangan  pengakuan di depan penyidik sedemikian rupa jelasnya mengutarakan dan  menggambarkan jalannya perbuatan tindak pidana yang disangkakan. Akan  tetapi bagaimanapun gamblangnya pengakuan yang tercatat dalam Berita  Acara Penyidikan (BAP), akan selalu dicabut kembali dalam pemeriksaan  pengadilan. Hampir seluruh terdakwa, mencabut kembali keterangan  pengakuan yang tercatat dalam BAP, hanya satu dua yang tetap bersedia  mengakui kebenarannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun alasan yang kerap dijadikan dasar pencabutan adalah bahwa pada  saat memberikan keterangan di hadapan penyidik, terdakwa dipaksa atau  diancam dengan kekerasan baik fisik maupun psikis untuk mengakui tindak  pidana yang didakwakan kepadanya. Sedemikian rupa penyiksaan dan ancaman  berupa pemukulan, penyulutan bagian badan atau bagian vital tubuh.  Kepala dibenturkan di dinding, dan segala macam penganiayaan yang keji,  membuat tersangka terpaksa mengakui segala pertanyaan yang didiktekan  pejabat pemeriksa. Begitulah selalu alasan yang yang melandasi setiap  pencabutan keterangan pengakuan yang dijumpai di sidang pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditinjau dari segi yuridis, pencabutan ini sebenarnya dibolehkan  dengan syarat pencabutan dilakukan selama pemeriksaan persidangan  pengadilan berlangsung dan disertai alasan yang mendasar dan logis (M.  Yahya Harahap, 2003: 326). Sepintas terkesan bahwa syarat pencabutan  tersebut mudah dipahami dan mudah untuk dilakukan sehingga diperkirakan  penerapannya pun akan lancar tanpa permasalahan. Akan tetapi, pada  kenyataannya tidaklah demikian karena ternyata dalam praktek di  persidangan pencabutan begitu banyak menimbulkan permasalahan. Terutama  mengenai penilaian hakim terhadap alasan pencabutan keterangan terdakwa,  dimana dalam praktek di persidangan hakim tidaklah mudah menerima  alasan pencabutan keterangan terdakwa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permasalahan lain terkait dengan pencabutan keterangan terdakwa  adalah mengenai eksistensi keterangan terdakwa yang diberikan di luar  sidang, dalam hal digunakan untuk membantu menemukan alat bukti dalam  persidangan sebagaimana ketentuan Pasal 189 ayat (2) KUHAP (Darwan  Prinst, 1998: 145). Sebab sesuatu hal yang fungsi dan nilainya digunakan  untuk membantu mempertegas alat bukti yang sah, maka kedudukannya pun  telah berubah menjadi alat bukti, termasuk pengakuan terdakwa pada  tingkat penyidikan (M. Yahya Harahap, 2003: 323).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masalah pencabutan keterangan terdakwa ini juga akan membawa  permasalahan lain,  yaitu persoalan berkaitan dengan implikasi  pencabutan tersebut terhadap kekuatan alat bukti, serta pengaruhnya  terhadap alat bukti lain yang sah menurut undang-undang. Berdasarkan hal  inilah, maka penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian sebagai  bahan penulisan hukum yang mempunyai judul: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"TINJAUAN TENTANG PENCABUTAN KETERANGAN TERDAKWA DALAM PERSIDANGAN  DAN IMPLIKASI YURIDISNYA TERHADAP KEKUATAN ALAT BUKTI” (Studi Di  Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B. Perumusan Masalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar permasalahan yang hendak diteliti tidak mengalami perluasan  konteks dan supaya penelitian yang dilaksanakan lebih mendalam maka  diperlukan suatu pembatasan masalah. Dan untuk memudahkan dalam  penyusunan dan pencarian data guna menghasilkan sebuah penelitian yang  baik dan menghindari pengumpulan data yang tidak diperlukan dalam  penulisan, maka perlu disusun perumusan masalah secara teratur dan  sistematis yang merupakan pembatasan masalah yang akan dibahas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis merumuskan masalah dalam  penelitian sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Apakah terdakwa diperkenankan untuk mencabut keterangannya dalam  persidangan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Bagaimana implikasi yuridis dari pencabutan keterangan terdakwa  terhadap kekuatannya sebagai alat bukti?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu kegiatan penelitian harus mempunyai tujuan yang hendak dicapai  secara jelas. Tujuan penelitian dapat bersifat untuk pengembangan ilmu  dalam arti explanation, developmental, atau verifikasi ilmu, atau untuk  membantu memecahkan masalah tertentu. Tujuan penelitian diperlukan untuk  memberikan arah dalam melangkah sesuai dengan  maksud penelitian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai  berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Tujuan Objektif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Mendeskripsikan apakah terdakwa diperkenankan untuk mencabut  keterangannya dalam persidangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Mendeskripsikan bagaimana implikasi yuridis dari pencabutan  keterangan terdakwa terhadap kekuatannya sebagai alat bukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Tujuan Subjektif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Meningkatkan kualitas pengetahuan penulis tentang penggunaan  alat-alat bukti dalam pembuktian kesalahan terdakwa di pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Memperoleh data yang cukup dan relevan yang diperlukan dalam  penulisan hukum sebagai syarat mencapai gelar sarjana di bidang ilmu  hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;D. Manfaat Penelitian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun manfaat yang dapat diambil penulis dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Manfaat Teoritis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Memberikan sumbangan pemikiran dalam perkembangan ilmu hukum,  khususnya yang berkaitan dengan masalah hukum pembuktian pidana serta  dapat menambah bahan-bahan kepustakaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Untuk mendalami dan mempraktekan teori-teori yang telah diperoleh  penulis selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret  Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Manfaat Praktis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir dinamis, dan untuk  mengetahui kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Mencari kesesuaian antara teori yang telah didapatkan di bangku  kuliah dengan kenyataan di lapangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi  pihak-pihak yang terkait dengan masalah penelitian ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;E. Metode Penelitian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian adalah suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan  menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana dilakukan dengan  menggunakan metode ilmiah (Sutrisno Hadi, 1984). Pentingnya dilaksanakan  penelitian hukum adalah untuk mengembangkan disiplin ilmu dan ilmu  hukum sebagai salah satu tridarma perguruan tinggi. Penelitian hukum itu  bertujuan untuk membina kemampuan dan keterampilan para mahasiswa dan  para sarjana hukum dalam mengungkapkan kebenaran ilmiah, yang objektif,  metodik, dan sistematik (Hilman Hadikusuma, 1995: 8).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah tulisan baru dapat dirasakan bersifat ilmiah apabila ia  mengandung kebenaran secara objektif, karena didukung oleh informasi  yang teruji kebenarannya (Slamet Suseno, 1986: 2). Untuk dapat  membuktikan kebenaran ilmiah dari penelitian yang dilaksanakan, maka  perlu dikumpulkan fakta dan data yang menyangkut masalahnya dengan  menggunakan metode dan teknik penelitian. Tanpa adanya metode dan teknik  penelitian, maka hasil penelitian itu diragukan kebenarannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode penelitian dapat dirumuskan dengan kemungkinan-kemungkinan  sebagai berikut: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Suatu tipe pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian dan  penilaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Suatu teknik yang umum bagi ilmu pengetahuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Cara tertentu untuk melaksanakan suatu prosedur (Soerjono Soekanto,  1986: 5).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai  berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Jenis Penelitian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian ini adalah penelitian hukum sosiologis atau empiris  (sosiolegal research). Pada penelitian hukum sosiologis atau empiris,  maka yang diteliti pada awalnya adalah data sekunder, untuk kemudian  dilanjutkan dengan penelitian pada data primer di lapangan, atau  terhadap masyarakat (Soerjono Soekanto, 1986: 52).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di dalam penelitian hukum ini, penulis melakukan penelitian dengan  mencari perkara-perkara pidana yang berkenaan dengan adanya pencabutan  alat bukti keterangan terdakwa dalam persidangan Pengadilan (dalam hal  ini di Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta), kemudian melakukan  analisis terhadap hasil penelitian tersebut dengan peraturan  perundang-undangan yang berlaku serta literatur-literatur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan sifatnya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif  kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif karena penelitian ini  dimaksudkan untuk memberikan data seteliti mungkin tentang pencabutan  alat bukti keterangan terdakwa dalam persidangan Pengadilan (dalam hal  ini adalah Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta). Selain itu, bersifat  kualitatif karena memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang  mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan  manusia atau kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk  memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku (Burhan Ashshofa,  2001: 20-210). Sehingga dapat diperoleh data kualitatif yang merupakan  sumber  dari deskripsi yang luas, serta memuat penjelasan tentang  proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan demikian alur  peristiwa secara kronologis, menilai sebab-akibat dalam lingkup pikiran  orang-orang setempat dan memperoleh penjelasan yang banyak dan  bermanfaat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Lokasi Penelitian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lokasi penelitian ditetapkan dengan tujuan agar ruang lingkup  permasalahan yang akan diteliti lebih sempit dan terfokus, sehingga  penelitian yang dilakukan lebih terarah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian hukum ini mengambil lokasi di Pengadilan Negeri Kelas IA  Surakarta yang beralamat di Jalan Brigadir Jenderal Slamet Riyadi Nomor  290 Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Jenis Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jenis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian hukum ini  adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Data Primer&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data primer adalah data yang diambil langsung dari narasumber yang ada  di lapangan dengan tujuan agar penelitian ini bisa mendapatkan hasil  yang sebenarnya dari objek yang diteliti. Dalam hal ini data diperoleh  dari Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Data Sekunder&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data sekunder merupakan data yang menunjang dan mendukung data primer,  data ini diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan dan studi dokumen yang  berhubungan dengan permasalahan yang diteliti oleh penulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Sumber Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian hukum (skripsi) ini  adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Sumber Data Primer&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber data primer yaitu data atau keterangan yang diperoleh langsung  dari semua pihak yang terkait langsung dengan permasalahan yang menjadi  objek penelitian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal ini yang menjadi narasumber adalah Hakim Pengadilan Negeri  Kelas IA Surakarta yang pernah menangani perkara pidana yang berkenaan  dengan adanya pencabutan keterangan terdakwa dalam persidangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Sumber Data Sekunder&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber data sekunder dalam penulisan hukum (skripsi) ini diperoleh dari:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Bahan hukum primer yang meliputi peraturan perundang-undangan dan  peraturan kedinasan (reglement).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Bahan hukum sekunder yang meliputi bahan-bahan yang memberikan  penjelasan terhadap bahan hukum primer, seperti bahan-bahan kepustakaan,  dokumen, arsip, artikel, makalah, literatur, majalah serta surat kabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Teknik Pengumpulan Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Wawancara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wawancara merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh keterangan  secara lisan guna mencapai tujuan tertentu (Burhan Ashshofa, 2001: 95),  dalam hal ini wawancara dilakukan dengan tujuan memperoleh  keterangan-keterangan yang jelas tentang hal-hal yang berkaitan dengan  adanya pencabutan keterangan terdakwa di persidangan. Dalam suatu  wawancara terdapat dua pihak yang mempunyai kedudukan yang berbeda,  yaitu pencari informasi yang biasa disebut dengan pewancara atau  interviewer, dalam hal ini adalah penulis. Dalam pihak lain adalah  informan atau responden, dalam hal ini adalah hakim-hakim Pengadilan  Negeri Kelas IA Surakarta. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teknik pelaksanaan wawancara adalah dengan wawancara tidak berencana  (tidak berpatokan), yakni penulis dalam mengajukan pertanyaan tidak  terikat pada aturan-aturan yang ketat. Alat yang digunakan adalah  pedoman wawancara yang memuat pokok-pokok yang ditanyakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Penelitian Kepustakaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian kepustakaan meliputi pengkajian terhadap bahan-bahan pustaka  atau materi yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan  permasalahan yang sedang diteliti oleh penulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Teknik Analisis Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian hukum  ini adalah teknik analisis data kualitatif yaitu cara penelitian yang  menggunakan dan menghasilkan data deskriptif analisis, yaitu apa yang  dinyatakan responden secara tertulis maupun lisan dan juga perilaku  nyata yang akan diteliti dan dipelajari sebagai suatu yang utuh  (Soerjono Soekanto, 1986: 250).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam penelitan kualitatif sumber data bisa berupa orang, peristiwa,  lokasi, benda, dokumen, atau arsip. Beragam sumber tersebut menuntut  cara tertentu yang sesuai guna mendapatkan data. Pada penelitian  kualitatif proses analisisnya dilakukan sejak awal bersamaan dengan  proses pengumpulan data (H.B. Sutopo, 2002: 86). Secara umum terdapat  dua model pokok dalam melakukan analisis di dalam penelitian kualitatif,  yaitu: (1) model analisis jalinan atau mengalir (flow model of  analysis), dan (2) model analisis interaktif (H.B. Sutopo, 2002: 94).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam penulisan hukum ini penulis menggunakan metode analisis  interaktif. Metode analisis interaktif adalah tiga komponen analisis  tersebut aktifitasnya dapat dilakukan dengan cara interaktif, baik antar  komponennya maupun dengan proses pengumpulan data, dalam proses yang  berbentuk siklus. Dalam bentuk ini peneliti tetap bergerak diantara tiga  komponen analisis dengan proses pengumpulan selama kegiatan  berlangsung. Sesudah pengumpulan data berakhir, peneliti bergerak  diantara komponen analisisnya dengan menggunakan waktu yang masih  tersisa bagi penelitiannya (H.B. Sutopo, 2002, 95). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komponen-Komponen Analisis Data Model Interaktif (H.B. Sutopo, 2002:  96).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Analisis dalam penelitian kualitatif terdiri atas tiga komponen pokok,  yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Reduksi Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai alur penting pertama, yaitu sebagai proses pemilihan, pemusatan  perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data  “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. reduksi  data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan,  mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan  cara sedemikian rupa, sehingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat  ditarik dan diverifikasi (Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman,  1992: 16).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reduksi data merupakan komponen utama dalam analisis yang merupakan  proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data dari field  note (H.B. Sutopo, 2002, 91).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Penyajian Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis adalah penyajian data  sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya  penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Matthew B. Miles dan A.  Michael Huberman, 1992: 17).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan melihat penyajian-penyajian akan dapat dipahami apa yang  sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebih jauh menganalisis  ataukah mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari  penyajian tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sajian data merupakan suatu rakitan organisasi informasi, deskripsi  dalam bentuk narasi yang memungkinkan simpulan penelitian dapat  dilakukan. Sajian data yang merupakan rakitan kalimat yang disusun logis  dan sistematis, sehingga bila dibaca akan mudah dipahami berbagai hal  yang terjadi dan harus mengacu pada rumusan masalah yang telah  dirumuskan sebagai pertanyaan dalam penelitian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Penarikan kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan  verifikasi. Dari yang semula kesimpulan yang belum jelas kemudian  meningkat menjadi lebih rinci dan mengakar dengan kokoh (Matthew B.  Miles dan A. Michael Huberman, 1992: 18-19).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam penulisan hukum ini, pada tahap pertama penulis melakukan  pengumpulan data-data tentang perkara-perkara pidana yang ditangani  Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta. Data-data yang diperoleh tersebut  direduksi diambil perkara-perkara pidana yang ada kaitannya dengan  pencabutan keterangan terdakwa. Kemudian ditarik kesimpulan awal yang  merupakan jawaban sementara dari perumusan masalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data-data yang telah direduksi kemudian disajikan dengan  kalimat-kalimat yang mudah dipahami, sehingga data-data tersebut akan  lebih mudah dianalisis atau dikaji untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  yang telah disusun dan membatasi permasalahan agar diperoleh jawaban  yang lebih terperinci dan sistematis. Kemudian dari data-data tersebut  ditarik kesimpulan, dari yang semula hanya jawaban sementara kemudian  ditingkatkan menjadi kesimpulan akhir untuk menjawab  pertanyaan-pertanyaan di dalam perumusan masalah yang dirumuskan di  dalam penulisan hukum. Penulis kembali melakukan pengumpulan data, untuk  melengkapi kekurangan data dan memperkuat kesimpulan-kesimpulan akhir  yang dirumuskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;F. Sistematika Penulisan Hukum (Skripsi)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menyusun penulisan hukum ini, penulis berpedoman pada suatu  sistematika yang baku. Sistematika memberikan gambaran dan mengemukakan  garis besar penulisan hukum agar memudahkan dalam mempelajari isinya.  Penulisan hukum terbagi menjadi empat bab yang saling berhubungan.  Setiap bab dibagi menjadi beberapa sub bab yang masing-masing merupakan  pembahasan dari bab yang bersangkutan. Adapun sistematika penulisan  hukum tersebut adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I :  PENDAHULUAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bab ini penulis mengemukakan mengenai latar belakang masalah  yang merupakan hal-hal yang mendorong penulis untuk mengadakan  penelitian, perumusan masalah merupakan inti permasalahan yang ingin  diteliti, tujuan penelitian berisi tujuan dari penulis dalam mengadakan  penelitian, manfaat penelitian merupakan hal-hal yang diambil dari hasil  penelitian, metode penelitian berupa jenis penelitian, lokasi  penelitian, jenis data, sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik  analisis data, selanjutnya adalah sistematika penulisan hukum yang  merupakan kerangka atau susunan isi penelitian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB II : TINJAUAN PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bab ini berisi tentang teori-teori kepustakaan yang melandasi  penelitian serta mendukung di dalam memecahkan masalah yang diangkat  dalam penulisan hukum ini, yaitu: tinjauan umum tentang pembuktian dan  tinjauan umum tentang alat bukti keterangan terdakwa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bab ini menguraikan mengenai pencabutan keterangan terdakwa dalam  persidangan, dalam hal ini adalah persidangan di Pengadilan Negeri Kelas  IA Surakarta, serta melihat implikasi yuridis dari pencabutan  keterangan terdakwa terhadap kekuatan alat bukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB IV : PENUTUP&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;LAMPIRAN&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Kerangka Teori&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Pengertian Pembuktian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KUHAP tidak memberikan penjelasan mengenai pengertian pembuktian,  KUHAP hanya memuat jenis-jenis alat bukti yang sah menurut hukum, yang  tertuang dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Walaupun KUHAP tidak memberikan  pengertian mengenai pembuktian, akan tetapi banyak ahli hukum yang  berusaha menjelaskan tentang arti dari pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Subekti (2001: 1) menerangkan bahwa “Membuktikan ialah meyakinkan  Hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam  suatu sengketa”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Martiman Prodjohamidjojo (1984: 11) mengemukakan membuktikan  mengandung maksud dan usaha untuk menyatakan kebenaran atas sesuatu  peristiwa, sehingga dapat diterima akal terhadap kebenaran peristiwa  tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud dengan pembuktian, adalah pembuktian bahwa benar suatu  peristiwa pidana telah terjadi dan terdakwalah yang bersalah  melakukannya, sehingga harus mempertanggungjawabkannya (Darwan Prinst,  1998: 133).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan  pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan  kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan  ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang  dan boleh dipergunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan (M.  Yahya Harahap, 2003: 273).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana  yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang  dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan bukti  tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak dan menilai  suatu pembuktian (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003: 10).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditinjau dari segi hukum acara pidana sebagaimana yang diatur dalam  KUHAP, telah diatur pula beberapa pedoman dan penggarisan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1). Penuntut umum bertindak sebagai aparat yang diberi wewenang untuk  mengajukan segala daya upaya membuktikan kesalahan yang didakwakannya  kepada terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2). Sebaliknya terdakwa atau penasihat hukum mempunyai hak untuk  melemahkan dan melumpuhkan pembuktian yang diajukan penuntut umum,  sesuai dengan cara-cara yang dibenarkan undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3). Terutama bagi hakim, harus benar-benar sadar dan cermat menilai  dan mempertimbangkan kekuatan pembuktian yang diketemukan selama  pemeriksaan persidangan (M. Yahya Harahap, 2003: 274).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Prinsip-Prinsip Pembuktian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip-prinsip pembuktian antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip ini terdapat pada Pasal 184 ayat (2) KUHAP yang berbunyi:  “Hal-hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan” atau  disebut dengan istilah notoire feiten.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara garis besar fakta notoir dibagi menjadi dua golongan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a) Sesuatu atau peristiwa yang diketahui umum bahwa sesuatu atau  peristiwa tersebut memang sudah demikian halnya atau semestinya  demikian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud sesuatu misalnya, harga emas lebih mahal dari perak.  Dan  yang dimaksud dengan peristiwa misalnya, pada tanggal 17 Agustus  diadakan peringatan hari kemerdekaan Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b) Sesuatu kenyataan atau pengalaman yang selamanya dan selalu  mengakibatkan demikian atau selalu merupakan kesimpulan demikian.  Misalnya, arak adalah termasuk minuman keras yang dalam takaran tertentu  bisa menyebabkan seseorang mabuk (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003:  20).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Menjadi saksi adalah kewajiban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kewajiban seseorang menjadi saksi diatur pada penjelasan Pasal 159  ayat (2) KUHAP yang menyebutkan: “Orang yang menjadi saksi setelah  dipanggil ke suatu sidang pengadilan untuk memberikan keterangan tetapi  dengan menolak kewajiban itu ia dapat dikenakan pidana berdasarkan  ketentuan undang-undang yang berlaku. Demikian pula dengan ahli.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Satu saksi bukan saksi (unus testis nullus testis)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip ini terdapat pada Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang berbunyi:  “Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa  terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut KUHAP, keterangan satu saksi bukan saksi tidak berlaku bagi  pemeriksaan cepat. Hal ini dapat disimpulkan dari penjelasan Pasal 184  KUHAP sebagai berikut: “Dalam acara pemeriksaan cepat, keyakinan hakim  cukup didukung satu alat bukti yang sah”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, ini berarti satu saksi, satu keterangan ahli, satu surat, satu  petunjuk, atau keterangan terdakwa disertai keyakinan hakim cukup  sebagai alat bukti untuk memidana terdakwa dalam perkara cepat (M. Yahya  Harahap, 2003: 267).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Pengakuan terdakwa tidak menghapuskan kewajiban penuntut umum  membuktikan kesalahan terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip ini merupakan penegasan dari lawan prinsip “pembuktian  terbalik” yang tidak dikenal oleh hukum acara pidana yang berlaku di  Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 189 ayat (4) KUHAP yang berbunyi: “Keterangan terdakwa  saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan  yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti  lain”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Keterangan terdakwa hanya mengikat pada dirinya sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip ini diatur pada Pasal 189 ayat (3) KUHAP yang berbunyi:  “Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini berarti apa yang diterangkan terdakwa di sidang pengadilan hanya  boleh diterima dan diakui sebagai alat bukti yang berlaku dan mengikat  bagi diri terdakwa sendiri (Adnan Paslyadja, 1997: 8-15).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut asas ini, apa yang diterangkan seseorang dalam persidangan  yang berkedudukan sebagai terdakwa, hanya dapat dipergunakan sebagai  alat bukti terhadap dirinya sendiri. Jika dalam suatu perkara terdakwa  terdiri dari beberapa orang, masing-masing keterangan setiap terdakwa  hanya merupakan alat bukti yang mengikat kepada dirinya sendiri.  Keterangan terdakwa A tidak dapat dipergunakan terhadap terdakwa B,  demikian sebaliknya (M. Yahya Harahap, 2003: 321).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Teori-Teori atau Sistem Pembuktian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa sistem atau teori pembuktian, yaitu antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Sistem Atau Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Semata  (Conviction In Time)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah tidaknya terdakwa terhadap  perbuatan yang didakwakan, sepenuhnya tergantung pada penilaian  “keyakinan” hakim semata-mata. Jadi bersalah tidaknya terdakwa atau  dipidana tidaknya terdakwa sepenuhnya tergantung pada keyakinan hakim.  Dan keyakinan hakim tidak harus timbul atau didasarkan pada alat bukti  yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekalipun alat bukti sudah cukup kalau hakim tidak yakin, hakim tidak  boleh menjatuhkan pidana, sebaliknya meskipun alat bukti tidak ada tapi  kalau hakim sudah yakin, maka terdakwa dapat dinyatakan bersalah.  Akibatnya dalam memutuskan perkara hakim menjadi subyektif sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem pembuktian conviction in time banyak digunakan oleh  negara-negara yang menggunakan sistem peradilan juri (jury rechtspraak)  misalnya di Inggris dan Amerika Serikat (Hari Sasangka dan Lily Rosita,  2003: 15). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Sistem Atau Teori Pembuktian Berdasar Keyakinan Hakim Atas Alasan  Yang Logis (Conviction In Raisone)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem pembuktian Convition In Raisone masih juga mengutamakan  penilaian keyakinan hakim sebagai dasar satu-satunya alasan untuk  menghukum terdakwa, akan tetapi keyakinan hakim disini harus disertai  pertimbangan hakim yang nyata dan logis, diterima oleh akal pikiran yang  sehat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keyakinan hakim tidak perlu didukung alat bukti sah karena memang  tidak diisyaratkan, meskipun alat-alat bukti telah ditetapkan oleh  undang-undang tetapi hakim bisa menggunakan alat-alat bukti di luar  ketentuan undang-undang. Yang perlu mendapat penjelasan adalah bahwa  keyakinan hakim tersebut harus dapat dijelaskan dengan alasan yang  logis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keyakinan hakim dalam sistem pembuktian convition in raisone harus  dilandasi oleh “reasoning” atau alasan-alasan. Dan reasoning itu sendiri  harus pula “reasonable” yakni berdasarkan alasan-alasan yang dapat  diterima oleh akal dan nalar, tidak semata-mata berdasarkan keyakinan  yang tanpa batas. Sistem pembuktian ini sering disebut dengan sistem  pembuktian bebas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Sistem Atau Teori Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif  (Positief Wettelijk)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem ini ditempatkan berhadap-hadapan dengan sistem pembuktian  conviction in time, karena sistem ini menganut ajaran bahwa bersalah  tidaknya terdakwa didasarkan kepada ada tiadanya alat-alat bukti sah  menurut undang-undang yang dapat dipakai membuktikan kesalahan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori positif wetteljik sangat mengabaikan dan sama sekali tidak  mempertimbangkan keyakinan hakim. Jadi sekalipun hakim yakin akan  kesalahan yang dilakukan kepada terdakwa, akan tetapi dalam pemeriksaan  di persidangan pengadilan perbuatan terdakwa tidak didukung alat bukti  yang sah menurut undang-undang maka terdakwa harus dibebaskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada pokoknya apabila seorang terdakwa sudah memenuhi cara-cara  pembuktian dan alat bukti yang sah menurut undang-undang maka  terdakwatersebut bisa dinyatakan bersalah dan harus dipidana. Kebaikan  sistem pembuktian ini, yakni hakim akan berusaha membuktikan kesalahan  terdakwa tanpa dipengaruhi oleh nuraninya sehingga benar-benar obyektif  karena menurut cara-cara dan alat bukti yang di tentukan oleh  undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem pembuktian positif yang dicari adalah kebenaran formal, oleh  karena itu sistem pembuktian ini digunakan dalam hukum acara perdata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Sistem Atau Teori Pembuktian Menurut Undang-undang Secara Negatif  (Negatief Wettelijk Stelsel)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem pembuktian negatief wettelijk terletak antara dua sistem yang  berhadap-hadapan, yaitu antara sistem pembuktian positif wettelijk dan  sistem pembuktian conviction intime. Artinya hakim hanya boleh  menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan   apabila ia yakin dan keyakinannya tersebut didasarkan kepada alat-alat  bukti yang sah menurut undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sistem negatif wetteljik ada dua hal yang merupakan syarat  untuk membuktikan kesalahan terdakwa, yakni: pertama, Wettelijk yaitu  adanya alat-alat bukti yang sah dan ditetapkan oleh undang-undang dan  kedua, Negatif, yaitu adanya keyakinan (nurani) dari hakim, sehingga  berdasarkan bukti-bukti tersebut hakim meyakini kesalahan terdakwa.  Antara alat-alat bukti dengan keyakinan diharuskan adanya hubungan  causal (sebab akibat).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, walaupun kesalahan terdakwa telah terbukti menurut cara  dan dengan alat-alat bukti sah menurut undang-undang, akan tetapi bila  hakim tidak yakin akan kesalahan terdakwa, maka ia dapat saja  membebaskan terdakwa. Sebaliknya meskipun hakim yakin akan kesalahan  terdakwa, tetapi keyakinannya tidak didasarkan atas alat-alat bukti sah  menurut undang-undang, maka hakim harus menyatakan kesalahan terdakwa  tidak terbukti. Sistem inilah yang dipakai dalam sistem pembuktian  peradilan pidana di Indonesia (Adnan Paslyadja, 1997: 16-22).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Alat-Alat Bukti Yang Sah Dalam Pembuktian Hukum Acara Pidana &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu  perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti tersebut, dapat dipergunakan  sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran  adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan terdakwa (Hari Sasangka  dan Lily Rosita, 2003: 11).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat-alat bukti yang sah, adalah alat-alat yang ada hubungannya  dengan suatu tindak pidana, dimana alat-alat tersebut dapat dipergunakan  sebagai bahan pembuktian, guna menimbulkan keyakinan bagi hakim, atas  kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa  (Darwan Prinst,1998:135).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun alat-alat bukti yang sah menurut Pasal 184 ayat (1) KUHAP,  adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1). Keterangan saksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1 butir 27 KUHAP, keterangan saksi adalah salah satu alat  bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai  suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia  alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2). Keterangan ahli&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1 butir 28 KUHAP, keterangan ahli adalah keterangan yang  diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang  diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan  pemeriksaan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam  undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3). Surat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 187 KUHAP, Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat  (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah,  adalah: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(a) berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh  pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat  keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau  yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas  tentang keterangannya itu; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(b) surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan  atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam  tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi  pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(c) surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat  berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang  diminta secara resmi dan padanya; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(d) surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan  isi dari alat pembuktian yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4). Petunjuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 188 KUHAP ayat (1), Petunjuk adalah perbuatan, kejadian  atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan  yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa  telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5). Keterangan terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 189 ayat (1) KUHAP, Keterangan terdakwa adalah apa yang  terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang dilakukan atau yang  ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Tinjauan Umum Tentang Alat Bukti Keterangan Terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Dasar Hukum Alat Bukti Keterangan Terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1). Keterangan terdakwa:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal 184 huruf e dan Pasal 189 KUHAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2). Pemeriksaan terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal 175 sampai Pasal 178 KUHAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Pengertian Terdakwa dan Tersangka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1 butir 15 KUHAP terdakwa adalah seorang dituntut,  diperiksa dan diadili di sidang pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdakwa adalah orang yang karena perbuatan atau keadaannya  berdasarkan alat bukti minimal didakwa melakukan tindak pidana kemudian  dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan (Adnan Paslyadja,  1997: 69). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdakwa adalah seseorang yang diduga telah melakukan suatu tindak  pidana dan ada cukup alasan untuk dilakukan pemeriksaan di muka sidang  pengadilan (J.C.T. Simorangkir 1980: 167).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari rumusan di atas dapat disimpulkan, bahwa unsur-unsur dari terdakwa  adalah: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Diduga sebagai pelaku suatu tindak pidana;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Cukup alasan untuk melakukan pemeriksaan atas dirinya di depan sidang  pengadilan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Atau orang yang sedang dituntut, ataupun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Sedang diadili di sidang pengadilan (Darwan Prinst, 1998: 14-15). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tersangka akan berubah tingkatannya menjadi terdakwa setelah ada  bukti lebih lanjut yang memberatkan dirinya dan perkaranya sudah mulai  disidangkan di Pengadilan. Kedudukannya harus dipandang sebagai subjek  dan tidak boleh diperlakukan sekehendak hati oleh aparat penegak hukum  karena ia dilindungi oleh serangkaian hak yang diatur dalam KUHAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tersangka sendiri menurut Pasal 1 butir 14 KUHAP adalah seorang yang  karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut  diduga sebagai pelaku tindak pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Pengertian Alat Bukti Keterangan Terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat bukti keterangan terdakwa diatur secara tegas oleh Pasal 189   KUHAP, sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang  tentang perbuatan yang dilakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia  alami sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan  untuk membantu menemukan bukti di sidang asalkan keterangan itu didukung  oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan  kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya  sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia  bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus  disertai dengan alat bukti yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 189 ayat (1) KUHAP di atas, keterangan terdakwa ialah  apa yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan tentang perbuatan yang  ia lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Sehingga secara  garis besar keterangan terdakwa adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) apa yang terdakwa "nyatakan" atau "jelaskan" di sidang pengadilan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) dan apa yang dinyatakan atau dijelaskan itu ialah tentang  perbuatan yang terdakwa lakukan atau mengenai yang ia ketahui atau yang  berhubungan dengan apa yang terdakwa alami sendiri dalam peristiwa  pidana yang sedang diperiksa (M. Yahya Harahap, 2003: 319).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari pengertian-pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa  syarat sah keterangan terdakwa harus meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Apa yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Pernyataan terdakwa meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(a) Yang terdakwa lakukan sendiri,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(b) Yang terdakwa ketahui sendiri,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(c) Yang terdakwa alami sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal 184 ayat (1) KUHAP mencantumkan keterangan terdakwa sebagai  alat bukti yang kelima atau terakhir setelah alat bukti petunjuk. Hal  ini berbeda dengan HIR yang menempatkan keterangan terdakwa pada urutan  ketiga di atas petunjuk, hanya saja dalam HIR "keterangan terdakwa"  seperti dimuat pada Pasal 184 ayat (1) c KUHAP, menurut Pasal 295 butir 3  HIR disebut "pengakuan tertuduh". &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan kedua istilah ini bila ditinjau dari segi yuridis, terletak  pada pengertian "keterangan terdakwa" yang sedikit lebih luas dari  istilah "pengakuan tertuduh", karena pada istilah "keterangan terdakwa"  sekaligus meliputi "pengakuan" dan "pengingkaran", sedangkan dalam  istilah "pengakuan tertuduh", hanya terbatas pada pernyataan pengakuan  itu sendiri tanpa mencakup pengertian pengingkaran (M. Yahya Harahap,  2003: 318). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga dapat dilihat dengan jelas bahwa “keterangan terdakwa”  sebagai alat bukti tidak perlu sama atau berbentuk pengakuan. Semua  keterangan terdakwa hendaknya didengar. Apakah itu berupa penyangkalan,  pengakuan, ataupun pengakuan sebagian dari perbuatan atau keadaan (Andi  Hamzah, 2002: 273).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan alasan ditempatkannya keterangan terdakwa pada urutan  ketiga diatas petunjuk dalam HIR, karena suatu petunjuk dapat diperoleh  dari keterangan terdakwa, maka dalam hal yang demikian petunjuk hanya  bisa diperoleh setelah lebih dahulu memeriksa terdakwa (Adnan Paslyadja,  1997: 69).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Asas Penilaian Keterangan Terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah barang tentu tidak semua keterangan terdakwa dinilai sebagai  alat bukti yang sah. Untuk menentukan sejauh mana keterangan terdakwa  dapat dinilai sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang,  diperlukan beberapa asas sebagai landasan berpijak, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Keterangan itu dinyatakan di sidang pengadilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterangan yang diberikan di persidangan adalah pernyataan berupa  penjelasan yang diutarakan sendiri oleh terdakwa dan pernyataan yang  berupa penjelasan atau jawaban terdakwa atas pertanyaan dari ketua  sidang, hakim anggota, dan penuntut umum atau penasihat hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Tentang perbuatan yang terdakwa lakukan, ketahui, atau alami  sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernyataan terdakwa meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(a) Tentang perbuatan yang terdakwa lakukan sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdakwa sendirilah yang melakukan perbuatan itu, dan bukan orang  lain selain terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(b) Tentang apa yang diketahui sendiri oleh terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdakwa sendirilah yang mengetahui kejadian itu. Mengetahui disini  berarti ia tahu tentang cara melakukan perbuatan itu atau bagaimana  tindak pidana tersebut dilakukan. Bukan berarti mengetahui dalam arti  keilmuan yang bersifat pendapat, tetapi semata-mata pengetahuan  sehubungan dengan peristiwa pidana yang didakwakan kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(c) Tentang apa yang dialami sendiri oleh terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdakwa sendirilah yang mengalami kejadian itu, yaitu pengalaman  dalam hubungannya dengan perbuatan yang didakwakan. Namun apabila  terdakwa menyangkal mengalami kejadian itu, maka penyangkalan demikian  tetap merupakan keterangan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(d) Keterangan terdakwa hanya merupakan alat bukti terhadap dirinya  sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut asas ini, apa yang diterangkan seseorang dalam persidangan dalam  kedudukannya sebagai terdakwa, hanya dapat dipergunakan sebagai alat  bukti terhadap dirinya sendiri. Jika dalam suatu perkara terdakwa  terdiri dari beberapa orang, masing-masing keterangan terdakwa hanya  mengikat kepada dirinya sendiri. Dengan kata lain keterangan terdakwa  yang satu tidak boleh dijadikan alat bukti bagi terdakwa lainnya (M.  Yahya Harahap, 2003: 320-321). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Keterangan Terdakwa Saja Tidak Cukup Membuktikan Kesalahannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asas ini ditegaskan dalam Pasal 189 ayat (4); "Keterangan terdakwa  saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan  yang didakwakan kepadanya melainkan harus disertai dengan alat bukti  yang lain".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hakikatnya asas ini hanya merupakan penegasan kembali prinsip  batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP. Pasal 183  KUHAP telah menentukan asas pembuktian bahwa untuk menjatuhkan hukuman  pidana terhadap seorang terdakwa, kesalahannya harus dapat dibuktikan;  “dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah” (M. Yahya Harahap,  2003: 322). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f. Keterangan Terdakwa di Luar Sidang (The Confession Outside the  Court)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu asas penilaian yang menentukan sah atau tidaknya  keterangan terdakwa sebagai alat bukti adalah bahwa keterangan itu harus  diberikan di sidang pengadilan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan asas ini dapat disimpulkan, bahwa keterangan terdakwa yang  dinyatakan di luar sidang pengadilan sama sekali tidak mempunyai nilai  sebagai alat bukti sah. Walaupun keterangan terdakwa yang dinyatakan di  luar sidang pengadilan tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti, namun  menurut ketentuan Pasal 189 ayat (2) KUHAP, keterangan terdakwa yang  diberikan di luar sidang dapat dipergunakan untuk "membantu" menemukan  alat bukti di sidang pengadilan, dengan syarat keterangan di luar sidang  didukung oleh suatu alat bukti yang sah, dan keterangan yang dinyatakan  di luar sidang sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepada terdakwa  (M. Yahya Harahap, 2003: 323). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bentuk keterangan yang dapat dikualifikasi sebagai keterangan  terdakwa yang diberikan di luar sidang ialah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) keterangan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) dan keterangan itu itu dicatat dalam berita acara penyidikan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) serta berita acara penyidikan itu ditandatangani oleh pejabat  penyidik dan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kualifikasi di atas sesuai dengan ketentuan Pasal 75 ayat (1) huruf a  jo. Ayat (3) KUHAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;g. Nilai Kekuatan Pembuktian Keterangan Terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum dapat dikatakan bahwa undang-undang tidak dapat menilai  keterangan terdakwa sebagai alat bukti yang memiliki nilai pembuktian  yang sempurna, mengikat, dan menentukan. Namun demikian, keterangan  terdakwa tetap memiliki pengaruh terhadap proses persidangan. Adapun  nilai kekuatan pembuktian alat bukti keterangan terdakwa dapat  dirumuskan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Sifat nilai kekuatan pembuktiannya adalah bebas &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti  keterangan terdakwa, dan hakim bebas untuk menilai kebenaran yang  terkandung di dalam keterangan terdakwa. Hakim dapat menerima atau  menyingkirkan keterangan terdakwa sebagai alat bukti dengan jalan  mengemukakan alasan-alasan disertai dengan argumentasi yang proporsional  dan akomodatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Harus memenuhi batas minimum pembuktian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana ketentuan Pasal 189 ayat (4) yang menyebutkan,  "keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia  bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya melainkan harus  disertai dengan alat bukti yang lain". Dari ketentuan ini jelas dapat  disimak keharusan mencukupkan alat bukti keterangan terdakwa dengan  sekurang-kurangnya satu lagi alat bukti yang lain, sehingga mempunyai  nilai pembuktian yang cukup. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penegasan Pasal 189 ayat (4) KUHAP, sejalan dan mempertegas asas  batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, yang  menegaskan, bahwa tidak seorang terdakwa pun dapat dijatuhi pidana  kecuali jika kesalahan yang didakwakan kepadanya telah dapat dibuktikan  dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Harus memenuhi asas keyakinan hakim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekalipun kesalahan terdakwa telah terbukti sesuai dengan asas batas  minimum pembuktian, tetapi masih perlu dibarengi dengan "keyakinan  hakim", bahwa memang terdakwa yang bersalah melakukan tindak pidana yang  didakwakan kepadanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asas keyakinan hakim harus melekat pada putusan yang diambilnya  sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut Pasal 183 KUHAP yaitu  "pembuktian menurut undang-undang secara negatif". Artinya, di samping  dipenuhi batas minimum pembuktian dengan alat bukti yang sah, maka dalam  pembuktian yang cukup tersebut harus dibarengi dengan keyakinan hakim  bahwa terdakwalah yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan  kepadanya (M. Yahya Harahap, 2003: 332-333).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketentuan yang terkait dengan nilai kekuatan pembuktian keterangan  terdakwa sebagaimana yang diutarakan di atas masih dapat ditambah dengan  rumusan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Keterangan terdakwa yang diberikan di sidang pengadilan tentang  perbuatan yang ia lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri,  merupakan alat bukti keterangan terdakwa yang sah menurut undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Keterangan terdakwa sekalipun bersifat pengakuan atas perbuatan  pidana yang didakwakan, tetapi tidak didukung dengan alat bukti sah  lainnya, tidak cukup untuk menyatakan terdakwa telah bersalah melakukan  perbuatan yang didakwakan karena tidak memenuhi batas minimumnya  pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Penyangkalan terdakwa yang melalui alat bukti lain dapat  dibuktikan sebagai kebohongan dapat diterima sebagai alat bukti  petunjuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang mengenai hal  yang didakwakan sepanjang bersesuaian dengan alat bukti sah lainnya  dapat berupa alat bukti petunjuk, setidak-tidaknya dapat digunakan untuk  membantu menemukan bukti di sidang (Adnan Paslyadja, 1997: 73).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B. Kerangka Pemikiran &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB III&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Pencabutan Keterangan Terdakwa Dalam Persidangan (di Pengadilan  Negeri Kelas IA Surakarta)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Deskripsi Kasus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paparan kasus perkara perkosaan di Pengadilan Negeri Kelas IA  Surakarta Nomor: 306/Pid.B/2003/PN.Ska:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Kasus Posisi Putusan Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta Nomor:  306/Pid.B/2003/PN.Ska. Identitas Terdakwa: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Nama Lengkap : JOKO KUSTIONO alias GEPENG.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Tempat Lahir  : Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Umur/Tanggal Lahir : 24 Tahun/10 September 1979.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Jenis Kelamin  : Laki-laki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Kebangsaan  : Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6) Tempat Tinggal : Kandangsapi RT.01/35 Jebres Surakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7) Agama   : Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8) Pekerjaan  : Buruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa terdakwa JOKO KUSTIONO pada hari Rabu tanggal 1 Oktober 2003  sekitar jam 10.00 WIB bertempat di kamar mandi di rumah saksi AGUSTIN  SETYAWATI Kelurahan Kandang sapi RT. 01/XXXV. Kecamatan Jebres Kota  Surakarta. telah melakukan pemerkosaan terhadap saksi AGUSTIN SETYAWATI  atau telah bersetubuh dengan saksi AGUSTIN SETYAWATI yang bukan istrinya  atau di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus  diduga bahwa umurnya belum cukup 15 tahun atau belum waktunya untuk  kawin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Primair: Perbuatan terdakwa diatur dan diancam dengan pidana  menurut Pasal 285 Jo Pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan Anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Subsidair: Perbuatan terdakwa diatur dan diancam dengan pidana  menurut Pasal 287 ayat (1) KUHP tentang perkosaan terhadap anak di bawah  umur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh selama pemeriksaan di  persidangan, akan diuraikan unsur-unsur dakwaan primair dalam Pasal 285  KUHP Jo Pasal 81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002  tentang Perlindungan Anak, adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Unsur barang siapa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang dimaksud barang siapa di sini adalah setiap orang atau siapa saja  sebagai subyek hukum yang dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya  jelas di sini yang dimaksud adalah terdakwa yang telah melakukan tindak  pidana perkosaan atas dasar keterangan saksi-saksi, surat, barang bukti  petunjuk, walaupun terdakwa sendiri tidak mengakuinya, karena hal yang  demikian adalah petunjuk bagi kesalahan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan apa yang telah dilakukan oleh terdakwa dapat  dipertanggungjawabkan kepadanya karena sepanjang pemeriksaan  dipersidangan terdakwa selalu dalam keadaan sehat jasmani dan sehat  rohani. Dan tidak ada hal-hal yang dapat menghapuskan pidana bagi  terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan  yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika unsur ini dihubungkan dengan keterangan saksi-saksi yang  menyatakan, bahwa telah terjadi perkosaan atau persetubuhan dengan paksa  yang dilakukan oleh terdakwa pada hari Rabu tanggal 1 Oktober 2003  sekitar jam 10.00 WIB, bertempat di dalam kamar mandi di rumah saksi  korban Agustin Setyawati dimana terdakwa telah mendatangi saksi korban  dan dengan memegang tangan saksi korban dan menyentakannya lalu terdakwa  mengatakan dengan nada mengancam untuk diam tidak usah berteriak awas  kalau berteriak atau melawan akan disembelih, sehingga dengan kata-kata  tersebut saksi Agustin Setyawati ketakutan dan tidak berdaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng memegang kemaluan saksi  Agustin lalu membuka rok dan menurunkan celana dalamnya, kemudian  terdakwa juga membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, lalu  dalam keadaan berdiri tersangka Joko Kustiona alias Gepeng menyetubuhi  saksi Agustin Setyawati yang bukan istrinya, dengan memasukkan alat  kelaminnya atau penisnya ke dalam vagina atau alat kelamin saksi Agustin  Setyawati sampai mengeluarkan air mani dan merasa nikmat sekali, dan  perbuatan tersebut dilakukan sampai empat kali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu setelah selesai menyetubuhi saksi Agustin Setyawati, terdakwa  Joko Kustiono alias Gepeng langsung meninggalkan saksi Agustin  sendirian, sehingga saksi Agustin Setyawati menderita sakit sekali dan  pada ditemukan luka baru menunjuk jam 3, 5, 7, 9, 12, dan terdapat sisa  sperma pada liang vagina, sebagaimana disebutkan dalam Visum Et Repertum  No.Pol.R./VER.224/X/2003/Dokkes tanggal 22 Oktober 2003 dari Seksi  Kedokteran dan Kesehatan Polwil Surakarta, yang dibuat oleh Dr. Naniek  Darwati, yang menyimpulkan bahwa terdapat luka baru pada selaput dara  akibat bersentuhan dengan benda tumpul, walaupun terdakwa sendiri tidak  mengakui perbuatannya dan telah mencabut atau tidak mengakui  keterangannya, karena hal yang demikian adalah petunjuk terbuktinya  perbuatan terdakwa. Maka dari uraian tersebut di atas jelas unsur ini  telah terbukti secara sah dan menurut hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Unsur setiap orang;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Unsur setiap orang ini adalah identik dengan barang siapa, yang telah  dibuktikan tersebut diatas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Unsur yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman  kekerasan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa terdakwa mendatangi rumah korban Agustin Setyawati dan  mengikutinya ke kamar mandi adalah perbuatan yang dimaksudkan atau yang  diinginkan oleh terdakwa untuk melakukan persetubuhan dengan paksa, dan  ini telah nyata-nyata dilakukan oleh terdakwa dengan menghentakan tangan  saksi korban Agustin Setyawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdakwa juga melakukan dengan mengatakan jangan berteriak dan kalau  berteriak akan disembelih sehingga saksi korban takut dan tidak berdaya,  sehingga terdakwa dapat melakukan keinginannya menyetubuhi saksi korban  Agustin Setyawati dengan memasukkan alat kelamin terdakwa ke dalam alat  kelamin saksi Agustin Setyawati, sehingga merasa enak dan sampai keluar  air mani.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Unsur memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan  orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa dari keterangan saksi-saksi, terdakwa masuk ke dalam rumah dan  terus masuk ke dalam kamar mandi yang didalamnya ada saksi korban  Agustin Setyawati, seorang perempuan yang bukan istrinya yang masih  tergolong anak-anak dan masih berusia 13 (tiga belas) tahun dan dengan  menyentakkan tangannya serta mengatakan jangan berteriak dan kalau  berteriak akan disembelih sehingga saksi korban Agustin Setyawati takut  dan berdiam diri dan menuruti kemauan terdakwa lalu terdakwa mulai  membuka celana dalam saksi korban Agustin Setyawati dan membuka celana  dalamnya sendiri lalu menyetubuhi dengan memasukkan alat kelaminnya ke  dalam alat kelamin saksi korban Agustin Setyawati, sehingga mengeluarkan  air mani. Jelas unsur ini telah terbukti secara sah dan menurut hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena semua unsur dakwaan primair dalam Pasal 285 KUHP Jo Pasal  81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan Anak telah dinyatakan terbukti secara sah dan menurut  hukum, maka Jaksa Penuntut Umum pada pokoknya menuntut supaya  Hakim/Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini berkenan  memutus hal-hal sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Menyatakan terdakwa JOKO KUSTIONO alias GEPENG bersalah melakukan  tindak pidana perkosaan sebagaimana diatur dalam Pasal 285 KUHP Jo Pasal  81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan Anak, dalam surat dakwaan Primair.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa JOKO KUSTIONO alias GEPENG  dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) tahun dikurangkan masa penahanan  sementara dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan dipidana denda  sebesar Rp. 60.000.000,- subsidair 6 (enam) bulan kurungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Menyatakan barang bukti berupa satu buah celana dalam warna kusam  dikembalikan kepada saksi Agustin Setyawati atau yang paling berhak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Menetapkan agar terdakwa JOKO KUSTIONO alias GEPENG dibebani  membayar biaya perkara sebesar Rp. 2000,-.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Pembelaan Terdakwa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan yang diberikan Majelis Hakim kepada terdakwa untuk  mengajukan pembelaan, penasehat hukum pada pokoknya memohon agar  terdakwa diberikan ampunan dan keringanan seringan-ringannya, sementara  dari terdakwa sendiri secara lisan mohon supaya dijatuhi hukuman yang  seringan-ringannya, dengan alasan menyesali perbuatannya dan berjanji  tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Pertimbangan-Pertimbangan Hakim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang bahwa, dalam dakwaan Primair yaitu Pasal 285 KUHP Jo Pasal  81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan Anak mengandung unsur sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Barang siapa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan  istrinya bersetubuh dengan dia atau orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Perempuan tersebut masih berstatus anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan satu  persatu dari seluruh unsur yang terkandung dalam Pasal 285 KUHP Jo  Pasal 81 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang  Perlindungan Anak tersebut di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a) Unsur Barang Siapa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa unsur barang siapa adalah menunjuk siapa saja atau  orang sebagai subjek hukum yang diajukan ke muka persidangan oleh  Penuntut Umum karena didakwa melakukan suatu tindak pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa yang dimaksud unsur barang siapa dalam perkara ini  adalah Joko Kustiono alias Gepeng yang telah ditanyakan identitasnya di  muka persidangan, ternyata sesuai dengan identitas terdakwa yang termuat  dalam surat dakwaan Penuntut Umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan,  apakah benar terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng tersebut di atas benar  orang yang dimaksudkan oleh Jaksa Penuntut Umum sebagai orang yang  melakukan tindak pidana? maka Majelis Hakim akan menghubungkan unsur  berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b) Unsur “Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan  yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia atau orang lain”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa sebagaimana fakta-fakta yang terungkap di muka  persidangan, bahwa sejak semula terdakwa Joko Kustiono telah menyangkal  dakwaan Penuntut Umum dan mencabut Berita Acara pemeriksaan terdakwa  yang dibuat oleh penyidik, dengan alasan waktu itu dipaksa untuk  mengaku, akan tetapi pada akhir persidangan yaitu pada acara pledoi atau  pembelaan, Penasehat Hukum terdakwa secara tertulis memohon agar  terdakwa diberikan ampunan dan diringankan seringan-ringannya, sementara  terdakwa sendiri secara lisan mohon kepada Majelis Hakim supaya  dijatuhi hukuman yang seringan-ringannya, dengan alasan terdakwa sangat  menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa dari fakta-fakta sebagaimana terurai di atas, maka  terungkap bahwa terdakwa Joko Kustiono telah mengakui perbuatannya  sebagaimana dakwaan Penuntut Umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas  dihubungkan dengan fakta-fakta yang terungkap di muka persidangan,  terungkap bahwa pada hari  Rabu tanggal 1 Oktober 2003 sekitar jam 10.00  WIB, terdakwa telah mendatangi korban yang sedang berada di dalam kamar  mandi korban, kemudian memegangi tangan korban dan menyentakannya  sambil mengatakan dengan nada mengancam “diam, tidak usah berteriak,  awas kalau berteriak atau melawan akan disembelih”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa dengan kata-kata tersebut saksi Agustin Setyawati  ketakutan dan tidak berdaya dan kemudian terdakwa memegang kemaluan  saksi Agustin lalu membuka rok dan menurunkan celana dalamnya, kemudian  terdakwa juga membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, lalu  terdakwa memasukan kemaluannya yang sudah menegang ke dalam kemaluan  korban Agustin Setyawati sambil berdiri, sampai terdakwa mengeluarkan  air mani, hal tersebut sesuai pula dengan visum et repertum yang dibuat  dan ditandatangani oleh Dr. Naniek Darwati dokter dari Seksi Kedokteran  dan Kesehatan Polwil Surakarta dengan No.Pol.R./VER. 224/X/2003/Dokkes  tanggal 22 Oktober 2003 dengan kesimpulan bahwa di vagina ditemukan luka  baru menunjuk jam 3, 5, 7, 9, 12, dan ditemukan sisa sperma pada liang  vagina. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa terdakwa sudah mengerti bahwa korban Agustin  Setyawati adalah bukan istrinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka  terbukti bahwa terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng adalah benar orang  yang atau subyek hukum yang melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan  Penuntut Umum pada bagian primair tersebut sehingga dengan demikian  kedua unsur tersebut di atas telah terpenuhi menurut hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c) Unsur “Perempuan tersebut masih berstatus anak-anak”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa dari fakta-fakta yang terungkap di muka persidangan,  bahwa Agustin Setyawati adalah masih berusia 13 (tiga belas) tahun  dimana menurut UURI No. 81 Tahun 2002, bahwa yang dimaksud dengan anak  adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, hal  tersebut sesuai dengan bukti surat kelahiran serta keterangan saksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa dengan demikian unsur ini telah terpenuhi pula  menurut hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka  terbukti seluruh unsur dari Pasal 285 KUHP Jo Pasal 81 Undang-Undang  Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak  tersebut di atas telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa, oleh karenanya  terdakwa tersebut haruslah dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana  sebagaimana tersebut dan kepadanya harus dihukum dengan hukuman yang  setimpal dengan perbuatannya yaitu berupa pidana penjara dan denda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa oleh karena dakwaan Penuntut Umum pada bagian  primair telah terbukti, maka dakwaan subsidair tidak perlu  dipertimbangkan lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa selama proses pemeriksaan perkara ini tidak  ditemukan adanya alasan pembenar maupun pemaaf terhadap diri terdakwa,  maka terhadap terdakwa tersebut haruslah mempertanggung jawabkan atas  perbuatannya yang telah dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa terhadap barang bukti berupa celana dalam warna  kusam haruslah dikembalikan kepada pemiliknya yaitu saksi Agustin  Setyawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa oleh karena selama pemeriksaan perkara ini terdakwa  ditahan, maka cukup alasan bagi Majelis untuk mengurangkan lamanya  terdakwa ditahan dari pidana penjara yang dijatuhkan, serta  memerintahkan supaya terdakwa tetap ditahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa dinyatakan bersalah dan  dihukum, maka kepadanya dihukum pula untuk membayar biaya perkara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan pidana, Majelis akan  mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun hal-hal yang  meringankan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal-hal yang memberatkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Terdakwa tidak mengakui perbuatannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Terdakwa tidak merasa bersalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Terdakwa tidak menyesal karena merasa tidak berbuat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Terdakwa berbelit-belit dalam memberikan keterangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal-hal yang meringankan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Terdakwa masih muda dan belum pernah dihukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Terdakwa mempunyai tanggungan seorang isteri dan seorang anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f. Putusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan fakta-fakta hukum dan pertimbangan-pertimbangan diatas,  Majelis Hakim memutuskan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;M E N G A D I L I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Menyatakan terdakwa JOKO KUSTIONO alias GEPENG telah terbukti  secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “PERKOSAAN”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 5  (lima) tahun dan denda Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah)  subsidair 3 bulan kurungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani terdakwa  dikurangkan sepenuhnya dari pidana yang dijatuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Menetapkan barang bukti berupa celana dalam warna kusam  dikembalikan kepada saksi Agustin Setyawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6) Membebankan pula kepada terdakwa untuk membayar ongkos perkara ini  sebesar Rp. 2000,- (dua ribu rupiah).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Pembahasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang  tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia  alami sendiri” (Pasal 189 ayat (1) KUHAP).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berpijak pada ketentuan Pasal 189 ayat (1) KUHAP di atas, pada  prinsipnya keterangan terdakwa adalah apa yang diberikan terdakwa di  sidang pengadilan. Meskipun demikian ketentuan itu ternyata tidak  mutlak, karena keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat  pula digunakan untuk membantu menemukan bukti di persidangan asalkan  keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang  mengenai hal yang didakwakan kepadanya (Pasal 189 ayat (2) KUHAP).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam persidangan, sering kali dijumpai bahwa terdakwa menyangkal,  sebagian atau semua keterangan pengakuan yang diberikannya di tingkat  penyidikan. Dengan alasan, bahwa pada saat memberikan keterangan di  hadapan penyidik, terdakwa dipaksa atau diancam dengan kekerasan baik  fisik maupun psikis untuk mengakui tindak pidana yang didakwakan  kepadanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini dapat dimaklumi karena pada prinsipnya KUHAP menganut asas  fair trial, dimana dalam asas ini terdakwa memiliki hak untuk memberikan  keterangan secara bebas (Pasal 153 ayat (2) huruf b KUHAP), termasuk  hak untuk menarik keterangannya di sidang pengadilan. Namun satu hal  yang perlu diingat, KUHAP hanya memberikan jaminan kebebasan untuk  memberikan keterangan, bukan kebebasan untuk menyampaikan kebohongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menyangkal atau mengingkari pengakuan tersebut, maka  sesungguhnya terdakwa telah melakukan pencabutan keterangan di  persidangan, yaitu keterangan yang terkait dengan pengakuan yang telah  diberikan terdakwa di hadapan penyidik dan tertuang dalam Berita Acara  Pemeriksaan (BAP).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Intinya bahwa keterangan terdakwa yang dicabut dalam persidangan  pengadilan adalah keterangan pengakuan terdakwa yang diberikan pada saat  pemeriksaan penyidikan. Dan pengakuan tersebut dimuat dalam Berita  Acara Pemeriksaan penyidikan yang ditandatangani oleh terdakwa dan  penyidik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan hasil pemeriksaan di persidangan, diketahui bahwa benar  telah terjadi pencabutan keterangan terdakwa, dimana terdakwa Joko  Kustiono alias Gepeng dalam keterangannya di persidangan, menarik  seluruh keterangan pengakuan yang diberikannya pada tingkat pemeriksaan  penyidikan di kepolisian. Dengan alasan bahwa pada waktu diinterogasi di  depan Penyidik, terdakwa dipaksa untuk mengaku dan dipukul sehingga  merasa tersiksa baik fisik maupun psikisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterangan terdakwa di muka persidangan yang menyangkal atau  mengingkari isi BAP dari Penyidik inilah, yang merupakan inti dari  bentuk pencabutan keterangan terdakwa dalam persidangan, dimana dalam  persidangan terdakwa Joko Kustiono secara jelas dan terbukti telah  menyangkal tuntutan Penuntut Umum dengan memberikan keterangan kepada  Majelis Hakim yang pada pokoknya terdakwa tidak membenarkan seluruh isi  dari BAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menjelaskan perihal terjadinya pencabutan keterangan oleh  terdakwa Joko Kustiono dalam persidangan, berikut akan diuraikan  fakta-fakta yang menandakan telah terjadinya pencabutan keterangan  terdakwa dalam persidangan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Fakta dari hasil pemeriksaan alat bukti keterangan terdakwa dalam  persidangan disesuaikan dengan pengakuan terdakwa dalam BAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut beberapa hasil pemeriksaan di pengadilan terhadap terdakwa  Joko Kustiono alias Gepeng yang menunjukan adanya penyangkalan atas isi  BAP berdasarkan pertanyaan hakim dalam persidangan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng mengatakan, bahwa dirinya  tidak pernah memberikan keterangan mengenai waktu dan tempat terjadinya  tindak pidana perkosaan, sebagaimana yang termuat dalam BAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng mengatakan, bahwa dirinya  tidak pernah memberikan keterangan mengenai cara memperkosa korban  Agustin Setyawati, sebagaimana yang termuat dalam BAP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng mengatakan, bahwa semua isi  BAP tidak benar karena terdakwa merasa dirinya tidak pernah melakukan  tindak pidana perkosaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng mengatakan, bahwa pada saat  diperiksa oleh Penyidik dirinya diancam (dipaksa) dan dipukul dengan  kayu rotan oleh penyidik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng menerangkan, bahwa pada hari  Rabu, tanggal 1 Oktober 2003 sekitar jam 10.00 WIB, ia sedang mengejar  ayam miliknya lewat dekat rumah Agustin dan pada waktu itu terdakwa tahu  bahwa Agustin sedang di kamar mandi, kemudian terdakwa menyuruh Agustin  untuk keluar dari kamar mandi dengan iming-iming akan diberikan uang  Rp.1000,00 bila Agustin mau keluar dari kamar mandi. Sehingga terdakwa  menganggap keterangan dalam BAP yang mengatakan bahwa pada hari Rabu,  tanggal 1 Oktober 2003 sekitar jam 10.00 WIB dirinya melakukan tindak  pidana perkosaan adalah tidak benar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari uraian di atas, diketahui bahwa terdakwa Joko Kustiono alias  Gepeng telah menyangkal semua isi BAP atau mengingkari semua pengakuan  yang diberikannya di tingkat pemeriksaan penyidikan, selain itu terdakwa  juga memberikan keterangan baru yang tidak diutarakan di depan  penyidik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya penyangkalan atau pengingkaran tersebut, maka terbukti  bahwa terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng benar-benar telah mencabut  keterangannya di sidang pengadilan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Fakta yang termuat dalam surat penuntutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam petikan surat tuntutan juga terdapat keterangan yang menunjukan  adanya pencabutan keterangan terdakwa dalam persidangan, antara lain  sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Keterangan terdakwa yang tidak mengakui Berita Acara Pemeriksaan  dari Penyidik dan tidak mengakui perbuatannya dan memberikan keterangan  yang berbelit-belit, juga mencabut semua keterangan yang diberikannya  waktu penyidikan, adalah tanpa alasan yang mendasar”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari petikan surat tuntutan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada  prinsipnya Penuntut Umum juga menilai telah terjadi pencabutan  keterangan terdakwa di persidangan. Penilaian penuntut umum ini semakin  memperjelas, bahwa terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng memang telah  mencabut keterangannya di sidang pengadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Fakta yang tertuang dalam petikan putusan pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam petikan putusan pengadilan terutama pada bagian  pertimbangan-pertimbangan Majelis Hakim terhadap keterangan terdakwa,  juga terdapat penjelasan yang menandakan adanya pencabutan keterangan  terdakwa di persidangan. Berikut petikannya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa pada intinya terdakwa dalam keterangannya di muka persidangan  menyangkal semua dakwaan Penuntut Umum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa di muka persidangan terdakwa menarik seluruh keterangannya yang  tertuang di Berita Acara yang di buat Penyidik, dengan alasan bahwa  pada waktu diinterogasi di depan Penyidik terdakwa dipaksa untuk mengaku  dan waktu di depan Penyidik terdakwa di pukul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan fakta-fakta di atas, diketahui dan terbukti bahwa  terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng dalam persidangan benar-benar telah  mencabut keterangan pengakuan yang diberikannya di tingkat pemeriksaan  penyidikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian, yang menjadi masalah utama dalam penulisan hukum ini,  bukanlah masalah dicabut atau tidaknya keterangan terdakwa dalam  persidangan, melainkan masalah mengenai bagaimana hukumnya pencabutan  keterangan terdakwa tersebut, dibolehkan atau tidak? Apakah  undang-undang membenarkan pencabutan keterangan yang diberikan terdakwa  di luar sidang? Dan bagaimana sikap hakim dalam menghadapi dan menilai  keterangan pengakuan yang dicabut kembali oleh terdakwa? Untuk  menjawabnya, maka penulis dalam pembahasan ini akan menganalisa dan  melakukan tinjauan lebih lanjut terkait dengan masalah pencabutan  keterangan yang dilakukan oleh terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditinjau dari segi yuridis, terdakwa “berhak” dan dibenarkan  “mencabut kembali” keterangan pengakuan yang diberikan dalam penyidikan.  Undang-undang pun pada dasarnya tidak membatasi hak terdakwa untuk  mencabut kembali keterangan yang demikian, asalkan pencabutan dilakukan  selama pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung dan pencabutan itu  mempunyai landasan alasan yang berdasar dan logis (M. Yahya Harahap,  2003: 325).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencabutan kembali tanpa dasar yang logis adalah pencabutan yang  tidak dapat dibenarkan oleh hukum, sebagaimana ditegaskan oleh beberapa  yurisprudensi, yang dijadikan pedoman dalam praktek peradilan sampai  sekarang. Hal ini dapat dilihat dari putusan Mahkamah Agung tanggal 23  Februari 1960, No. 299 K/Kr/1959, yang menjelaskan: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“pengakuan terdakwa di luar sidang yang kemudian di sidang pengadilan  dicabut tanpa alasan yang berdasar merupakan petunjuk tentang kesalahan  terdakwa”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari putusan ini dapat dilihat, antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Pencabutan keterangan pengakuan yang dibenarkan hukum adalah  pencabutan yang dilandasi dengan alasan yang berdasar dan logis,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Pencabutan tanpa dasar alasan, tidak dapat diterima,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Penolakan pencabutan keterangan pengakuan, mengakibatkan pengakuan  tetap dapat dipergunakan sebagai pembantu menemukan alat bukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yurisprudensi yang senada dengan putusan di atas, antara lain putusan  Mahkamah Agung tanggal 25 Februari 1960, No. 225 K/Kr/1960, tanggal 25  Juni 1961, No. 6 K/Kr/1961 dan tanggal 27 September 1961, No. 5  K/Kr/196, yang menegaskan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“pengakuan yang diberikan di luar sidang tidak dapat dicabut kembali  tanpa dasar alasan” (M. Yahya Harahap, 2003: 327).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari putusan-putusan di atas jelaslah bahwa setiap pencabutan wajib  disertai dengan alasan yang berdasar dan logis. Pencabutan harus  disertai dengan alasan yang berdasar dan logis mengandung arti, bahwa  pencabutan tersebut harus didasari alasan-alasan yang dapat dibuktikan  kebenarannya. Sehingga bila ada terdakwa yang mencabut keterangannya di  persidangan dengan alasan bahwa pada saat pemeriksaan penyidikan dirinya  diancam, dipaksa atau dipukul oleh penyidik, maka hakim harus  membuktikan alasan tersebut terlebih dahulu, sebelum menerima atau  menolak pencabutan keterangan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walaupun pada dasarnya terdakwa dibolehkan untuk mencabut  keterangannya di persidangan, namun pada kenyataannya pencabutan  keterangan terdakwa di persidangan, sulit untuk dapat diterima oleh  Hakim, salah satu alasannya adalah bahwa setelah dilakukan cross check  dengan saksi verbalisan (penyidik) yang memeriksa terdakwa pada tingkat  penyidikan, ternyata alasan terdakwa yang mendasari pencabutan tersebut  tidak terbukti, sehingga pencabutan ditolak oleh hakim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada uraian di atas disebutkan bahwa terdakwa Joko Kustiono alias  Gepeng dalam persidangan pengadilan mencabut semua keterangan pengakuan  yang diberikannya di depan penyidik dengan alasan bahwa pada saat  diinterogasi di depan Penyidik, terdakwa dipaksa untuk mengaku dan  dipukul dengan kayu rotan sehingga merasa tersiksa baik fisik maupun  psikisnya. Akan tetapi, pada akhirnya yaitu saat pembacaan putusan,  hakim menolak pencabutan tersebut, dengan pertimbangan-pertimbangan  pokok sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa sejak awal persidangan telah pula didengar  keterangan saksi verbalisan yang telah disumpah menurut agamanya,  menerangkan bahwa pemeriksaan terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng tidak  ada pemaksaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa sejak awal persidangan yaitu pada waktu pemeriksaan  saksi-saksi, terdakwa menanggapi bahwa semua keterangan saksi yang  menyangkut inti dakwaan adalah tidak benar, akan tetapi pada akhir  persidangan yaitu pada waktu terdakwa ataupun penasehat hukum terdakwa  diberikan kesempatan untuk mengajukan pembelaan, pada pokoknya pembelaan  penasihat hukum terdakwa mohon supaya terdakwa diberikan ampunan dan  keringanan seringan-ringannya, sementara dari terdakwa sendiri secara  lisan mohon supaya dijatuhi hukuman yang seringan-ringannya, dengan  alasan menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka  tampak jelas terdakwa mengakui perbuatannya sebagaimana dakwaan penuntut  umum, dan oleh karenanya penyangkalan dan pencabutan keterangan yang  tertuang dalam Berita Acara Penyidik karena tidak beralasan dan  mengada-ada, maka haruslah ditolak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari petikan di atas diketahui bahwa setidaknya ada dua unsur penting  yang dijadikan alasan atau pertimbangan oleh hakim dalam menolak  pencabutan keterangan pengakuan terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng,  yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Unsur keterangan saksi verbalisan, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Unsur peninjauan terhadap pembelaan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terhadap kedua unsur di atas penulis akan mencoba untuk melakukan  analisa dan kajian lebih jauh dengan tujuan agar diperoleh pembahasan  yang lebih mendalam atas permasalahan dalam penulisan hukum ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Unsur keterangan saksi verbalisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa salah satu  pertimbangan hakim dalam menolak pencabutan tersebut karena adanya  keterangan saksi verbalisan yang menerangkan bahwa pemeriksaan terhadap  terdakwa di kantor polisi tidak ada pemaksaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya keterangan saksi verbalisan ini, maka alasan pencabutan  yang mengatakan dirinya (terdakwa) telah diancam, dipaksa untuk mengaku  dan dipukul oleh penyidik, tidak terbukti. Berdasarkan keterangan ini,  hakim menilai bahwa dengan tidak terbuktinya alasan pencabutan tersebut,  maka pencabutan tidak dapat diterima.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila dilihat dari kebiasaan yang terjadi dalam persidangan, setiap  kali terjadi pencabutan keterangan oleh terdakwa terkait dengan adanya  pemaksaan maupun penyiksaan dalam penyidikan, maka sudah dapat  dipastikan bahwa tindakan pertama dari hakim dalam menyikapi pencabutan  ini adalah dengan memanggil saksi verbalisan, guna dilakukan cross check  atau klarifikasi dengan penyidik, guna membuktikan kebenaran alasan  dari pencabutan keterangan terdakwa.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengetahui secara langsung keterangan dari saksi verbalisan  mengenai proses dan tata cara pemeriksaan yang dilakukan penyidik, maka  hakim akan mengetahui apakah telah terjadi pemaksaan atau ancaman  terhadap diri terdakwa pada saat penyidikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila ternyata dari hasil klarifikasi diketahui bahwa benar atau  terbukti telah terjadi pemaksaan, ancaman dan penyiksaan terhadap diri  terdakwa maka alasan pencabutan dapat diterima, sehingga keterangan yang  terdapat dalam BAP dianggap tidak benar, dan keterangan itu (BAP) tidak  dapat digunakan sebagai landasan untuk membantu menemukan bukti di  sidang pengadilan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, jika dari hasil klarifikasi diketahui ternyata tidak  terjadi pemaksaan, ancaman dan penyiksaan terhadap diri terdakwa, maka  alasan pencabutan tidak dibenarkan, sehingga keterangan pengakuan  terdakwa yang tercantum dalam BAP tetap dianggap benar dan hakim dapat  mempergunakannya sebagai alat untuk membantu menemukan bukti di sidang  pengadilan (M. Yahya Harahap, 2003: 326).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu besarnya pengaruh keterangan saksi verbalisan terhadap  diterima atau tidaknya pencabutan keterangan terdakwa, membuat kedudukan  keterangan saksi verbalisan menjadi sangat penting, terutama bagi  hakim. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat begitu besarnya peranan keterangan saksi verbalisan dalam  masalah pencabutan ini, maka penulis merasa perlu untuk mengkaji  dasar-dasar yang menjadi landasan hakim dalam mempercayai keterangan  saksi verbalisan tersebut, karena hakim tentunya mempunyai dasar yang  kuat dalam mempercayai keterangan saksi verbalisan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada dasarnya seorang hakim tidak boleh langsung mempercayai   keterangan saksi verbalisan, karena mungkin saja keterangan dari  penyidik juga terdapat unsur kebohongan, untuk menghindari hal tersebut  hakim memilik beberapa prinsip yang menjadi landasan hakim dalam menilai  kebenaran keterangan saksi verbalisan, antara lain yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a) Dengan disumpah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumpah dilakukan menurut agama atau keyakinan saksi verbalisan,  sumpah bertujuan agar saksi verbalisan dalam memberikan keterangannya  tidak berdusta. Karena sumpah dilakukan atas nama Tuhan, maka diyakini  bahwa setelah disumpah saksi verbalisan tidak akan memberikan keterangan  bohong (lie) maupun keterangan palsu (perjury), dengan asumsi bila  saksi verbalisan memberikan keterangan bohong atau palsu, maka akan  mendapatkan hukuman langsung dari Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian, ternyata sumpah saja tidak cukup untuk membuktikan  kebenaran keterangan saksi verbalisan dan tidak menjamin sepenuhnya  kebenaran keterangan saksi verbalisan, karena pada kenyataannya masih  mungkin saksi verbalisan memberikan keterangan bohong maupun keterangan  palsu meskipun telah disumpah. Terlepas dari hal demikian, setidaknya  sumpah mampu memberikan tambahan keyakinan bagi Hakim dalam menilai dan  mempercayai kebenaran keterangan saksi verbalisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b) Menghubungkan keterangan saksi verbalisan dengan alat-alat bukti  lainnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakim tidak serta merta mempercayai keterangan saksi verbalisan,  karena tidak tertutup kemungkinan  saksi verbalisan dapat memberikan  keterangan bohong maupun keterangan palsu meskipun telah disumpah. Oleh  karena itu sekedar sumpah saja tidaklah cukup bagi hakim untuk  mempercayai keterangan saksi verbalisan, melainkan harus didukung oleh  keterangan alat-alat bukti lain yang mengacu pada kebenaran keterangan  saksi verbalisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya kesesuaian antara keterangan saksi verbalisan dengan  keterangan alat-alat bukti lain, hakim akan merasa lebih yakin dalam  mempercayai keterangan saksi verbalisan. Sehingga penting bagi hakim  untuk melakukan analisa dan mencari keterkaitan antara keterangan saksi  verbalisan dengan keterangan alat-alat bukti lainnya, guna mendapatkan  sebenar-benarnya keyakinan atas kebenaran keterangan saksi verbalisan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c) Kepercayaan atas kode etik korps jabatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap penegak hukum pasti memiliki etika profesi sesuai dengan  jabatannya. Selain itu penegak hukum juga berkewajiban melaksanakan  jabatannya sesuai dengan kode etik profesinya. Bagi penegak hukum  sendiri, ada kode etik yang harus ditaati dan dijunjung tinggi sebagai  pedoman dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kode etik korps penegak hukum adalah kewajiban untuk  berlaku jujur, saling menghormati dan saling membantu antara sesama  penegak hukum. Berdasarkan hal ini kiranya dapat dimengerti bahwa  sebagai penegak hukum hakim dan penyidik (polisi) harus saling percaya,  saling menghormati dan saling membantu atau bekerja sama dalam  menegakkan hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas dasar tersebut hakim merasa dapat mempercayai keterangan saksi  verbalisan, karena hakim menilai bahwa penyidik dalam memberikan  keterangan pastilah dilandasi dengan kode etik korps penegak hukum yaitu  kejujuran, sehingga tidak mungkin akan memberikan keterangan bohong  atau keterangan palsu yang dapat mencoreng kehormatan korps penegak  hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa sebenarnya hakim  tidak boleh serta-merta mempercayai keterangan saksi verbalisan, dan  menjadikannya sebagai dasar penolakan pencabutan keterangan terdakwa,  karena jika hakim hanya mempercayai keterangan saksi verbalisan saja,  maka dapat dikatakan hakim cenderung tidak adil karena sifatnya yang  subyektif atau sepihak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila hakim mempercayai keterangan saksi verbalisan tanpa  mempertimbangkan hal-hal lain, dikhawatirkan dapat merugikan terdakwa  dalam pembelaan diri. Untuk itu hakim perlu memikirkan  pertimbangan-pertimbangan lain, termasuk isi hati nuraninya sendiri,  sebelum memutuskan menerima keterangan saksi verbalisan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Unsur peninjauan terhadap pembelaan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain keterangan saksi verbalisan, yang menjadi dasar penolakan  hakim atas pencabutan keterangan terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng  adalah adanya kejanggalan pada isi pembelaan terdakwa. Pada pembelaannya  penasehat hukum terdakwa pada pokoknya memohon agar terdakwa diberikan  ampunan dan keringanan seringan-ringannya, sementara terdakwa sendiri  secara lisan mohon supaya dijatuhi hukuman yang seringan-ringannya,  dengan alasan menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi  lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari isi pembelaan tersebut diketahui, bahwa secara tidak langsung  terdakwa telah mengakui perbuatannya sebagaimana dakwaan penuntut umum,  karena logikanya bila terdakwa memang benar-benar tidak melakukan tindak  pidana, pasti dalam pembelaannya akan memuat permohonan untuk  dibebaskan dari segala tuntutan. Sedangkan dalam pembelaan terdakwa Joko  Kustiono alias Gepeng ini, yang termuat adalah permohonan untuk  dijatuhi hukuman yang seringan-ringannya, isi pembelaan ini sangat  berlawanan dengan sikap terdakwa yang selama persidangan bersikeras  menganggap dirinya tidak melakukan tindak pidana perkosaan sebagaimana  dakwaan penuntut umum. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya kejanggalan dalam pembelaan tersebut maka hakim menarik  kesimpulan bahwa sebenarnya terdakwa mengakui perbuatannya sesuai  dakwaan penuntut umum, walaupun tidak diucapkannya secara langsung. Dan  berdasarkan hal ini pula, hakim merasa wajib untuk menolak pencabutan  keterangan pengakuan terdakwa yang diberikan pada saat pemeriksaan  penyidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam perkara  Joko Kustiono alias Gepeng ini, hakim membuktikan alasan pencabutan  keterangan terdakwa dengan mencari petunjuk melalui klarifikasi dengan  saksi verbalisan dan melalui peninjauan terhadap isi pembelaan terdakwa.  Setelah melakukan peninjauan terhadap dua hal tersebut pada akhirnya  hakim cukup merasa yakin untuk memutuskan bahwa alasan pencabutan  keterangan terdakwa tersebut tidak dapat diterima karena tidak beralasan  atau tidak terbukti kebenarannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut pendapat penulis, pertimbangan hakim yang menolak pencabutan  keterangan terdakwa hanya dengan dasar petunjuk dari keterangan saksi  verbalisan dan isi pembelaan sangatlah riskan dan dikhawatirkan dapat  merugikan terdakwa dalam  pembelaan diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, sebaiknya hakim mencari pertimbangan-pertimbangan  lain sebelum memutuskan menerima atau menolak pencabutan keterangan  terdakwa, dari pada sekedar mempertimbangkan keterangan saksi verbalisan  dan isi pembelaan, walaupun keterangan saksi verbalisan dan peninjauan  terhadap isi pembelaan juga cukup penting, namun akan lebih baik bila  hakim mencari pertimbangan-pertimbangan lain agar dalam mempertimbangkan  alasan penolakan pencabutan dapat lebih mantap dan utuh tanpa  keragu-raguan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun yang masih dapat dijadikan pertimbangan oleh hakim sebelum  memutuskan menerima atau menolak pencabutan keterangan terdakwa, adalah  dengan mempertimbangkan secara seksama semua alat bukti dan fakta maupun  keadaan yang ditemukan selama persidangan berlangsung atau dengan kata  lain hakim harus menganalisa keterkaitan hubungan antar tiap-tiap alat  bukti, barang bukti dan keadaan selama persidangan berlangsung.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menilai alasan pencabutan keterangan pengakuan, memerlukan kearifan  dan ketelitian, hal ini sering dilupakan oleh hakim. Kadang kala  penolakan hakim atas pencabutan, hanya didasari oleh keterangan saksi  verbalisan semata tanpa mempertimbangkan keadaan-keadaan lain di  sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menghadapi adanya pencabutan pengakuan dari terdakwa, hakim  dituntut memiliki kemampuan kecakapan hukum dan keterampilan penguasaan  yang matang akan seluk-beluk pembuktian dan penilaian kekuatan  pembuktian yang diatur dalam hukum acara pidana serta dipadu dengan  intuisi dan “seni mengadili”. Jika semua ini dimiliki hakim, maka hakim  akan mampu menilai dan mempertimbangkan alasan pencabutan dengan mantap  dan utuh (M. Yahya Harahap, 2003: 326).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena masalah pencabutan keterangan pengakuan terdakwa di muka  penyidik terletak sepenuhnya di pundak hakim, maka hakim harus  sungguh-sungguh mempertimbangkan pencabutan ini secara arif dan  bijaksana. Salah satunya adalah dengan melihat dan mencari keterkaitan  hubungan antar tiap-tiap alat bukti, barang bukti dan fakta-fakta selama  persidangan berlangsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan melakukan penilaian dan mencari hubungan yang ada pada  tiap-tiap alat bukti, barang bukti, dan fakta-fakta yang ada selama  persidangan berlangsung hakim akan memperoleh petunjuk yang berguna  dalam mempertimbangkan diterima atau tidaknya pencabutan tersebut, lebih  dari itu hakim akan memperoleh keyakinan dalam menilai kesalahan  terdakwa, sehingga tidak ada keraguan dalam diri hakim saat menjatuhkan  putusan pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai gambaran pentingnya hakim untuk mencari keterkaitan antar  tiap-tiap alat bukti, barang bukti dan fakta-fakta yang ada selama  persidangan dalam menyikapi pencabutan keterangan pengakuan oleh  terdakwa, dapat dilihat dari kasus Joko Kustiono alias Gepeng  sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kasus ini terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng di sidang  pengadilan menyangkal semua dakwaan penuntut umum, dan mencabut  pengakuannya yang tertuang dalam BAP, akan tetapi setelah dilakukan  pemeriksaan terhadap alat-alat bukti ternyata tidak ada satu pun alat  bukti yang mendukung penyangkalan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari  hasil pemeriksaan alat-alat bukti sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a) Keterangan saksi korban Agustin Setyawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi Agustin Setyawati diperoleh  keterangan bahwa. Pada intinya benar saksi telah diperkosa dan yang  melakukan perkosaan tersebut adalah terdakwa Joko Kustiono.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b) Keterangan saksi Suyadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi Suyadi di peroleh keterangan  bahwa, saksi tahu anaknya diperkosa dari keterangan tetangganya dan dari  keterangan terdakwa waktu di kantor polisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c) Keterangan saksi Nanik Setyawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi Nanik Setyawati di peroleh  keterangan bahwa, saksi mendengar sendiri dari saksi korban bahwa korban  telah diperkosa oleh terdakwa sampai 4 (empat) kali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d) Keterangan saksi Suroto Marto Wiharjo.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi Suroto Marto Wiharjo diperoleh  keterangan bahwa, saksi tahu korban Agustin Setyawati diperkosa oleh  terdakwa dari keterangan korban sendiri berdasarkan pertanyaan saksi  Suroto kepada korban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e) Keterangan saksi verbalisan Dewa Nyoman Putra&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi verbalisan di peroleh keterangan  bahwa, benar terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng dihadapan Penyidik  mengaku dengan memberikan keterangan secara jelas bahwa terdakwa telah  memperkosa Agustin Setyawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f) Keterangan saksi ahli Dr. Naniek Darwati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan terhadap saksi ahli di peroleh keterangan bahwa,  benar dari hasil pemeriksaan, saksi ahli menemukan luka baru akibat  bersentuhan dengan benda tumpul pada selaput dara alat kelamin korban  dan juga terdapat sisa sperma pada liang vagina korban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;g) Barang bukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Celana dalam korban Agustin Setyawati warna kusam yang terdapat bekas  sperma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pemeriksaan alat-alat bukti di pengadilan tersebut,  diketahui bahwa pada pokoknya semua keterangan alat bukti memberikan  keterangan yang sama, yaitu mengarahkan bahwa pelaku perkosaan adalah  terdakwa Joko Kustiono alias Gepeng.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, keterangan saksi saja belum dapat memberikan keyakinan  yang utuh kepada hakim tentang kesalahan terdakwa, terlebih lagi dengan  tidak adanya seorang saksi pun yang mengetahui dan secara langsung  melihat terjadinya tindak pidana perkosaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menghadapi keadaan seperti ini hakim dituntut untuk jeli dan cermat  dalam menilai dan mempelajari tiap-tiap alat bukti, karena dengan  kejelian dan kecermatan tersebut, hakim akan mampu melihat persesuaian  yang ada antara alat bukti, barang bukti dan fakta-fakta yang ada selama  persidangan berlangsung. Berdasarkan persesuaian tersebut, hakim akan  menemukan petunjuk baru yang dapat memperkuat alasan hakim dalam  melakukan penolakan pencabutan keterangan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil pemeriksaan yang dapat digunakan hakim untuk mendapatkan  petunjuk kasus Joko Kustiono alias Gepeng adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a) Keterangan saksi korban yang mengatakan bahwa benar dirinya telah  diperkosa oleh terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b) Keterangan semua saksi yang mengarah pada kesalahan terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c) Hasil visum et repertum yang menunjukan adanya indikasi telah terjadi  perkosaan terhadap diri korban, yaitu ditemukannya luka baru pada alat  kelamin korban akibat benda tumpul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d) Adanya barang bukti berupa celana dalam milik korban yang masih ada  bekas air mani.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mendapatkan petunjuk baru tersebut setidaknya hakim akan lebih  yakin dalam menguraikan alasan penolakannya terhadap pencabutan  keterangan terdakwa. Sebab setidaknya ada petunjuk baru yang memperkuat  petunjuk awal, petunjuk awal adalah petunjuk yang diperoleh hakim dari  hasil peninjauan terhadap keterangan saksi verbalisan dan terhadap  peninjauan isi pembelaan terdakwa (M. Yahya Harahap, 2003: 326).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hasil pembahasan terhadap kasus Joko Kustiono alias Gepeng,  dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya yang menjadi sebab ditolaknya  pencabutan oleh hakim adalah karena tidak terbuktinya alasan yang  menjadi dasar pencabutan tersebut, dimana setelah hakim melakukan  persesuaian dalam persidangan terhadap alat-alat bukti, barang bukti dan  fakta-fakta lain yang ada dalam persidangan, ternyata tak satu pun yang  dapat membenarkan alasan pencabutan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan seluruh uraian di atas dan dari hasil penelitian di  Pengadilan Negeri Kelas IA Surakarta dapat ditarik kesimpulan bahwa pada  prinsipnya pencabutan keterangan terdakwa dalam persidangan boleh  dilakukan oleh terdakwa, dengan syarat pencabutan dilakukan selama  pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung dan disertai dengan  alasan yang mendasar dan logis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alasan yang mendasar dan logis tersebut mengandung arti bahwa alasan  yang menjadi dasar pencabutan tersebut harus dapat dibuktikan  kebenarannya dan diperkuat atau didukung oleh bukti-bukti lain yang  menunjukkan bahwa alasan pencabutan tersebut benar dan dapat dibuktikan  oleh hakim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B. Implikasi Yuridis Pencabutan Keterangan Terdakwa dalam Persidangan  Terhadap Kekuatan Alat Bukti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada pembahasan di atas telah dijelaskan bahwa pada dasarnya  keterangan pengakuan yang diberikan di tingkat penyidikan, dapat dicabut  kembali oleh terdakwa di persidangan. Bahkan undang-undang pun tidak  membatasi hak terdakwa untuk mencabut kembali keterangan yang demikian,  asalkan pencabutan tersebut dilakukan selama pemeriksaan persidangan  pengadilan berlangsung dan disertai dengan alasan yang mendasar dan  logis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hal yang penting untuk diingat, hakim tidak boleh secara  sembrono menolak atau menerima begitu saja alasan pencabutan. Terlampau  gampang menolak alasan pencabutan, berarti hakim yang bersangkutan,  dengan sengaja merugikan kepentingan terdakwa dalam pembelaan diri.  Sebaliknya terlalu gampang menerima alasan pencabutan, mengakibatkan  terdakwa yang benar-benar bersalah akan dibebaskan dari pertanggung  jawaban hukum, karena tidak jarang dijumpai kasus perkara yang tumpuan  pembuktiannya tersimpul dalam pengakuan berita acara penyidikan. Artinya  kunci yang membukakan pintu pembuktian sering harus dimulai dari  keterangan pengakuan yang diberikan terdakwa dalam berita acara  penyidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlepas dari diterima atau tidaknya pencabutan keterangan terdakwa  oleh hakim, dengan adanya pencabutan tersebut pasti akan mempengaruhi  proses persidangan di pengadilan. Oleh karena itu perlu kesiapan dari  hakim dan jaksa, terutama dalam hal penguasaan seluk-beluk pembuktian  dan “seni mengadili”. Hal ini penting mengingat pengaruh pencabutan  tersebut sangat luas mulai dari penilaian pembuktian sampai pada  putusan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Implikasi dari adanya pencabutan keterangan terdakwa terhadap  kekuatan alat bukti, dapat diketahui setelah adanya penilaian hakim  terhadap alasan pencabutan tersebut, apakah hakim menerima atau menolak  alasan pencabutan dari terdakwa? Apabila hakim menerima alasan  pencabutan, berarti keterangan yang terdapat dalam berita acara  penyidikan dianggap “tidak benar” dan keterangan itu tidak dapat  dipergunakan sebagai landasan untuk membantu menemukan bukti di sidang  pengadilan. Sebaliknya, apabila alasan pencabutan tidak dapat dibenarkan  maka keterangan pengakuan yang tercantum dalam berita acara penyidikan  tetap dianggap benar dan dapat dipergunakan sebagai landasan untuk  membantu menemukan bukti di sidang pengadilan (M.Yahya Harahap, 2003:  326).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila pencabutan keterangan pengakuan terdakwa ditolak oleh hakim,  karena dinilai alasan pencabutan keterangan tidak berdasar dan tidak  logis, maka penolakan tersebut ikut membawa dampak bagi kekuatan alat  bukti keterangan terdakwa itu sendiri, yaitu dengan ditolaknya  pencabutan kembali tersebut, Hakim menilai bahwa keterangan terdakwa  (tersangka) di depan penyidiklah yang mengandung unsur kebenaran dan  mempunyai nilai pembuktian, sedangkan keterangan terdakwa di persidangan  yang menyangkal semua isi BAP dinilai tidak benar dan tidak ada  nilainya sama sekali dalam pembuktian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas penilaian ini, Hakim kemudian menganggap keterangan terdakwa  (tersangka) di depan penyidik (BAP) dapat digunakan sebagai petunjuk  untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Karena pada dasarnya dengan  ditolaknya pencabutan tersebut berarti pengakuan-pengakuan terdakwa yang  tertulis dalam BAP diterima sebagai suatu kebenaran yang sangat  membantu hakim dalam membuktikan kesalahan terdakwa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penggunaan keterangan pengakuan terdakwa sebagai petunjuk ini  dipertegas dengan putusan Mahkamah Agung tanggal 20 September 1977 No.  177 K/Kr/1965, yang menegaskan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bahwa pengakuan-pengakuan para Terdakwa I dan II di muka polisi dan  jaksa, ditinjau dalam hubungannya satu sama lain, dapat dipergunakan  sebagai petunjuk untuk menetapkan kesalahan terdakwa”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Isi putusan Mahkamah Agung di atas mengandung kaidah bahwa keterangan  pengakuan yang diberikan di luar sidang, dapat dipergunakan hakim  sebagai “petunjuk” untuk menetapkan kesalahan terdakwa (M. Yahya  Harahap, 2003: 326). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa dengan ditolaknya  pencabutan keterangan yang ada dalam BAP, maka terhadap keterangan yang  tertulis dalam BAP tersebut, oleh hakim kemudian dijadikan petunjuk  dalam menetapkan kesalahan terdakwa. Adapun pertimbangan hakim  menggunakan keterangan dalam BAP sebagai petunjuk, adalah karena  keterangan tersebut secara utuh menggambarkan kejadian peristiwa pidana  yang didakwakan. Keutuhan ini mampu melengkapi dan menegaskan alat bukti  yang ditemukan dalam persidangan pengadilan. Dengan kata lain,  kedudukan keterangan pengakuan yang diberikan terdakwa  di depan  pemeriksaan penyidikan, tidak bisa berdiri sendiri. Fungsinya hanya  dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk menyempurnakan pembuktian alat  bukti lain. Atau berfungsi dan bernilai “untuk mencukupi dan  “mengungkapkan” keterbuktian kesalahan terdakwa (M. Yahya Harahap, 2003:  327). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian halnya dengan kasus Joko Kustiono, dimana pencabutan  keterangan yang dilakukan terdakwa Joko Kustiono, ditolak oleh Hakim  dengan dasar bahwa alasan pencabutan tersebut tidak terbukti  kebenarannya, karena setelah dilakukan cross check dengan saksi  verbalisan dan setelah Hakim melakukan pengamatan atas fakta-fakta dan  alat-alat bukti dalam persidangan ternyata tidak satu pun yang dapat  membenaran alasan pencabutan keterangan pengakuan tersebut. Bahkan  dengan ditolaknya pencabutan tersebut, Hakim kemudian menjadikan  keterangan dalam BAP sebagai petunjuk dalam membuktikan kesalahan  terdakwa. Sebagaimana yang diutarakan oleh Adnan Paslyadja (1997: 73)  yang menjelaskan bahwa penyangkalan terdakwa yang melalui alat bukti  lain dapat dibuktikan sebagai kebohongan dapat di terima sebagai alat  bukti petunjuk. Sehingga, dengan tidak ada satu pun alat bukti yang  mendukung pencabutan keterangan oleh terdakwa, maka keadaan ini dapat  dijadikan petunjuk bagi hakim dalam menilai atau membuktikan kesalahan  terdakwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa implikasi dari ditolaknya  pencabutan, terhadap kekuatan alat bukti keterangan terdakwa adalah,  hakim akan menilai keterangan terdakwa di sidang pengadilan sebagai  suatu keterangan yang tidak mengandung unsur kebenaran dan tidak ada  nilainya sama sekali dalam pembuktian (tidak dapat digunakan sebagai  alat bukti).  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan bila pencabutan keterangan pengakuan terdakwa diterima  hakim, karena alasan pencabutan yang dapat dibuktikan kebenarannya, hal  ini juga akan membawa dampak bagi kekuatan alat bukti keterangan  terdakwa itu sendiri, yaitu dengan diterimanya pencabutan tersebut,  hakim akan menilai bahwa keterangan terdakwa di persidanganlah yang  mempunyai nilai kebenaran dan dapat digunakan dalam pembuktian,  sedangkan terhadap  keterangan terdakwa (tersangka) di depan penyidik  (BAP) dinyatakan tidak benar dan tidak ada nilainya sama sekali dalam  pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulannya, bahwa implikasi dari diterimanya pencabutan, terhadap  kekuatan alat bukti keterangan terdakwa adalah, hakim akan menilai  keterangan terdakwa di sidang pengadilan sebagai suatu keterangan yang  mengandung unsur kebenaran dan dapat digunakan sebagai alat bukti dalam  persidangan.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan akhir dari seluruh uraian di atas, bahwa implikasi dari  pencabutan keterangan terdakwa dalam persidangan terhadap kekuatan alat  bukti keterangan tersangka adalah: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1 Apabila pencabutan tersebut diterima oleh hakim, maka konsekuensi  yuridisnya adalah keterangan terdakwa dalam persidangan pengadilan dapat  digunakan sebagai alat bukti dan keterangan terdakwa (tersangka) di  tingkat penyidikan tidak dapat digunakan sama sekali untuk menemukan  bukti di persidangan karena isinya yang dinilai tidak benar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2 Sedangkan apabila pencabutan ditolak oleh hakim, maka konsekuensi  yuridisnya adalah keterangan terdakwa dalam persidangan pengadilan tidak  dapat digunakan sebagai alat bukti, justru keterangan terdakwa  (tersangka), di tingkat penyidikanlah (BAP) yang kemudian dapat  digunakan dalam membantu menemukan bukti di persidangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB IV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PENUTUP&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A Kesimpulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari perumusan masalah yang penulis kemukakan serta pembahasannya  baik yang berdasarkan atas teori maupun data-data yang penulis dapatkan  selama mengadakan penelitian, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai  berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Bahwa pada prinsipnya pencabutan keterangan terdakwa dalam  persidangan boleh dilakukan oleh terdakwa, dengan syarat pencabutan  dilakukan selama pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung dan  harus disertai dengan alasan yang mendasar dan logis. Alasan yang  mendasar dan logis tersebut mengandung arti bahwa alasan yang menjadi  dasar pencabutan tersebut harus dapat dibuktikan kebenarannya dan  diperkuat atau didukung oleh bukti-bukti lain yang menunjukkan bahwa  alasan pencabutan tersebut benar dan dapat dibuktikan oleh hakim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Implikasi dari pencabutan keterangan terdakwa dalam persidangan  terhadap kekuatan alat bukti keterangan tersangka adalah: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Apabila pencabutan diterima oleh hakim, maka keterangan terdakwa  dalam persidangan pengadilan dapat digunakan sebagai alat bukti dan  keterangan terdakwa (tersangka) di tingkat penyidikan tidak digunakan  sama sekali untuk menemukan bukti di persidangan karena isinya yang  dinilai tidak benar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Sedangkan apabila pencabutan ditolak oleh hakim, maka keterangan  terdakwa dalam persidangan pengadilan tidak dapat digunakan sebagai alat  bukti, justru keterangan terdakwa (tersangka), di tingkat penyidikanlah  (BAP) yang kemudian dapat digunakan dalam pembuktian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;B Saran &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka sebagai akhir dari seluruh  tulisan ini, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakim hendaknya dalam menolak atau menerima pencabutan keterangan  terdakwa harus bersikap hati-hati, arif dan bijaksana. Tidak sembrono  dan sewenang-wenang. Harus lebih dulu dengan teliti mengadakan  pemeriksaan yang menyeluruh secara cermat dan seksama termasuk  mengedepankan sanubari dan hati nuraninya. Jangan hanya bersandar pada  kebiasaan-kebiasaan yang bersifat formal di persidangan Keserampangan  hakim dalam menolak atau menerima pencabutan keterangan terdakwa, dapat  merugikan pembelaan terdakwa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adnan Paslyadja. 1997. Hukum Pembuktian. Jakarta: Pusat Diktat  Kejaksaan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Andi Hamzah. 2002. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.&lt;br /&gt;Bambang Poernomo. Pola Dasar Teori-Asas Umum Hukum Acara Pidana Dan  Penegakan Hukum Pidana. Yogyakarta: Liberty.&lt;br /&gt;Bambang Waluyo. 1992. Sistem Pembuktian Dalam Peradilan Indonesia.  Jakarta: Sinar Grafika.&lt;br /&gt;Burhan Ashshofa. 2000. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Darwan Prinst. 1998. Hukum Acara Pidana Dalam Praktik. Jakarta:  Djambatan.&lt;br /&gt;Erni Widhayanti. 1988. Hak-hak Tersangka/Terdakwa di dalam KUHAP.  Yogyakarta: Liberty.&lt;br /&gt;G. W. Bawengan. 1989. Penyelidikan Perkara Pidana dan Teknik Interogasi.  Jakarta: Pradnya Paramita.&lt;br /&gt;Hamrat Hamid dan Hasan M. Husein. 1991. Pembahasan Permasalahan KUHAP  Bidang Penuntutan dan Eksekusi: Dalam Tanya jawab. Jakarta: Sinar  Grafika.&lt;br /&gt;Hari Sasangka dan Lily Rosita.2003. Hukum Pembuktian Dalam Perkara  Pidana. Bandung: Mandar Maju.&lt;br /&gt;_____________. 2003. Komentar Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.  Bandung: Mandar Maju.&lt;br /&gt;Heribertus Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta:  Sebelas Maret University Press.&lt;br /&gt;Hilman Hadikusuma. 1995. Metode Pembuatan Kertas Kerja Atau Skripsi Ilmu  Hukum. Bandung: Mandar Maju.&lt;br /&gt;Martiman Prodjohamidjojo. 1984. Komentar Atas KUHAP: Kitab Undang-Undang  Hukum Acara Pidana. Jakarta: Pradnya Paramita.&lt;br /&gt;M. Yahya Harahap. 2003. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP:  Pemerikasaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali:  Edisi Kedua. Jakarta: Sinar Grafika.&lt;br /&gt;Matthew B. Milles dan A. Michael Hubberman. 1992. Analisis Data  Kualitatif (diterjemahkan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi). Jakarta:  UI-Press.&lt;br /&gt;Moch Faisal Salam. 2001. Hukum Acara Pidana Dalam dan Praktek. Bandung:  Mandar Maju.&lt;br /&gt;Moeljatno. 2001. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Satjipto Rahardjo. 1982. Ilmu Hukum. Bandung: Alumni.&lt;br /&gt;Sinar Grafika. 2000. KUHAP dan KUHP. Jakarta: Sinar Grafika.&lt;br /&gt;Slamet Soeseno. 1986. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. Jakarta:  Gramedia.&lt;br /&gt;Soerjono Soekanto. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta:  Universitas Indonesia Press.&lt;br /&gt;Subekti.  2001. Hukum Pembuktian. Jakarta: Pradnya Paramita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-1924287234457590149?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/1924287234457590149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/tinjauan-tentang-pencabutan-keterangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1924287234457590149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1924287234457590149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/tinjauan-tentang-pencabutan-keterangan.html' title='TINJAUAN TENTANG PENCABUTAN KETERANGAN TERDAKWA DALAM PERSIDANGAN DAN IMPLIKASI YURIDISNYA'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-8551980490173435122</id><published>2010-01-28T07:38:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T07:38:38.157-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HUKUM PERKAWINAN'/><title type='text'>Status Perkawinan dan Perceraian Secara Islam Yang Tidak Didaftarkan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;A. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang&lt;br /&gt;Perkawinan menjelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga  yang&lt;br /&gt;bahagia dan kekal, karena perkawinan sebagai didefenisikan dalam Pasal 1  -nya&lt;br /&gt;adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita  sebagai&lt;br /&gt;suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia  dan&lt;br /&gt;kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Didalam Undang-undang Perkawinan tersebut&lt;br /&gt;juga dinyatakan bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan  menurut&lt;br /&gt;hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan disamping itu  tiap-tiap&lt;br /&gt;perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang  berlaku.&lt;br /&gt;Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan  peristiwa&lt;br /&gt;penting dalam kehidupan seseorang misalnya kelahiran, kematian yang  dinyatakan&lt;br /&gt;dalam surat-surat keterangan, suatu akte resmi yang juga dimuat dalam  daftar&lt;br /&gt;pencatatan&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;  &lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang&lt;br /&gt;Pengadilan Agama memberi kewenangan kepada peradilan agama untuk  menangani&lt;br /&gt;masalah perkawinan seperti perceraian. Bagi seseorang yang ingin  melakukan&lt;br /&gt;perceraian harus ada cukup alasan, bahwa ia dan pasangannya tidak akan  dapat&lt;br /&gt;hidup rukun lagi sebagai suami istri. &lt;br /&gt;Seseorang yang beragama Islam merasa bahwa&lt;br /&gt;perkawinannya tidak dapat dipertahankan lagi dan memutuskan untuk  bercerai,&lt;br /&gt;maka sesuai dengan undang-undang peradilan agama tersebut, langkah yang  dapat&lt;br /&gt;ditempuh adalah permintaan cerai kepada pengadilan agama. Menurut Drs.  Syarif&lt;br /&gt;Utsman&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;,”dengan&lt;br /&gt;mengutip ketentuan UU Perkawinan tahun 1974 dan UU Peradilan Agama tahun  1989,&lt;br /&gt;bahwa perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan setelah&lt;br /&gt;pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhenti mendamaikan  kedua&lt;br /&gt;belah pihak”.&lt;br /&gt;Peraturan yang telah dibuat tersebut&lt;br /&gt;merupakan cerminan dari aspirasi seluruh rakyat Indonesia, namun ketika&lt;br /&gt;dihadapkan kepada realita yang terjadi peraturan yang ada tersebut  terkadang&lt;br /&gt;tidak bisa menghadapi kasus konkrit seperti halnya bagaimana pandangan  tentang&lt;br /&gt;status perkawinan secara Islam yang tidak didaftarkan dan begitu juga  dengan&lt;br /&gt;perceraiannya. Berdasarkan arahan Bapak Bachtiar Abna, SH, SU selaku  dosen&lt;br /&gt;pembimbing mata kuliah Kuliah Hukum Keluarga &amp;amp; Harta Perkawinan maka  diberi&lt;br /&gt;namalah makalah ini dengan nama : ”&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Tinjauan  Terhadap&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Status Perkawinan Secara  Islam Yang Tidak Didaftarkan dan&lt;br /&gt;Status Perceraiannya Yang Tidak Didepan Sidang Pengadilan Negeri”.&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;RUMUSAN PERTANYAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rumusan masalah yang diberikan adalah :&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bagaimana Tinjauan Terhadap&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;status perkawinan yang  tidak didaftarkan ?&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bagaimana pula dengan status perceraian yang tidak&lt;br /&gt;didepan sidang Pengadilan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;TUJUAN DAN MANFAAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan rumusan masalah diatas , tujuan yang hendak&lt;br /&gt;dicapai adalah untuk mengetahui Bagaimana Tinjauan Terhadap status  perkawinan&lt;br /&gt;yang tidak didaftarkan dan status perceraian yang tidak didepan sidang&lt;br /&gt;Pengadilan&lt;br /&gt;Manfaat yang penulis harapkan dari penulisan makalah ini&lt;br /&gt;adalah&amp;nbsp; dapat menambah wawasan dan&lt;br /&gt;pengetahuan teoritis tentang hal-hal yang berkaitan dengan status  perkawinan&lt;br /&gt;yang tidak didaftarkan dan status perceraian yang tidak didepan sidang&lt;br /&gt;Pengadilan serta diharapkan terjadinya pengembangan dan penggayaan ilmu  hukum&lt;br /&gt;dari penulisan makalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D.&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;METODE PENULISAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Jenis Penulisan&lt;br /&gt;Penulisan yang dilaksanakan adalah penelitian hukum normatif&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;,&lt;br /&gt;yaitu penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum secara horizontal&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Jenis data dalam penelitian ini yaitu data sekunder, data yang  diperoleh&lt;br /&gt;dari studi kepustakaan. Sumber data diperoleh dari&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat&lt;br /&gt;yakni :&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Norma atau kaidah dasar, yaitu Pembukaan Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar 1945&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Peraturan dasar, batang tubuh UUD 1945&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang&lt;br /&gt;Pengadilan Agama&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang&lt;br /&gt;Perkawinan &lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai&lt;br /&gt;bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, karya dari kalangan  hukum,&lt;br /&gt;media massa cetak dan internet yang memuat berita tentang permasalahan  yang&lt;br /&gt;sedang dibahas.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bahan hukum tertier atau bahan hukum penunjang, mencakup&lt;br /&gt;:&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang memberikan petunjuk-petunjuk maupun&lt;br /&gt;penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Contoh  kamus&lt;br /&gt;hukum, ensiklopedia.&lt;br /&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Bahan-bahan primer, sekunder dan tertier (penunjang)&lt;br /&gt;diluar bidang hukum, misalnya yang berasal dari bidang&amp;nbsp; sosiologi,  filsafat, yang dipergunakan untuk&lt;br /&gt;melengkapi atau menunjang data atau bahan penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Analisa Data&lt;br /&gt;Pada penelitian normatif, pengolahan data hakikatnya kegiatan untuk&lt;br /&gt;mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan tertulis. Sistematisasi  berarti&lt;br /&gt;membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis tersebut untuk&lt;br /&gt;mengadakan pekerjaan analisis dan konstruksi.&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adapun kegiatan-kegiatan dalam analisis data yaitu :&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Mengelompokan dan membuat sistematika dari data-data yang&lt;br /&gt;dikumpulkan sesuai dengan rumusan masalah&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Memilih pasal-pasal dari UU.Perkawinan dan peraturan&lt;br /&gt;pelaksanaanna serta UU. Peradilan Agama yang disiapkan untuk  menganalisis&lt;br /&gt;data-data yang telah dikelompokan dan sistematika sesuai rumusan masalah&lt;br /&gt;tersebut.&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Kemudian data dianalisis secara hukum dengan metode&lt;br /&gt;induktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E.&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;ANALISA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan soal eksisensi hukum agama (Islam)&lt;br /&gt;dalam sebuah negara, seperti Indonesia yang tak berasaskan Islam, memang  sangat&lt;br /&gt;alot dan mengundang polemik panjang. Dalam kasus nikah siri atau nikah  yang tak&lt;br /&gt;dicatatkan resmi ke negara, hampir mayoritas ulama&amp;nbsp; mengatakan hal  tersebut sah secara agama&lt;br /&gt;sepanjang akad nikahnya memenuhi syarat dan rukun yang telah ditetapkan  Islam.&lt;br /&gt;Dalam literatur hukum Islam, sudah jelas tak ada satu pendapatpun dari  kalangan&lt;br /&gt;ulama fikih yang mewajibkan pencatatan nikah ke negara&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Persoalan yang muncul kemudian, nikah siri&lt;br /&gt;merupakan praktik nikah yang tidak dicatatkan secara resmi ke negara.  Sementara&lt;br /&gt;hukum positif yang berlaku di negara Indonesia sebagaimana diatur dalam&lt;br /&gt;undang-undang perkawinan tahun 1974 mewajibkan setiap pernikahan harus&lt;br /&gt;dilakukan di kantor urusan agama (KUA) dan dicatatkan ke pegawai  Pencatat Nikah&lt;br /&gt;(PPN)&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Dan dibidang lain dapat juga kita lihat, yaitu ketika terjadi talak,  dimana&lt;br /&gt;menurut hukum fikih klasik, talak yang dijatuhkan oleh seorang suami  kepada&lt;br /&gt;istrinya dihukumi sah dan mengikat, meski tidak melalui Pengadilan  Agama. Sah&lt;br /&gt;dalam arti pasangan tersebut sudah tidak berstatus suami-istri lagi,  sehingga&lt;br /&gt;agama melarang pasangan tersebut melakukan hubungan badan atau  persentuhan&lt;br /&gt;lainnya. Namun, aturan negara justru berbeda. Talak harus dijatuhkan  lewat&lt;br /&gt;jalur Pengadilan Agama. Konsekuensi hukumnya, talak yang dijatuhkan  secara&lt;br /&gt;tidak formal diluar Pengadilan Agama, statusnya tidak sah dalam arti  pasangan&lt;br /&gt;tersebut masih dianggap sebagai suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN TERHADAP&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;STATUS&lt;br /&gt;PERKAWINAN YANG TIDAK DIDAFTARKAN &lt;br /&gt;Tarik menarik diantara dua hukum yang berbeda&lt;br /&gt;atau dualisme hukum dalam masalah perkawinan telah menjadikan masalah&lt;br /&gt;tersendiri dalam hukum nasional Indonesia. Nikah siri atau talak tanpa&lt;br /&gt;Pengadilan Agama dianggap sah secara agama Islam, namun menurut hukum  positif&lt;br /&gt;yang berlaku justru dipandang tidak sah.&lt;br /&gt;Dualisme hukum di Indonesia yang aturannya&lt;br /&gt;saling bertentangan terkait pernikahan atau talak merupakan hal yang&lt;br /&gt;bermasalah, menurut Prof. Dr. KH. Ali Musthofa Yaqub&lt;a href="http://www.legalitas.org/?q=content/status-perkawinan-dan-perceraian-secara-islam-yang-tidak-didaftarkan#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;penyebab terjadinya dualisme adalah karena di Indonesia ada dua kelompok&lt;br /&gt;’madzhab’ yang mendukung sepenuhnya atau mengikuti ajaran Islam total  dan yang&lt;br /&gt;mendukung atau mengikuti hukum positif. Supaya terjadi sinkronisasi maka&lt;br /&gt;dipakailah keduanya, sebab bagi negara seperti Indonesia&amp;nbsp; yang  berdasarkan hukum yang mana hukumnya&lt;br /&gt;dibuat berdasarkan persetujuan rakyat, tentulah sebagai warga yang baik  kita&lt;br /&gt;harus mengikutinya.&lt;br /&gt;Pasal 2 Undang-undang Perkawinan menyatakan&lt;br /&gt;dalam ayat (1) bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut  hukum&lt;br /&gt;masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dan ayat (2)nya berbunyi :&lt;br /&gt;tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang  berlaku.&lt;br /&gt;Artinya kita harus melihat secara menyeluruh dari isi pasal&amp;nbsp; tersebut,  dengan kesatu-paduan pasal tersebut&lt;br /&gt;harus dilaksanakan secara pasti guna mendapatkan kepastian hukum. Ketika  suatu&lt;br /&gt;perkawinan hanya dilaksanakan sampai kepada batas pasal 2 ayat (1) saja  maka&lt;br /&gt;akibat hukumnya adalah ketika terjadi persengketaan antara suami istri  maka&lt;br /&gt;pasangan tersebut tidak bisa minta perlindungan secara konkrit kepada  Negara&lt;br /&gt;dalam hal ini minta putusan kepada Pengadilan. Hal ini terjadi karena&lt;br /&gt;perkawinan yang bersangkutan tidak tercatat secara resmi didalam  administrasi negara,&lt;br /&gt;ketika ini tidak tercatat secara resmi oleh negara maka segala  konsekuensi&lt;br /&gt;hukum apapun yang terjadi selama dalam perkawinan bagi negara dianggap  tidak&lt;br /&gt;pernah ada.&lt;br /&gt;Solusi bagi suami istri&amp;nbsp; yang telah melakukan nikah dengan tidak&lt;br /&gt;diketahuinya secara resmi oleh negara adalah dengan memintakan itsbat&lt;br /&gt;(ketetapan) resmi dari lembaga negara yang mempunyai otoritas untuk&lt;br /&gt;menetapkannya yaitu Pengadilan Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STATUS PERCERAIAN YANG TIDAK DIDEPAN SIDANG PENGADILAN&lt;br /&gt;Perkawinan bertujuan membentuk keluarga yang&lt;br /&gt;bahagia dan kekal. Untuk itu suami istri perlu saling membantu&amp;nbsp; dan  melengkapi, agar masing-masing dapat&lt;br /&gt;mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejateraan spritual  dan&lt;br /&gt;material. Namun kadang apa yang telah dicanangkan tersebut tidak sesuai  dengan&lt;br /&gt;harapan. Ditengah perjalanan goncangan dalam berumah tangga tidak dapat&lt;br /&gt;dihindari sehingga bisa berkahir dengan terjadinya erceraian. Sesuatu  hal yang&lt;br /&gt;tidak diharapkan ini kapanpun bisa terjadi, apakah perkawinannya resmi  dicatat&lt;br /&gt;oleh negara atau hanya berdasarkan agama dan kepercayaannya saja.&lt;br /&gt;Perceraian yang terjadi jika perkawinanya&lt;br /&gt;tidak pernah diresmikan oleh negara maka tidak akan membawa dampak hukum  yang&lt;br /&gt;sangat merumitkan bagi pelakunya. Sebab dari awal perkawinan mereka  memang&lt;br /&gt;dianggap tidak pernah terjadi oleh negara. Sebaliknya perceraian yang  terjadi&lt;br /&gt;yang tidak didepan pengadilan sementara perkawinannya sah secara hukum  negara&lt;br /&gt;juga tidak akan membawa dampak hukum, mereka masih dianggap sebagai  pasangan&lt;br /&gt;yang sah walaupun menurut agama mereka sudah sah bercerai ketika  syaratnya&lt;br /&gt;terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa :&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perkawinan&lt;br /&gt;yang tidak tercatat secara resmi oleh negara maka&lt;br /&gt;segala konsekuensi hukum apapun yang terjadi selama dalam perkawinan  bagi negara&lt;br /&gt;dianggap tidak pernah ada.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Perceraian yang terjadi yang tidak didepan&lt;br /&gt;pengadilan sementara perkawinannya sah secara hukum negara tidak akan  membawa&lt;br /&gt;dampak hukum, mereka masih dianggap sebagai pasangan yang sah walaupun  menurut&lt;br /&gt;agama mereka sudah sah bercerai ketika syaratnya terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Saran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan tambahan yang diberlakukan oleh pemerintah dalam masalah&lt;br /&gt;perkawinan yaitu dengan mensyaratkan adanya soal pencatatan dan  legalitas&lt;br /&gt;perceraian merupakan suatu keniscayaan demi memilihara keteraturan  sosial dan&lt;br /&gt;mencegah kemudharatan sehingga diharapkan kedepan pemerintah dalam hal  ini&lt;br /&gt;Departemen Agama lebih banyak mensosialisasikan pentingnya perkawinan  dilakukan&lt;br /&gt;pencatatan dan legalitas dari perceraian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-8551980490173435122?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/8551980490173435122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/status-perkawinan-dan-perceraian-secara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/8551980490173435122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/8551980490173435122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/status-perkawinan-dan-perceraian-secara.html' title='Status Perkawinan dan Perceraian Secara Islam Yang Tidak Didaftarkan'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-843587622383047234</id><published>2010-01-28T07:32:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T07:32:59.219-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali'/><title type='text'>Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dan Batasannya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;ABSTRAK&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang, setelah membaca KUHAP, berkesimpulan bahwa jaksa  tidak dapat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atau bahwa hanya  terpidana atau ahli warisnya yang dapat mengajukan PK, maka orang itu  pasti telah salah membaca undang-undang. Pembacaan yang teliti terhadap  Pasal 263 KUHAP menunjukkan bahwa jaksa diberikan hak untuk mengajukan  PK. Namun KUHAP juga memberikan batasan dalam hal apa jaksa dapat  mengajukan PK, yaitu dalam hal ada putusan yang sudah mempunyai kekuatan  hukum tetap yang didalam pertimbangannya menyatakan perbuatan yang  didakwakan terbukti tetapi tidak diikuti pemidanaan. Jadi tidak terhadap  semua putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap  jaksa berhak mengajukan PK. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam tulisan ini disarankan agar dilakukan koreksi secepatnya atas  praktek hukum dan dicarikan upaya mengatasi kerugian yang dialami oleh  pihak-pihak yang dalam putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan  hukum dinyatakan tidak bersalah tetapi kemudian dipidana karena adanya  PK oleh jaksa. Disarankan juga agar Presiden, selaku Kepala Negara,  meminta maaf kepada para korban PK jaksa dan seluruh rakyat Indonesia  atas kesalahan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dan jaksa-jaksa  penuntut umum dalam perkara-perkara PK yang diajukan oleh jaksa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;1. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang terus menerus diajukan sejak tahun 1996 adalah apakah  jaksa dapat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dalam perkara pidana  terhadap suatu putusan pengadilan yang sudah mempunyai hukum yang tetap.  Pertanyaan ini muncul karena pada tahun 1996, untuk pertama kalinya,  jaksa mengajukan permohonan PK dalam perkara dengan terdakwa, Mochtar  Pakpahan, seorang aktivis buruh pada masa itu. Sejak itu Jaksa secara  terus menerus mengajukan PK. Tidak dalam semua kasus yang diajukan jaksa  memenangkan PK. Mahkamah Agung (MA) bersikap mendua mengenai hal ini.  Ada majelis MA yang menyatakan jaksa tidak berhak mengajukan PK, ada  yang menyatakan jaksa dapat mengajukan PK.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam putusan PK dimana MA menerima permintaan PK dari jaksa, MA  menyatakan menciptakan hukum karena KUHAP tidak mengaturnya. Dalam  Negara v Muchtar Pakpahan, sebagaimana dikutip dalam Negara v  Pollycarpus (PUTUSAN No. 109 PK/Pid/2007) , MA misalnya menyatakan:  “Dalam menghadapi problema yuridis hukum acara pidana ini dimana tidak  diatur secara tegas pada KUHAP maka Mahkamah Agung melalui putusan dalam  perkara ini berkeinginan menciptakan hukum acara pidana sendiri, guna  menampung kekurangan pengaturan mengenai hak atau wewenang Jaksa  Penuntut Umum untuk mengajukan permohonan pemeriksaan Peninjauan Kembali  (PK) dalam perkara pidana.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal MA tidak dapat menerima permohonan jaksa, MA menyatakan  bahwa MA tidak berwenang memutuskan mengenai PK. Dalam Negara v H.  MULYAR bin SAMSI (Putusan MA No84PK/Pid/2006 Tahun 2006), MA menyatakan  bahwa PK Jaksa tidak dapat diterima dengan alasan:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bahwa Pasal 263 ayat (1) KUHAP telah menentukan bahwa terhadap  putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali  putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum, Terpidana atau ahli  warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauankembali kepada Mahkamah  Agung;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Bahwa ketentuan tersebut telah mengatur secara tegas dan  limitative bahwa yang dapat mengajukan peninjauankembali adalah  Terpidana atau ahli warisnya. Hal ini berarti bahwa yang bukan Terpidana  atau ahli warisnya tidak dapat mengajukan peninjauankembali.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Dengan adanya ketentuan yang tegas dan limitatif tersebut, tidak  diperlukan lagi ketentuan khusus, yang mengatur bahwa yang bukan  Terpidana atau ahli warisnya tidak dapat mengajukan peninjauankembali;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Bahwa “due proses of law” tersebut berfungsi sebagai pembatasan  kekuasaan Negara dalam bertindak terhadap warga masyarakat, dan bersifat  normatif, sehingga tidak dapat ditafsirkan dan tidak dapat disimpangi,  karena akan melanggar keadilan dan kepastian hukum ;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;em&gt;Menimbang, berdasarkan hal-hal tersebut disimpulkan bahwa Jaksa  Penuntut Umum tidak dapat mengajukan permohonan peninjauankembali atas  putusan pidana yang telah berkekuatan hukum tetap. Oleh karenanya apa  yang dimohonkan oleh Jaksa Penuntut Umum merupakan kesalahan dalam  penerapan hukum acara, sehingga permohonan peninjauan kembali yang  dimajukan oleh Jaksa Penuntut Umum haruslah dinyatakan tidak dapat  diterima;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Pertimbangan-pertimbangan hukum yang dikemukakan oleh dua  majelis pada MA tentu membingungkan, yang mana yang harus diikuti. Hal  ini tentu akan menyebabkan adanya ketidakpastian hukum. MA, sebagaimana  pertimbangan-pertimbangan hukum yang diajukan di atas menunjukkan,  ternyata tidak satu. Putusan Majelis yang satu belum tentu diikuti oleh  Majelis yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini akan membahas mengenai dasar hukum dari jaksa dalam  mengajukan PK dan setelah menemukan dasar hukumnya maka akan dibahas  mengenai batasan-batasan dalam mengajukan PK sebagaimana diatur dalam  KUHAP. Dalam membahas mengenai PK oleh jaksa ini, saya hanya menggunakan  bahan hukum primer, yaitu undang-undang dan Putusan-putusan MA. Putusan  MA yang saya gunakan dalam tulisan ini dapat diakses pada situs web  dari Mahkamah Agung. Alasan tidak menggunakan bahan sekunder adalah  karena dalam pertimbangan hukumnya MA membuat rujukan pada bahan hukum  sekunder.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;2. Tinjauan Atas Pasal 263 KUHAP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pasal 263 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa “terhadap putusan pengadilan  yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau  lepas dari segala tuntutan hukum, terpidana atau ahli warisnya dapat  mengajukan permintaan peninjauan. kembali kepada Mahkamah Agung.”  Ketentuan ini memberikan hak kepada terpidana atau ahli warisnya untuk  mengajukan peninjauan kembali atas putusan pengadilan yang sudah  mempunyai kekuatan hukum tetap. Dengan digunakannya kata terpidana atau  ahli warisnya menandakan bahwa dalam putusan pengadilan yang sudah  mempunyai kekuatan tetap yang dimintakan peninjuan kembali, seseorang  sudah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman pidana atau ada  pemidanaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikecualikan dari hal-hal yang tidak dapat diajukan peninjauan  kembali adalah putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum.  Perumusan dalam Pasal 263 ayat (1) ini memang agak sedikit kacau. Yang  dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali adalah terpidana atau  ahli warisnya. Sementara untuk putusan bebas atau lepas dari segala  tuntutan hukum tidak ada terpidana. Maka adanya klausul “kecuali putusan  bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum” sangatlah tidak masuk akal  ditempatkan dalam ayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kemudian jaksa mengajukan peninjauan kembali, menjadi layak  karena adanya klausul “kecuali putusan bebas atau lepas dari segala  tuntutan hukum”. Jaksa dapat berpikir bahwa yang diatur dalam Pasal 263  ayat (1) adalah Peninjuan kembali oleh terpidana atau ahli warisnya.  Sementara untuk putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum  dapat diajukan peninjauan kembali tetapi tidak diatur dalam Pasal 263  ayat (1) KUHAP tersebut. Dimana diaturnya, jaksapun tidak tahu dan hal  ini berarti ada kekosongan hukum. MA, dari perspektif jaksa, berpikir  bahwa MA dapat mengisi kekosongan tersebut melalui ketentuan bahwa hakim  harus menggali nilai-nilai dalam masyarakat dan MA memang melakukannya  dalam Negara v Muchtar Pakpahan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa jaksa dapat mengajukan peninjauan kembali mendapat landasannya  dalam Pasal 263 ayat (3). Pasal 263 ayat (3) tersebut menyatakan “Atas  dasar alasan yang sama sebagaimana tersebut pada ayat (2) terhadap suatu  putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat  diajukan permintaan peninjauan kembali apabila dalam putusan itu suatu  perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak  diikuti oleh suatu pemidanaan.” Ayat (3) ini merupakan landasan hukum  bagi jaksa dalam mengajukan PK atas putusan pengadilan yang sudah  mempunyai kekuatan hukum tetap. Persyaratan dalam Pasal 263 ayat (3)  “……………. apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah  dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti dengan pemindanaan”  menunjukkan bahwa ketentuan Pasal 263 ayat (3) tidak ditujukan bagi  Terpidana karena dalam konteks Pasal 263 ayat (3) memang tidak ada yang  disebut “Terpidana”. Tidak ada “terpidana” tanpa adanya “pemidanaan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pasal 263 ayat (1) ditujukan  untuk PK bagi Terpidana atau ahli warisnya. Yang diajukan PK menurut  Pasal 263 ayat (1) adalah terhadap putusan yang sudah mempunyai kekuatan  hukum tetap yang isinya “pemidanaan”. Pasal 263 ayat (3) adalah PK yang  diajukan terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan  hukum tetap yang tidak berisi pemidanaan. Karena tidak ada pemidanaan  maka tidak ada terpidana dan oleh karenanya tidak ditujukan bagi  Terpidana atau ahli warisnya yang memang tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;MA dalam putusan PK dalam Negara v Pollycarpus telah keliru ketika  menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;2. Bahwa Pasal 263 KUHAP yang merupakan pelaksanaan dari Pasal 21  Undang-Undang No.14 Tahun 1970 mengandung hal yang tidak jelas, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;a. Pasal 263 ayat 1 KUHAP tidak secara tegas melarang Jaksa  Penuntut Umum mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, sebab logikanya  terpidana /ahliwarisnya tidak akan mengajukan Peninjauan Kembali atas  putusan vrijspraak dan onslag van alle vervolging. Dalam konteks ini,  maka yang berkepentingan adalah Jaksa Penuntut Umum atas dasar alasan  dalam ketentuan pasal 263 ayat 2 KUHAP ;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;b. Bahwa konsekwensi logis dari aspek demikian maka pasal 263  ayat 3 KUHAP yang pokoknya menentukan “ Atas dasar alasan yang sama  sebagaimana tersebut pada ayat (2) terhadap suatu putusan pengadilan  yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permintaan  peninjauan kembali apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang  didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi tidak diikuti oleh  suatu pemidanaan” tidak mungkin dimanfaatkan oleh terpidana atau ahli  warisnya sebab akan merugikan yang bersangkutan, sehingga logis bila  kepada Jaksa Penuntut Umum diberikan hak untuk mengajukan peninjauan  kembali;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Menyangkut butir 2.a dari pertimbangan MA tersebut, MA jelas  keliru karena ketentuan Pasal 263 ayat (1) itu adalah untuk Terpidana  atau Ahli warisnya. Logika MA juga keliru ketika menyatakan “…….sebab  logikanya terpidana /ahliwarisnya tidak akan mengajukan Peninjauan  Kembali atas putusan vrijspraak dan onslag van alle vervolging”, karena  memang tidak ada terpidana dalam putusan vrijspraak dan onslag van alle  vervolging. Sedangkan butir 2.b dari pertimbangan tersebut kekeliruan MA  dalam menafsirkannya lebih parah. MA menyatakan “…………..tidak mungkin  dimanfaatkan oleh terpidana atau ahli warisnya sebab akan merugikan yang  bersangkutan,…..”. Sebagaimana saya sebutkan di atas, dalam konteks  Pasal 263 ayat (3) tidak ada “terpidana”, karena kondisinya adalah  “…tidak diikuti oleh suatu pemidanaan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya dalam putusan dalam Negara v Muchtar Pakpahan, sebagaimana  dirujuk oleh MA dalam Negara v Pollycarpus, MA sudah nyaris benar  ketika menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;3. Pasal 263 ayat (3) KUHAP menurut penafsiran Majelis Mahkamah  Agung RI maka ditujukan kepada Jaksa oleh karena Jaksa Penuntut Umum  adalah pihak yang paling berkepentingan agar keputusan hakim dirubah,  sehingga putusan yang berisi pernyataan kesalahan terdakwa tapi tidak  diikuti pemindanaan dapat dirubah dengan diikuti pemindanaan terhadap  terdakwa;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;Namun MA melihat Pasal 263 ayat (3) KUHAP itu ditujukan  kepada jaksa oleh karena JPU adalah “pihak yang berkepentingan”.  Persoalannya dalam Pasal 263 ayat (3) bukan soal siapa yang “paling  berkepentingan” tetapi Pasal 263 ayat (3) itu pada dirinya memang  ditujukan untuk jaksa. Dalam perkara pidana hanya ada dua pihak yang  berhadap-hadapan di depan hakim, Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa.  Terdakwa yang dinyatakan bersalah dan ada pemidanaan adalah Terpidana.  Dengan dinyatakan “paling berkepentingan” seolah-olah ada pihak lain  yang berkepentingan dengan kondisi yang disebutkan dalam Pasal 263 ayat  (3) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagipula, secara logis, jika KUHAP hanya mengatur PK oleh Terpidana  atau ahli warisnya, untuk apa lagi dibuat ketentuan Pasal 263 ayat (3).  Pasal 263 ayat (1) sudah cukup untuk menampung keperluan terpidana atau  ahli warisnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian adalah merupakan kesalahan membaca undang-undang jika  ada yang menyatakan bahwa KUHAP tidak mengatur mengenai hak atau  wewenang dari jaksa untuk mengajukan PK. Sebagaimana sudah saya tuliskan  di atas, KUHAP memang memberikan Hak bagi jaksa untuk mengajukan PK,  sekalipun tidak secara nyata disebutkan kata “jaksa penuntut umum”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;3. Putusan Bebas dan Putusan Lepas dari Segala Tuntutan Hukum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pasal 263 ayat (1) kedua istilah hukum tersebut muncul dalam  rumusan “…..,, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan  hukum,…..”. Dalam Pasal 263 ayat (3) kedua istilah hukum itu tidak  muncul. Kata-kata yang muncul adalah “……………………apabila dalam putusan itu  suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti akan tetapi  tidak diikuti oleh suatu pemidanaan”. Apakah Putusan bebas dan putusan  lepas dari segala tuntutan hukum termasuk dalam apa yang disebut dalam  Pasal 263 ayat (3) “…..tidak diikuti oleh suatu pemidanaan”?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kedua macam putusan, yaitu putusan bebas dan putusan lepas dari  segala tuntutan hukum tidak ada pemidanaan. Dengan demikian jika dalam  putusan bebas hakim menyatakan suatu perbuatan yang didakwakan terbukti  maka putusan semacam itu dapat diajukan PK. Demikian juga halnya dalam  putusan lepas dari segala tuntutan hukum, dimana perbuatan yang  didakwakan dinyatakan terbukti tetapi ada alasan-alasan  tertentu yang  membuat hakim tidak menjatuhkan pidana, maka jaksa dapat mengajukan PK.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurut KUHAP tidak hanya  terpidana atau ahli warisnya yang dapat mengajukan peninjauan kembali  tetapi juga jaksa. Tentu alasan untuk mengajukan peninjauan kembali  adalah berbeda antara apa yang diajukan oleh terpidana atau ahli  warisnya dengan yang diajukan oleh jaksa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;4. Alasan untuk mengajukan peninjauan kembali&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pasal 263 ayat (2) memuat daftar dasar yang dapat diajukan untuk  melakukan peninjauan kembali oleh terpidana atau ahli warisnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa  jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung,  hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala  tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau  terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;b. apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa  sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan  alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah  bertentangan satu dengan yang lain;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;c. apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu  kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi jaksa terdapat alasan untuk mengajukan permintaan peninjauan  kembali yaitu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 ayat (3) sebagaimana  telah disinggung di atas, yaitu apabila putusan hakim yang sudah  mempunyai kekuatan hukum tetap itu menyatakan bahwa suatu perbuatan yang  sudah didakwakan terbukti tetapi tidak diikuti dengan pemidanaan. Hal  ini tentu karena mungkin ada kekhilafan hakim, sebagaimana dimaksud  dalam Pasal 263 ayat (2) butir c.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata yang digunakan pada awal Pasal 263 ayat (3) seolah-olah  menunjukkan bahwa semua alasan yang disebutkan dalam Pasal 263 ayat (2)  akan berlaku bagi PK oleh Jaksa. Namun demikian, alasan-alasan  sebagaimana disebutkan dalam Pasal 263 ayat (2) butir a dan b tidak  berlaku bagi jaksa. Hanya butir c dari Pasal 263 ayat (2) yang berlaku  bagi jaksa untuk mengajukan PK sesuai Pasal 263 ayat (3).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Negara v Pollycarpus misalnya, jaksa mengajukan novum. Jaksa  membolakbalik ketentuan dalam Pasal 263 ayat (2) butir a. Malangnya, MA  dalam PK malah menerima novum yang diajukan oleh jaksa tersebut. Dalam  Negara v Pollycarpus, Majelis PK MA menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesuai dengan ketentuan Pasal 263 ayat (2) huruf a KUHAP, salah satu  alasan diajukannya peninjauan kembali adalah apabila terdapat keadaan  baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah  diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, maka hasilnya akan  menjadi putusan menjadi berbeda”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal 263 ayat (2) butir a yang mengatur mengenai dasar mengajukan PK  adalah untuk Terpidana dan bukan untuk Jaksa. MA mengubah Pasal 263  ayat (2) butir a KUHAP ketika menyatakan “….., maka hasilnya akan  menjadi putusan menjadi berbeda”. Ini merupakan penyimpangan yang nyata  yang dilakukan oleh MA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini tentu aneh mengingat ketentuan dalam Pasal 263 ayat (3) secara  jelas membatasi hanya terhadap putusan yang mempunyai kekuatan hukum  tetap yang didalamnya dinyatakan perbuatan yang didakwakan terbukti  tetapi tidak diikuti pemidanaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika dibaca sesuai Pasal 263 ayat (3) maka jaksa dapat mengajukan PK  terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap yang  tidak berupa pemidanaan karena dalam putusan dinyatakan bahwa perbuatan  yang didakwakan sudah terbukti tetapi tidak diikuti dengan pemidanaan  yang dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim atau suatu  kekeliruan yang nyata dari hakim. Jadi jaksa tidak dapat mengajukan PK  kalau dalam putusan bebas hakim menyatakan bahwa perbuatan yang  didakwakan tidak terbukti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;5. Pembatasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan uraian-uraian di atas maka hak jaksa untuk mengajukan PK  sangat terbatas, yaitu hanya terhadap putusan yang dalam pertimbangannya  hakim menyatakan perbuatan yang didakwakan terbukti tetapi tidak  diikuti oleh suatu pemidanaan. Jaksa tidak dapat mengajukan PK kalau:&lt;br /&gt;1. Putusan-putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap itu  ternyata ada pemidanaan.&lt;br /&gt;2. dalam putusan bebas hakim menyatakan bahwa perbuatan yang didakwakan  tidak terbukti;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengajuan PK oleh Jaksa selama ini tentulah melanggar KUHAP. Maka  putusan PK MA dalam Negara v Muchtar Pakpahan, dan Negara v Pollycarpus  dan lain-lain merupakan kecelakaan atau bahkan dosa-dosa hukum MA  terhadap korban-korban PK jaksa dalam kasaus-kasus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;6. Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan uraian-uraian yang disebutkan di atas maka sebagai  kesimpulan penutup adalah bahwa menurut KUHAP, jaksa berhak atau dapat  mengajukan PK tetapi hanya terbatas pada putusan-putusan yang telah  berkekuatan hukum tetap yang dalam pertimbangan hukumnya dinyatakan  perbuatan yang didakwakan terbukti tetapi tidak diikuti dengan suatu  pemidanaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu perlu dilakukan koreksi terhadap praktek hukum yang  ada dan melakukan perbaikan-perbaikan dimana perlu di kalangan hakim,  jaksa, dan advokat untuk mengatasi kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan  dalam proses hukum semenjak munculnya kasus PK oleh jaksa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; MA, Jaksa Agung, dan PERADI, sebagai organisasi yang didirikan dan  berfungsi mengemban amanat UU Advokat, harus bersama-sama mencari sarana  hukum yang mungkin untuk membebaskan mereka yang kemudian dipidana  setelah sebelumnya menurut putusan pengadilan yang sudah mempunyai  kekuatan hukum yang tetap tidak dipidana. Disarankan juga agar Presiden,  selaku Kepala Negara, meminta maaf kepada para korban PK jaksa dan  seluruh rakyat Indonesia atas kesalahan yang dilakukan oleh Mahkamah  Agung dan jaksa-jaksa penuntut umum dalam perkara-perkara PK yang  diajukan oleh jaksa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-843587622383047234?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/843587622383047234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/hak-jaksa-mengajukan-peninjauan-kembali.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/843587622383047234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/843587622383047234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/hak-jaksa-mengajukan-peninjauan-kembali.html' title='Hak Jaksa Mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dan Batasannya'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-1477951031828219352</id><published>2010-01-28T07:29:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T07:29:46.422-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RUU'/><title type='text'>RANCANGAN UNDANG -UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ……. TAHUN …….. TENTANG KEISTIMEWAAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;RANCANGAN&lt;br /&gt;UNDANG -UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR ……. TAHUN ……..&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;KEISTIMEWAAN PROVINSI&lt;br /&gt;DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;Menimbang : a.&lt;br /&gt;bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang&lt;br /&gt;bercita-cita dan bertujuan membangun masyarakat&lt;br /&gt;Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera&lt;br /&gt;berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar&lt;br /&gt;1945 yang berlandaskan pada falsafah Bhinneka&lt;br /&gt;Tunggal Ika yang mengakui keragaman dan keunikan&lt;br /&gt;dari masing-masing daerah dalam satu-kesatuan&lt;br /&gt;yang berperikeadilan;&lt;br /&gt;b. bahwa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan&lt;br /&gt;Kadipaten Pakualaman telah mempunyai wilayah,&lt;br /&gt;pemerintahan, dan penduduk sebelum lahirnya&lt;br /&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17&lt;br /&gt;Agustus 1945 telah berperan dan memberikan&lt;br /&gt;sumbangsih yang besar dalam mempertahankan,&lt;br /&gt;mengisi, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan&lt;br /&gt;Republik Indonesia;&lt;br /&gt;c. bahwa dengan ditetapkannya Maklumat Sri Paduka&lt;br /&gt;Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku&lt;br /&gt;Alam VIII pada tanggal 5 September 1945, yang&lt;br /&gt;kemudian dikukuhkan dengan Piagam Kedudukan&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia pada tanggal 6&lt;br /&gt;September 1945, Sri Paduka Sultan Hamengku&lt;br /&gt;Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII&lt;br /&gt;menetapkan wilayah, penduduk, dan&lt;br /&gt;pemerintahannya menjadi bagian dari wilayah,&lt;br /&gt;penduduk, dan pemerintahan Negara Kesatuan&lt;br /&gt;Republik Indonesia sebagai Daerah Istimewa;&lt;br /&gt;d. bahwa rakyat Yogyakarta yang dalam perjalanan&lt;br /&gt;sejarah perjuangan Bangsa Indonesia telah&lt;br /&gt;membuktikan diri sebagai rakyat yang memiliki&lt;br /&gt;kehendak untuk menjadi sebuah bangsa dan&lt;br /&gt;kekuatan sejarah perjuangan bangsa, tetap&lt;br /&gt;menghendaki Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;bersifat istimewa untuk mencapai kesejahteraan&lt;br /&gt;rakyat;&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;e. bahwa kedudukan dan keberadaaan Provinsi Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa tetap&lt;br /&gt;diakui dan dihormati secara hukum berdasarkan&lt;br /&gt;Pasal 18B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;f. bahwa pengaturan tentang Keistimewaan Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Undang-&lt;br /&gt;Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana telah&lt;br /&gt;diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9&lt;br /&gt;Tahun 1955 perlu disesuaikan dengan kondisi sosial,&lt;br /&gt;politik, ekonomi, dan kebudayaan saat ini di Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta serta untuk&lt;br /&gt;mengakomodasi perkembangan di masa yang akan&lt;br /&gt;datang;&lt;br /&gt;g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf f perlu&lt;br /&gt;membentuk Undang-Undang tentang Keistimewaan&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;&lt;br /&gt;Mengingat : 1.&lt;br /&gt;Pasal 1 ayat (2), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A&lt;br /&gt;ayat (1) dan Pasal 18B ayat (1), dan Pasal 20 Undang-&lt;br /&gt;Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang&lt;br /&gt;Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-&lt;br /&gt;Undang Nomor 9 Tahun 1955 (Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 1955 Nomor 43, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Nomor 827);&lt;br /&gt;3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1959 tentang&lt;br /&gt;Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 17 Tahun&lt;br /&gt;1955 Tentang Perpanjangan Jangka Waktu&lt;br /&gt;Berlakunya Peraturan-Peraturan Daerah Yang&lt;br /&gt;Dimaksud Dalam Pasal 6 Undang-Undang&lt;br /&gt;Pembentukan Daerah-Daerah Otonom di Jawa&lt;br /&gt;(Lembaran-Negara Tahun 1955 Nomor 53) sebagai&lt;br /&gt;Undang-Undang (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Nomor 1819);&lt;br /&gt;4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang&lt;br /&gt;Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran&lt;br /&gt;Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran&lt;br /&gt;Negara Nomor 2043);&lt;br /&gt;5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang&lt;br /&gt;Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyaratan&lt;br /&gt;Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan&lt;br /&gt;Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003&lt;br /&gt;Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4310);&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang&lt;br /&gt;Keuangan Negara, (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);&lt;br /&gt;7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang&lt;br /&gt;Perbendaharaan Negara, (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia Nomor 4355);&lt;br /&gt;8. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang&lt;br /&gt;Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab&lt;br /&gt;Keuangan Negara, (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);&lt;br /&gt;9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)&lt;br /&gt;sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang&lt;br /&gt;Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3&lt;br /&gt;Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang&lt;br /&gt;Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Nomor 4548); sebagaimana telah&lt;br /&gt;diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun&lt;br /&gt;2008 tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang&lt;br /&gt;Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008&lt;br /&gt;Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Nomor 4844);&lt;br /&gt;10. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang&lt;br /&gt;Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004&lt;br /&gt;Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Nomor 4438);&lt;br /&gt;11. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang&lt;br /&gt;Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721);&lt;br /&gt;12. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang&lt;br /&gt;Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KEISTIMEWAAN&lt;br /&gt;PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan&lt;br /&gt;Pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;1945.&lt;br /&gt;2. Keistimewaan adalah kedudukan hukum yang dimiliki oleh&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan sejarah dan hak&lt;br /&gt;asal-usul menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 1945 untuk mengatur dan mengurus&lt;br /&gt;kewenangan istimewa.&lt;br /&gt;3. Kewenangan Istimewa adalah wewenang tambahan tertentu yang&lt;br /&gt;dimiliki Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selain wewenang&lt;br /&gt;sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang tentang&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;4. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, selanjutnya disebut&lt;br /&gt;Kesultanan, adalah warisan budaya bangsa yang ditetapkan&lt;br /&gt;sebagai Badan Hukum Kebudayaan, yang dipimpin oleh Sri Sultan&lt;br /&gt;Hamengku Buwono.&lt;br /&gt;5. Kadipaten Pakualaman, selanjutnya disebut Pakualaman, adalah&lt;br /&gt;warisan budaya bangsa yang ditetapkan sebagai Badan Hukum&lt;br /&gt;Kebudayaan yang dipimpin oleh Adipati Paku Alam.&lt;br /&gt;6. Kebudayaan adalah nilai-nilai, norma, adat istiadat, benda, seni&lt;br /&gt;dan tradisi luhur yang mengakar dalam Masyarakat Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;7. Pemerintahan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah&lt;br /&gt;penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dewan Perwakilan Rakyat&lt;br /&gt;Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Parardhya&lt;br /&gt;Keistimewaan Yogyakarta menurut asas otonomi, tugas&lt;br /&gt;pembantuan dan keistimewaan.&lt;br /&gt;8. Parardhya Keistimewaan Yogyakarta, selanjutnya disebut&lt;br /&gt;Parardhya, adalah lembaga yang terdiri dari Sri Sultan Hamengku&lt;br /&gt;Buwono dan Adipati Paku Alam sebagai satu-kesatuan yang&lt;br /&gt;mempunyai fungsi sebagai simbol, pelindung dan penjaga budaya,&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;serta pengayom dan pemersatu Masyarakat Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta.&lt;br /&gt;9. Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,&lt;br /&gt;selanjutnya disebut Pemerintah Daerah Provinsi, adalah Gubernur&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta beserta perangkat daerah&lt;br /&gt;sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.&lt;br /&gt;10. Gubernur Provinsi Daerah Istimewa, selanjutnya disebut&lt;br /&gt;Gubernur, adalah unsur penyelenggara Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkedudukan sebagai&lt;br /&gt;Kepala Daerah dan Wakil Pemerintah.&lt;br /&gt;11. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta, selanjutnya disebut DPRD Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta, adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai&lt;br /&gt;unsur penyelenggara pemerintahan daerah.&lt;br /&gt;12. Peraturan Parardhya Keistimewaan Yogyakarta, selanjutnya&lt;br /&gt;disebut Peraturan Parardhya, adalah peraturan yang dibentuk oleh&lt;br /&gt;Parardhya untuk menyelenggarakan kewenangannya berdasarkan&lt;br /&gt;Undang-Undang ini dan diundangkan dalam Lembaran Daerah.&lt;br /&gt;13. Keputusan Parardhya Keistimewaan Yogyakarta, selanjutnya&lt;br /&gt;disebut Keputusan Parardhya, adalah keputusan yang ditetapkan&lt;br /&gt;oleh Parardhya untuk menyelenggarakan kewenangannya&lt;br /&gt;berdasarkan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;14. Peraturan Daerah Istimewa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,&lt;br /&gt;selanjutnya disebut Perdais, adalah Peraturan Daerah yang&lt;br /&gt;dibentuk oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;bersama-sama dengan Gubernur dengan persetujuan Parardhya&lt;br /&gt;untuk mengatur penyelenggaraan Kewenangan Istimewa.&lt;br /&gt;15. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,&lt;br /&gt;selanjutnya disebut Perda Provinsi, adalah Peraturan Daerah&lt;br /&gt;Provinsi yang dibentuk DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;dengan persetujuan bersama Gubernur untuk mengatur&lt;br /&gt;penyelenggaraan urusan provinsi sebagaimana diatur dalam&lt;br /&gt;Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;16. Dana Keistimewaan adalah jenis penerimaan Provinsi Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta yang diperoleh dari alokasi Anggaran&lt;br /&gt;Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;ASAS DAN TUJUAN&lt;br /&gt;KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA&lt;br /&gt;Bagian Pertama&lt;br /&gt;Asas&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta disusun&lt;br /&gt;berdasarkan asas demokrasi, kerakyatan, ke-bhinneka-tunggal-ika-an,&lt;br /&gt;efektivitas pemerintahan, kepentingan nasional, dan pendayagunaan&lt;br /&gt;kearifan lokal.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;(1) Pengaturan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;bertujuan untuk:&lt;br /&gt;a. mewujudkan tata pemerintahan yang demokratis;&lt;br /&gt;b. mewujudkan kesejahteraan dan ketentraman masyarakat;&lt;br /&gt;c. mewujudkan tata pemerintahan dan tatanan sosial yang&lt;br /&gt;menjamin ke-bhinneka-tunggal-ika-an dalam kerangka Negara&lt;br /&gt;Kesatuan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;d. menciptakan tata pemerintahan yang baik; dan&lt;br /&gt;e. melembagakan peran dan tanggung jawab Kesultanan dan&lt;br /&gt;Pakualaman dalam menjaga dan mengembangkan budaya&lt;br /&gt;Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa.&lt;br /&gt;(2) Tata pemerintahan yang demokratis sebagaimana dimaksud pada&lt;br /&gt;ayat (1) huruf a, diwujudkan melalui:&lt;br /&gt;a. pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung;&lt;br /&gt;b. pengisian anggota DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;melalui Pemilihan Umum;&lt;br /&gt;c. pemisahan kekuasaan antara lembaga penyelenggara politik dan&lt;br /&gt;pemerintahan dengan Kesultanan dan Pakualaman;&lt;br /&gt;d. mekanisme checks and balances antara Pemerintah Daerah&lt;br /&gt;Provinsi dan DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; dan&lt;br /&gt;e. membuka ruang partisipasi dan kontrol warga masyarakat&lt;br /&gt;terhadap penyelenggaraan pemerintahan dengan memanfaatkan&lt;br /&gt;media kultural.&lt;br /&gt;(3) Perwujudan kesejahteraan dan ketentraman masyarakat&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, diwujudkan melalui&lt;br /&gt;kebijakan-kebijakan yang berorientasi kepada kepentingan publik&lt;br /&gt;dan pengembangan kemampuan masyarakat.&lt;br /&gt;(4) Tata pemerintahan dan tatanan sosial yang menjamin ke-bhinnekatunggal-&lt;br /&gt;ika-an dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, diwujudkan melalui:&lt;br /&gt;a. pengayoman dan pembimbingan masyarakat oleh Pemerintahan&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; dan&lt;br /&gt;b. pemeliharaan dan pendayagunaan nilai-nilai musyawarah,&lt;br /&gt;gotong royong, solidaritas, tenggang rasa, toleransi dan nirkekerasan&lt;br /&gt;oleh Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta dan seluruh Masyarakat Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta.&lt;br /&gt;(5) Tata pemerintahan yang baik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;huruf d, diwujudkan melalui pelaksanaan prinsip-prinsip efektifitas,&lt;br /&gt;transparansi, akuntabilitas, partisipasi, kesetaraan, dan penegakan&lt;br /&gt;hukum.&lt;br /&gt;(6) Pelembagaan peran dan tanggung jawab Kesultanan dan&lt;br /&gt;Pakualaman dalam menjaga dan mengembangkan budaya&lt;br /&gt;Yogyakarta yang merupakan warisan budaya bangsa sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) huruf e, diwujudkan melalui pemeliharaan,&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;pendayagunaan, pengembangan dan revitalisasi nilai-nilai, norma,&lt;br /&gt;adat istiadat, serta tradisi luhur yang mengakar dalam Masyarakat&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KEWENANGAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berada di tingkat&lt;br /&gt;Provinsi.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;(1) Kewenangan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah&lt;br /&gt;otonom mencakup kewenangan dalam urusan-urusan pemerintahan&lt;br /&gt;Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah dan urusan-urusan istimewa yang ditetapkan&lt;br /&gt;Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;(2) Kewenangan dalam urusan istimewa sebagaimana dimaksud pada&lt;br /&gt;ayat (1) mencakup:&lt;br /&gt;a. Pengusulan pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur;&lt;br /&gt;b. penetapan kelembagaan Pemerintah Daerah Provinsi;&lt;br /&gt;c. bidang kebudayaan; dan&lt;br /&gt;d. bidang pertanahan dan penataan ruang.&lt;br /&gt;(3) Penyelenggaraan kewenangan dalam urusan-urusan istimewa&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada nilai-nilai&lt;br /&gt;kearifan lokal dan keberpihakan kepada rakyat.&lt;br /&gt;(4) Pengaturan lebih lanjut kewenangan dalam urusan-urusan istimewa&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan&lt;br /&gt;Perdais.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;pengusulan pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf a, dilaksanakan&lt;br /&gt;untuk menjamin terwujudnya kepemimpinan demokratik yang berbasis&lt;br /&gt;pada kearifan lokal.&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;(1) Kewenangan penetapan kelembagaan Pemerintah Daerah Provinsi&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) huruf b,&lt;br /&gt;diselenggarakan untuk mencapai efektifitas dan efisiensi&lt;br /&gt;penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik berdasarkan&lt;br /&gt;prinsip-prinsip responsifitas, akuntabiltas, transparansi, dan&lt;br /&gt;partisipasi dengan memperhatikan bentuk dan susunan&lt;br /&gt;pemerintahan asli.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;(2) Pengaturan lebih lanjut tentang penetapan kelembagaan Pemerintah&lt;br /&gt;Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam&lt;br /&gt;Perdais.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;(1) Kewenangan di bidang kebudayaan sebagaimana dimaksud dalam&lt;br /&gt;Pasal 5 ayat (2) huruf c, diselenggarakan untuk menjamin&lt;br /&gt;terpeliharanya tatanan sosial yang berdasar pada nilai-nilai&lt;br /&gt;musyawarah, gotong royong, solidaritas, tenggang rasa, toleransi&lt;br /&gt;dan nir-kekerasan.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kewenangan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perdais.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;(1) Dalam rangka penyelenggaraan kewenangan di bidang pertanahan&lt;br /&gt;dan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2)&lt;br /&gt;huruf d, Kesultanan dan Pakualaman ditetapkan sebagai Badan&lt;br /&gt;Hukum Kebudayaan.&lt;br /&gt;(2) Sebagai Badan Hukum Kebudayaan, Kesultanan mempunyai hak&lt;br /&gt;milik atas Sultanaat Grond.&lt;br /&gt;(3) Sebagai Badan Hukum Kebudayaan, Pakualaman mempunyai hak&lt;br /&gt;milik atas Pakualamanaat Grond&lt;br /&gt;(4) Pengelolaan dan pemanfaatan Sultanaat Grond dan Pakualamanaat&lt;br /&gt;Grond sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditujukan&lt;br /&gt;untuk sebesar-besarnya kepentingan pengembangan kebudayaan,&lt;br /&gt;kepentingan sosial, dan kepentingan publik demi kesejahteraan&lt;br /&gt;rakyat.&lt;br /&gt;(5) Hak milik, tata guna serta pemanfaatan dan pengelolaan Sultanaat&lt;br /&gt;Grond dan Pakualamanaat Grond diatur dalam Perdais sesuai&lt;br /&gt;dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Kewenangan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai&lt;br /&gt;wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang&lt;br /&gt;pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN&lt;br /&gt;Bagian Pertama&lt;br /&gt;Umum&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;(1) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki bentuk dan&lt;br /&gt;susunan pemerintahan yang bersifat istimewa.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;(2) Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas&lt;br /&gt;Parardhya, Pemerintah Daerah Provinsi, dan DPRD Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Parardhya&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;(1) Parardhya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono dari Kesultanan&lt;br /&gt;Ngayogyakarta Hadiningrat dan Adipati Paku Alam dari Kadipaten&lt;br /&gt;Pakualaman yang bertahta secara sah.&lt;br /&gt;(2) Parardhya merupakan satu-kesatuan lembaga yang berfungsi&lt;br /&gt;sebagai simbol, pelindung dan penjaga budaya, serta pengayom&lt;br /&gt;dan pemersatu Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal Sri Sultan Hamengku Buwono dan/atau Adipati Paku&lt;br /&gt;Alam sebagai Parardhya belum/tidak cakap melakukan perbuatan&lt;br /&gt;hukum, dan/atau tidak mampu menjalankan fungsinya, Sri&lt;br /&gt;Sultan Hamengku Buwono dan/atau Adipati Paku Alam&lt;br /&gt;didampingi oleh wali yang ditunjuk sesuai dengan tata cara yang&lt;br /&gt;berlaku di Kesultanan dan/atau di Pakualaman.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Parardhya berwenang:&lt;br /&gt;a. Memberikan arahan umum kebijakan dalam penetapan&lt;br /&gt;kelembagaan Pemerintah Daerah Provinsi, kebudayaan, serta&lt;br /&gt;pertanahan dan penataan ruang;&lt;br /&gt;b. Memberikan persetujuan terhadap rancangan Perdais yang telah&lt;br /&gt;disetujui bersama oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;dan Gubernur;&lt;br /&gt;c. Memberikan rekomendasi untuk penindakan Gubernur dan/atau&lt;br /&gt;Wakil Gubernur yang melakukan penyimpangan;&lt;br /&gt;d. Memberikan persetujuan terhadap rencana pinjaman daerah&lt;br /&gt;sebelum diajukan ke Pemerintah sebagaimana diatur dalam&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;e. Memberikan persetujuan dalam hal Pemerintah Daerah Provinsi&lt;br /&gt;bermaksud menerbitkan obligasi daerah; dan&lt;br /&gt;f. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap rencana perjanjian&lt;br /&gt;kerjasama yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Provinsi dengan&lt;br /&gt;pihak ketiga yang membebani masyarakat.&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;(1) Arah umum kebijakan Parardhya sebagaimana dimaksudkan dalam&lt;br /&gt;Pasal 13 huruf a, dirumuskan dengan memperhatikan aspirasi&lt;br /&gt;masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan kearifan lokal.&lt;br /&gt;(2) Arah umum kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;ditetapkan dengan Peraturan Parardhya tentang Arah Umum&lt;br /&gt;Kebijakan Parardhya.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b, huruf d,&lt;br /&gt;dan huruf e ditetapkan dengan Keputusan Parardhya.&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;(1) Persetujuan atas rencana pinjaman daerah sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam Pasal 13 huruf d ditetapkan dengan Keputusan Parardhya&lt;br /&gt;paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah diajukan oleh Gubernur.&lt;br /&gt;(2) Saran dan pertimbangan terhadap rencana perjanjian kerjasama&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf f ditetapkan dengan&lt;br /&gt;Keputusan Parardhya.&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;(1) Parardhya berhak:&lt;br /&gt;a. menyampaikan usul dan/atau pendapat kepada Pemerintah&lt;br /&gt;dalam rangka penyelenggaraan Kewenangan Istimewa;&lt;br /&gt;b. mendapatkan seluruh informasi mengenai kebijakan dan/atau&lt;br /&gt;informasi yang diperlukan untuk perumusan kebijakan;&lt;br /&gt;c. mengusulkan perubahan dan/atau penggantian Perdais;&lt;br /&gt;d. mengusulkan pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil&lt;br /&gt;Gubernur setelah diputuskan oleh badan peradilan yang telah&lt;br /&gt;mempunyai kekuatan hukum tetap karena terbukti melanggar&lt;br /&gt;sumpah/janji jabatan, tidak melaksanakan kewajibannya, tidak&lt;br /&gt;lagi memenuhi syarat, dan/atau melanggar larangan sebagai&lt;br /&gt;Gubernur dan/atau Wakil Gubernur; dan&lt;br /&gt;e. memperoleh pelayanan dan dukungan administrasi.&lt;br /&gt;(2) Dalam kedudukannya sebagai Parardhya, Sri Sultan Hamengku&lt;br /&gt;Buwono dan Adipati Paku Alam memiliki hak:&lt;br /&gt;a. mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah Daerah Provinsi dan&lt;br /&gt;DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di bidang&lt;br /&gt;kelembagaan Pemerintah Daerah Provinsi, kebudayaan serta&lt;br /&gt;pertanahan dan penataan ruang;&lt;br /&gt;b. mengajukan pertanyaan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota&lt;br /&gt;dan DPRD Kabupaten/Kota di bidang kebudayaan serta&lt;br /&gt;pertanahan dan penataan ruang;&lt;br /&gt;c. imunitas;&lt;br /&gt;d. protokoler setingkat Menteri; dan&lt;br /&gt;e. keuangan.&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;(1) Parardhya berkewajiban:&lt;br /&gt;a. mengamalkan Pancasila dan melaksanakan Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta menaati&lt;br /&gt;segala peraturan perundang-undangan;&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;b. menjamin kesinambungan sejarah Yogyakarta dalam&lt;br /&gt;mempertahankan integrasi bangsa;&lt;br /&gt;c. mengayomi dan melindungi kebhinnekaan Masyarakat Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta;&lt;br /&gt;d. memperhatikan, menyalurkan, dan/atau menindaklanjuti&lt;br /&gt;aspirasi, pengaduan masyarakat yang menyangkut hak-hak&lt;br /&gt;warga negara yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta;&lt;br /&gt;e. menjaga, melindungi, dan mengembangkan strategi untuk&lt;br /&gt;revitalisasi kebudayaan;&lt;br /&gt;f. merumuskan arah umum dalam penetapan kelembagaan&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah Provinsi, dan kebijakan-kebijakan yang&lt;br /&gt;terkait dengan Kewenangan Istimewa; dan&lt;br /&gt;g. menjamin ketersediaan sumber daya manusia yang cakap dalam&lt;br /&gt;lingkungan Kesultanan dan Pakualaman yang mampu&lt;br /&gt;menjalankan fungsi-fungsi publik serta melestarikan dan&lt;br /&gt;mengembangkan budaya.&lt;br /&gt;(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dilakukan&lt;br /&gt;paling sedikit sekali dalam 5 (lima) tahun dan disampaikan dalam&lt;br /&gt;pembukaan masa sidang DPRD Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta atau forum lain yang dimaksudkan untuk itu.&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Parardhya dilarang:&lt;br /&gt;a. menjadi pengurus dan anggota partai politik;&lt;br /&gt;b. melakukan kegiatan bisnis yang terkait dengan kewenangannya;&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;c. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan&lt;br /&gt;bagi diri, anggota keluarga, kroni, atau golongan tertentu.&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;(1) Parardhya membentuk Sekretariat Parardhya.&lt;br /&gt;(2) Sekretariat Parardhya adalah perangkat daerah yang dipimpin oleh&lt;br /&gt;seorang Sekretaris yang kedudukannya setara dengan Eselon II A.&lt;br /&gt;(3) Kebutuhan belanja operasional Sekretariat Parardhya dibiayai oleh&lt;br /&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta.&lt;br /&gt;(4) Sekretaris Parardhya adalah pegawai negeri sipil yang dipilih oleh&lt;br /&gt;Parardhya dari 3 (tiga) orang calon yang diajukan oleh Gubernur.&lt;br /&gt;(5) Sekretaris Parardhya diangkat dan diberhentikan dengan Keputusan&lt;br /&gt;Gubernur atas persetujuan Parardhya.&lt;br /&gt;(6) Sekretaris Parardhya mempertanggungjawabkan penggunaan&lt;br /&gt;anggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(7) Tata cara pembentukan, penyebutan, dan pengisian jabatan dalam&lt;br /&gt;Sekretariat Parardhya diatur dalam Perdais.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah Provinsi&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;(1) Pemerintah Daerah Provinsi dipimpin oleh Gubernur dan dibantu&lt;br /&gt;seorang Wakil Gubernur.&lt;br /&gt;(2) Gubernur atau Wakil Gubernur mempunyai tugas dan wewenang&lt;br /&gt;sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dilaksanakan sesuai&lt;br /&gt;dengan tata cara sebagaimana ditentukan dalam peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;(1) Pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur dilaksanakan&lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Selain pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Parardhya dapat&lt;br /&gt;mengusulkan pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur&lt;br /&gt;sebagaimana diatur dalam Pasal 17 huruf d.&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Gubernur wajib:&lt;br /&gt;a. melaksanakan kewajiban sebagaimana diatur dalam Undang-&lt;br /&gt;Undang tentang Pemerintahan Daerah;&lt;br /&gt;b. mengikuti arah umum kebijakan yang ditetapkan oleh Parardhya;&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;c. melakukan konsultasi dengan Parardhya untuk urusan-urusan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;(1) DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai kedudukan,&lt;br /&gt;susunan, tugas, serta wewenang sebagaimana ditentukan dalam&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Selain mempunyai tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (1), DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;mempunyai tugas dan wewenang bersama-sama dengan Gubernur&lt;br /&gt;untuk membentuk Perdais.&lt;br /&gt;(3) Pelaksanaan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;br /&gt;(1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan peraturan perundangundangan.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta wajib:&lt;br /&gt;a. melaksanakan kewajiban sebagaimana diatur dalam Undang-&lt;br /&gt;Undang tentang Pemerintahan Daerah;&lt;br /&gt;b. mengikuti arah umum kebijakan yang ditetapkan oleh Parardhya;&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;c. melakukan konsultasi dengan Parardhya untuk urusan-urusan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PERATURAN PARARDHYA, PERDAIS, PERDA PROVINSI, DAN&lt;br /&gt;PERATURAN GUBERNUR&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;(1) Peraturan Parardhya ditetapkan oleh Parardhya.&lt;br /&gt;(2) Peraturan Parardhya diundangkan dalam Lembaran Daerah.&lt;br /&gt;(3) Peraturan Parardhya yang nyata-nyata menimbulkan kerugian&lt;br /&gt;publik dan/atau bertentangan dengan kepentingan umum&lt;br /&gt;dibatalkan oleh Presiden.&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;(1) Rancangan Perdais dapat diusulkan oleh DPRD Provinsi Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta atau Gubernur berdasarkan Arah Umum&lt;br /&gt;Kebijakan yang ditetapkan oleh Parardhya.&lt;br /&gt;(2) Apabila dalam suatu masa sidang, DPRD Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta dan Gubernur menyampaikan rancangan Perdais&lt;br /&gt;mengenai materi yang sama maka yang dibahas adalah rancangan&lt;br /&gt;Perdais yang disampaikan oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta, sedangkan rancangan Perdais yang disampaikan&lt;br /&gt;Gubernur dipergunakan sebagai bahan persandingan.&lt;br /&gt;(3) Dalam menyiapkan dan membahas rancangan Perdais, DPRD&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur wajib&lt;br /&gt;mendayagunakan nilai-nilai, norma, adat istiadat, dan tradisi luhur&lt;br /&gt;yang mengakar dalam masyarakat dan memperhatikan masukan&lt;br /&gt;dari Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;(4) Rancangan Perdais yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur disampaikan kepada&lt;br /&gt;Parardhya dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak&lt;br /&gt;tanggal persetujuan.&lt;br /&gt;(5) Persetujuan atau penolakan Parardhya atas rancangan Perdais&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan paling lama 30&lt;br /&gt;(tiga puluh) hari sejak rancangan Perdais tersebut disetujui bersama&lt;br /&gt;oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur.&lt;br /&gt;(6) Dalam hal rancangan Perdais ditolak oleh Parardhya, DPRD Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur membahas kembali&lt;br /&gt;rancangan Perdais tersebut dengan memperhatikan alasan&lt;br /&gt;penolakan Parardhya.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;(7) Dalam hal rancangan Perdais disetujui oleh Parardhya, rancangan&lt;br /&gt;Perdais disahkan oleh Gubernur untuk selanjutnya diundangkan&lt;br /&gt;dalam Lembaran Daerah.&lt;br /&gt;(8) Dalam hal rancangan Perdais yang telah disetujui bersama antara&lt;br /&gt;DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur tidak&lt;br /&gt;diberikan persetujuan atau penolakan oleh Pengangeng dalam batas&lt;br /&gt;waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5), rancangan Perdais&lt;br /&gt;tersebut sah menjadi Perdais dan wajib diundangkan dalam&lt;br /&gt;Lembaran Daerah.&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;(1) Perda Provinsi dibentuk dan ditetapkan dengan persetujuan&lt;br /&gt;bersama DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur&lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Perdais dibentuk oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;dan Gubernur dengan persetujuan Parardhya untuk melaksanakan&lt;br /&gt;kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;(1) Pelaksanaan Perda Provinsi atau Perdais diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Gubernur.&lt;br /&gt;(2) Peraturan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak&lt;br /&gt;boleh bertentangan dengan kepentingan umum, nilai-nilai luhur,&lt;br /&gt;budaya, dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;(1) Perda Provinsi, Perdais, dan Peraturan Gubernur diundangkan&lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Perda Provinsi, Perdais, dan Peraturan Gubernur sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) wajib disebarluaskan oleh Pemerintah&lt;br /&gt;Daerah Provinsi.&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;KEUANGAN&lt;br /&gt;Bagian Pertama&lt;br /&gt;Umum&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;(1) Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta yang mencakup kewenangan sebagaimana diatur dalam&lt;br /&gt;Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah dan Kewenangan&lt;br /&gt;Istimewa berdasarkan Undang-Undang ini dibebankan pada&lt;br /&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta;&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;(2) Penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan pada&lt;br /&gt;Gubernur sebagai wakil Pemerintah dalam rangka pelaksanaan&lt;br /&gt;tugas dekonsentrasi dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan&lt;br /&gt;Belanja Negara.&lt;br /&gt;(3) Penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang ditugaskan&lt;br /&gt;kepada Pemerintah Daerah Provinsi dalam rangka pelaksanaan&lt;br /&gt;tugas pembantuan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan&lt;br /&gt;Belanja Negara.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Pendapatan Daerah&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;(1) Sumber-sumber pendapatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;meliputi:&lt;br /&gt;a. pendapatan asli daerah;&lt;br /&gt;b. dana perimbangan;&lt;br /&gt;c. dana keistimewaan; dan&lt;br /&gt;d. lain-lain pendapatan daerah yang sah.&lt;br /&gt;(2) Sumber pendapatan asli daerah sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;br /&gt;(1) huruf a terdiri atas hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah,&lt;br /&gt;hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan dan&lt;br /&gt;lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sebagaimana diatur&lt;br /&gt;dalam peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b&lt;br /&gt;yang berasal dari Pemerintah meliputi Dana Alokasi Umum, Dana&lt;br /&gt;Alokasi Khusus, dan Bagi Hasil sebagaimana diatur dalam&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(4) Dana keistimewaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c&lt;br /&gt;merupakan penerimaan Pemerintah Provinsi DIY yang ditujukan&lt;br /&gt;untuk membiayai penyelenggaraan keistimewaan Provinsi DIY&lt;br /&gt;yang besarnya setara dengan 0,25 % (dua puluh lima perseratus&lt;br /&gt;persen) plafon Dana Alokasi Umum Nasional;&lt;br /&gt;(5) Penggunaan Dana Keistimewaan sebagaimana dimaksud pada&lt;br /&gt;ayat (4) dilakukan untuk setiap tahun anggaran yang diatur lebih&lt;br /&gt;lanjut dalam Perdais&lt;br /&gt;(6) Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (1) huruf d meliputi hibah, dana darurat dan lain-lain&lt;br /&gt;pendapatan yang ditetapkan pemerintah sebagaimana diatur&lt;br /&gt;dalam peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Pemerintah Daerah Provinsi dapat menerima bantuan luar negeri&lt;br /&gt;setelah mendapatkan saran dan pertimbangan Parardhya dan&lt;br /&gt;memberitahukannya kepada Pemerintah.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Belanja dan Pembiayaan&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Belanja Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencakup&lt;br /&gt;belanja untuk penyelenggaraan Kewenangan Pemerintahan Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana diatur dalam Undang-&lt;br /&gt;Undang tentang Pemerintahan Daerah dan Kewenangan Istimewa&lt;br /&gt;berdasarkan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;(1) Pemerintah Daerah Provinsi atas persetujuan bersama DPRD&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat melakukan pinjaman&lt;br /&gt;dari sumber dalam negeri dan/atau luar negeri untuk membiayai&lt;br /&gt;sebagian anggarannya setelah mendapatkan persetujuan&lt;br /&gt;Parardhya, dan yang selanjutnya disetujui oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah Daerah Provinsi atas persetujuan bersama DPRD&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat menerbitkan obligasi&lt;br /&gt;daerah untuk membiayai investasi yang menghasilkan penerimaan&lt;br /&gt;daerah setelah mendapatkan pertimbangan Parardhya.&lt;br /&gt;(3) Persetujuan terhadap pelaksanaan ketentuan sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Parardhya.&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 sampai&lt;br /&gt;dengan Pasal 35, berlaku ketentuan keuangan sesuai dengan&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;MASA PERALIHAN&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;(1) Guna menjamin pelaksanaan Keistimewaan Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta terlaksana dengan baik dan menyeluruh diperlukan&lt;br /&gt;masa peralihan.&lt;br /&gt;(2) Masa peralihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan&lt;br /&gt;paling lama 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;(1) Pemerintah menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono dan Adipati&lt;br /&gt;Paku Alam yang sedang bertahta sebagai Pejabat Gubernur dan&lt;br /&gt;Wakil Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam masa&lt;br /&gt;peralihan.&lt;br /&gt;(2) Dalam kedudukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sri&lt;br /&gt;Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam mempunyai&lt;br /&gt;tugas untuk mempersiapkan peralihan pelaksanaan kewenangan&lt;br /&gt;Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana&lt;br /&gt;ditentukan dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;(1) Sri Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam masingmasing&lt;br /&gt;dalam kedudukannya sebagai Sultan dan Adipati memiliki&lt;br /&gt;tugas:&lt;br /&gt;a. melakukan kodifikasi tata cara penggantian Sultan dan Adipati&lt;br /&gt;dalam lingkungan Kesultanan dan Pakualaman yang&lt;br /&gt;merupakan pedoman bagi proses pergantian kepemimpinan&lt;br /&gt;dalam lingkungan Kesultanan dan Pakualaman;&lt;br /&gt;b. mengumumkan kepada publik hasil kodifikasi sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada huruf a;&lt;br /&gt;c. melakukan konsolidasi dan klasifikasi Sultanaat Grond dan&lt;br /&gt;Pakualamanaat Grond;&lt;br /&gt;d. mendaftarkan hasil konsolidasi dan klasifikasi tanah&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada huruf c kepada Badan Pertanahan&lt;br /&gt;Nasional Republik Indonesia; dan&lt;br /&gt;e. melakukan konsolidasi dan inventarisasi seluruh kekayaan&lt;br /&gt;Kesultanan dan Pakualaman selain sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada huruf c yang merupakan warisan budaya bangsa.&lt;br /&gt;(2) Sri Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam dalam&lt;br /&gt;kedudukannya sebagai Pejabat Gubernur dan Wakil Gubernur&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam masa peralihan,&lt;br /&gt;mempunyai tugas:&lt;br /&gt;a. merumuskan tata hubungan antara Sultan dan Adipati dalam&lt;br /&gt;institusi Parardhya sebagai satu-kesatuan;&lt;br /&gt;b. mempersiapkan perangkat Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta untuk melaksanakan Keistimewaan Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta berdasarkan Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;c. menyiapkan Arah Umum Kebijakan penataan kelembagaan&lt;br /&gt;Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagaimana&lt;br /&gt;ditentukan dalam Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;d. menyiapkan syarat-syarat yang diperlukan sebagai pedoman&lt;br /&gt;Parardhya Keistimewaan dalam menerima atau menolak&lt;br /&gt;perorangan bakal calon atau bakal-bakal calon Gubernur dan&lt;br /&gt;Wakil Gubernur;&lt;br /&gt;e. menyiapkan kerangka umum kebijakan di bidang kebudayaan;&lt;br /&gt;f. menyiapkan kerangka umum kebijakan pengelolaan Sultanaat&lt;br /&gt;Grond dan Pakualamanaat Grond, serta penataan ruang Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta;&lt;br /&gt;g. membentuk Perda Provinsi bersama-sama dengan DPRD&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tentang tata cara&lt;br /&gt;pembentukan Perdais;&lt;br /&gt;h. menyiapkan mekanisme konsultasi antara Gubernur dan/atau&lt;br /&gt;Wakil Gubernur dengan Parardhya, serta antara DPRD Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Parardhya sebagai dasar&lt;br /&gt;bagi Gubernur dan/atau Wakil Gubernur terpilih dan DPRD&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam melaksanakan&lt;br /&gt;komunikasi dengan Parardhya;&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;i. membentuk Perdais tentang tata cara pemberian persetujuan&lt;br /&gt;atas perorangan bakal calon atau bakal-bakal calon Gubernur&lt;br /&gt;dan/atau Wakil Gubernur paling lama 2 (dua) tahun setelah&lt;br /&gt;diundangkannya Undang-Undang ini; dan&lt;br /&gt;j. menyiapkan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam&lt;br /&gt;pelaksanaan Keistimewaan sebagaimana ditentukan dalam&lt;br /&gt;Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, susunan organisasi&lt;br /&gt;Pemerintah Provinsi, Perangkat Daerah Provinsi dan Jabatan dalam&lt;br /&gt;Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan yang ada tetap berlaku sampai dengan&lt;br /&gt;terbentuknya Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;berdasarkan Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, seluruh materi peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan yang bertentangan dengan Undang-Undang ini&lt;br /&gt;dinyatakan tidak berlaku.&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan&lt;br /&gt;Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal ………&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;Ttd&lt;br /&gt;DR.H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal ……..&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAM&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;ANDI MATTALATA&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .....NOMOR ......&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;RANCANGAN&lt;br /&gt;PENJELASAN ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR … TAHUN ..&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;KEISTIMEWAAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;Status istimewa yang melekat dalam Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta merupakan bagian integral dalam sejarah pendirian&lt;br /&gt;negara-bangsa Indonesia. Pilihan sadar Sultan Hamengku Buwono IX&lt;br /&gt;dan Adipati Paku Alam VIII untuk menjadi bagian dari Republik&lt;br /&gt;Indonesia, dan bukan berdiri sendiri, serta kontribusinya untuk&lt;br /&gt;melindungi simbol negara-bangsa di masa awal kemerdekaan telah&lt;br /&gt;tercatat dalam sejarah Indonesia. Pilihan untuk menjadi bagian&lt;br /&gt;Indonesia merupakan refleksi filosofis Kesultanan, Pakualaman, dan&lt;br /&gt;masyarakat Yogyakarta secara keseluruhan yang mengagungkan kebhinneka-&lt;br /&gt;an dalam ke-ika-an sebagaimana tertuang dalam Pancasila&lt;br /&gt;dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;br /&gt;Masyarakat Yogyakarta yang relatif homogen di awal kemerdekaan&lt;br /&gt;secara sadar meleburkan diri ke dalam masyarakat Indonesia yang&lt;br /&gt;sangat majemuk, baik dari sisi etnis, agama, maupun adat istiadat.&lt;br /&gt;Pilihan ini membawa resiko masyarakat Yogyakarta menjadi bagian&lt;br /&gt;kecil dari dalam masyarakat Indonesia yang besar dan majemuk. Oleh&lt;br /&gt;karenanya, keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta harus&lt;br /&gt;memberikan fondasi bagi masyarakat multikultural sehingga mampu&lt;br /&gt;membangun keharmonisan dan kohesivitas sosial yang&lt;br /&gt;berperikeadilan.&lt;br /&gt;Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, meskipun Yogyakarta&lt;br /&gt;dapat saja menjadi negara yang merdeka, Sultan Hamengku Buwono&lt;br /&gt;IX dan Paku Alam VIII memutuskan untuk menjadi bagian istimewa&lt;br /&gt;dari Indonesia. Masing-masing tokoh ini, secara terpisah tetapi&lt;br /&gt;dengan format dan isi yang sama, mengeluarkan Maklumat&lt;br /&gt;tertanggal 5 September 1945 yang kemudian dikukuhkan dengan&lt;br /&gt;Piagam Kedudukan Presiden Republik Indonesia tanggal 6 September&lt;br /&gt;1945 menyatakan integrasi Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan&lt;br /&gt;Republik Indonesia dengan memilih status keistimewaan.&lt;br /&gt;Keputusan di atas memiliki arti sangat penting bagi Indonesia&lt;br /&gt;karena telah memberikan wilayah dan penduduk yang kongkrit bagi&lt;br /&gt;Indonesia yang baru memproklamasikan kemerdekaannya. Peran&lt;br /&gt;Yogyakarta terus berlanjut di era revolusi kemerdekaan yang&lt;br /&gt;diwujudkan melalui usaha-usaha Kesultanan dan Pakualaman serta&lt;br /&gt;rakyat Yogyakarta dalam mempertahankan, mengisi, dan menjaga&lt;br /&gt;keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Yogyakarta saat ini dan ke depan, dapat dipastikan akan terus&lt;br /&gt;mengalami perubahan sosial yang sangat dramatis. Masyarakat&lt;br /&gt;Yogyakarta kini memasuki sebuah fase baru yang ditandai oleh&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;19&lt;br /&gt;munculnya masyarakat berwajah ganda (dual faces society). Di satu&lt;br /&gt;sisi, masyarakat tersusun secara hierarkhis mengikuti pola hubungan&lt;br /&gt;patron-client di masa lalu, di sisi yang lain, memiliki corak horizontal&lt;br /&gt;yang kuat. Perkembangan di atas, sekalipun telah membawa&lt;br /&gt;perubahan mendasar, namun tidak secara otomatis menghilangkan&lt;br /&gt;posisi Kesultanan dan Pakualaman sebagai sumber rujukan budaya&lt;br /&gt;bagi mayoritas masyarakat. Kesultanan dan Pakualaman masih tetap&lt;br /&gt;ditempatkan sebagai simbol pengayom bagi kehidupan warga&lt;br /&gt;masyarakat dan tetap diharapkan sebagai ciri keistimewaan Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;Pengaturan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan sejak berdirinya Negara Kesatuan&lt;br /&gt;Republik Indonesia tetap konsisten dengan memberikan pengakuan&lt;br /&gt;keberadaan suatu daerah yang bersifat istimewa. Bahkan Pasal 18B&lt;br /&gt;ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;1945 yang dihasilkan melalui proses perubahan Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar 1945 tetap saja memberikan pengakuan eksistensi suatu&lt;br /&gt;daerah yang bersifat istimewa dalam kerangka Negara Kesatuan&lt;br /&gt;Republik Indonesia. Namun, konsistensi pengakuan atas status&lt;br /&gt;keistimewaan sebuah daerah, tidak diikuti pengaturan yang&lt;br /&gt;komprehensif dan jelas mengenai substansi keistimewaannya.&lt;br /&gt;Kewenangan yang diberikan kepada Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 sematamata&lt;br /&gt;mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yang&lt;br /&gt;menganut ajaran rumah tangga materiil yang memperlakukan sama&lt;br /&gt;semua daerah di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada masa&lt;br /&gt;berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 sampai dengan&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Hal-hal di atas telah&lt;br /&gt;memunculkan interpretasi bahwa Keistimewaan Provinsi Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta hanya pada kedudukan Gubernur dan Wakil&lt;br /&gt;Gubernur.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, diperlukan perubahan, penyesuaian dan&lt;br /&gt;penegasan terhadap substansi keistimewaan yang diberikan kepada&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun&lt;br /&gt;1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9&lt;br /&gt;Tahun 1955 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah. Dalam rangka perubahan, penyesuaian dan&lt;br /&gt;penegasan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu&lt;br /&gt;dibentuk dalam suatu Undang-Undang tentang Keistimewaan&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;Pengaturan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;bertujuan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik,&lt;br /&gt;demokratis, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat, menjamin&lt;br /&gt;ke-bhinneka-tunggal-ika-an, dan melembagakan peran dan tanggung&lt;br /&gt;jawab Kesultanan dan Pakualaman dalam menjaga dan&lt;br /&gt;mengembangkan budaya Yogyakarta yang merupakan warisan&lt;br /&gt;budaya bangsa. Pengaturan tersebut dilakukan dengan berlandaskan&lt;br /&gt;pada asas demokrasi, kerakyatan, ke-bhinneka-tunggal-ika-an,&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;efektivitas pemerintahan, kepentingan nasional, dan pendayagunaan&lt;br /&gt;kearifan lokal. Oleh karenanya, dan dengan memperhatikan aspek&lt;br /&gt;historis, sosiologis, dan yuridis substansi keistimewaan Provinsi&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta diletakkan pada level pemerintahan&lt;br /&gt;Provinsi. Kewenangan istimewa diletakkan dalam pengusulan&lt;br /&gt;pemberhentian Gubernur dan/atau Wakil Gubernur, penetapan&lt;br /&gt;kelembagaan Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta, kebijakan kebudayaan, serta kebijakan pertanahan.&lt;br /&gt;Konsekuensinya, Pemerintahan Daerah Provinsi Daerah Istimewa&lt;br /&gt;Yogyakarta mempunyai kewenangan yang meliputi kewenangan&lt;br /&gt;istimewa dan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang yang&lt;br /&gt;mengatur tentang Pemerintahan Daerah. Meskipun demikian,&lt;br /&gt;kewenangan yang telah dimiliki oleh Pemerintahan Daerah&lt;br /&gt;Kabupaten/Kota dalam Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tetap&lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensi dari penambahan kewenangan istimewa&lt;br /&gt;yang diberikan kepada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,&lt;br /&gt;diperlukan dukungan pembiayaan tambahan di luar sumber-sumber&lt;br /&gt;penerimaan pemerintah provinsi sebagaimana diatur dalam peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan. Tambahan pembiayaan ini menjadi beban dari&lt;br /&gt;Pemerintah Pusat melalui tambahan Dana Alokasi Umum dan&lt;br /&gt;kontribusi dari Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota dalam&lt;br /&gt;Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Seluruh sumber penerimaan&lt;br /&gt;tersebut masuk ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah&lt;br /&gt;(APBD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikelola secara&lt;br /&gt;efektif, efisien, responsif, akuntabel, transparan dan partisipatif&lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;21&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “media kultural” antara lain:&lt;br /&gt;“pepe”, pisowanan ageng dan sebagainya.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Nilai-nilai, norma, adat istiadat dan tradisi luhur yang mengakar&lt;br /&gt;dalam masyarakat Yogyakarta didasarkan pada filosofi :&lt;br /&gt;manunggaling kawula gusti, yaitu bersatunya rakyat dengan&lt;br /&gt;pemimpinnya; hamemayu hayuning bawono, yaitu membangun&lt;br /&gt;dengan ramah lingkungan hidup agar dunia menjadi hayu&lt;br /&gt;(indah) dan rahayu (selamat dan lestari); golong-gilig; sawiji&lt;br /&gt;greget sengguh ora mingkuh; watak kesatriya; dan lain-lain.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “Sultanaat Grond”, yang sering&lt;br /&gt;disebut Kagungan Dalem, adalah tanah yang selama ini&lt;br /&gt;diakui oleh Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;sebagai milik Kesultanan, yang meliputi tanah Keprabon&lt;br /&gt;dan bukan keprabon. Tanah keprabon adalah tanah yang&lt;br /&gt;digunakan untuk bangunan istana dan pendukungnya,&lt;br /&gt;seperti alun-alun, masjid, taman sari, pesanggrahan dan&lt;br /&gt;petilasan. Tanah bukan keprabon terdiri dari atas dua jenis&lt;br /&gt;tanah, yaitu: tanah yang digunakan penduduk/lembaga&lt;br /&gt;dengan hak (magersari, ngindung, hak pakai, hutan,&lt;br /&gt;kampus dan lain-lain), dan tanah yang digunakan&lt;br /&gt;penduduk tanpa alas hak.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “Pakualamanaat Grond”, yang&lt;br /&gt;sering disebut Kagungan Dalem, adalah tanah yang selama&lt;br /&gt;ini diakui oleh Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;sebagai Kadipaten Paku Alam, yang meliputi tanah&lt;br /&gt;keprabon dan bukan keprabon. Tanah keprabon adalah&lt;br /&gt;tanah yang digunakan untuk bangunan istana dan&lt;br /&gt;pendukungnya, seperti alun-alun, masjid, taman sari,&lt;br /&gt;pesanggrahan dan petilasan. Tanah bukan keprabon terdiri&lt;br /&gt;dari atas dua jenis tanah, yaitu: tanah yang digunakan&lt;br /&gt;penduduk/lembaga dengan hak (magersari, ngindung, hak&lt;br /&gt;pakai, hutan, kampus dan lain-lain), dan tanah yang&lt;br /&gt;digunakan penduduk tanpa alas hak.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan dengan arah umum kebijakan adalah&lt;br /&gt;arahan yang diberikan oleh Parardhya, memuat garis-garis&lt;br /&gt;besar penyelenggaraan Kewenangan Istimewa.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Usulan perubahan dan/atau penggantian Perdais&lt;br /&gt;dilakukan terhadap Perdais yang telah berlaku&lt;br /&gt;namun menimbulkan permasalahan serius dalam&lt;br /&gt;Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “melanggar sumpah/janji&lt;br /&gt;jabatan, tidak melaksanakan kewajibannya, tidak&lt;br /&gt;lagi memenuhi syarat, dan/atau melanggar larangan&lt;br /&gt;sebagai Gubernur/dan Wakil Gubernur” adalah&lt;br /&gt;melanggar sumpah/ janji jabatan, tidak&lt;br /&gt;melaksanakan kewajiban, tidak lagi memenuhi&lt;br /&gt;syarat, dan/atau melanggar larangan sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Undang-Undang tentang&lt;br /&gt;Pemerintahan Daerah.&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Huruf a&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;Huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Huruf g&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “fungsi publik” adalah fungsi&lt;br /&gt;sebagai simbol, pelindung dan penjaga budaya; dan&lt;br /&gt;pengayom dan simbol pemersatu Masyarakat Daerah&lt;br /&gt;Istimewa Yogyakarta guna menjamin&lt;br /&gt;keberlangsungan Keistimewaan Yogyakarta.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (5)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;Ayat (6)&lt;br /&gt;Penolakan rancangan Perdais oleh Parardhya harus&lt;br /&gt;disertai alasan yang mengacu pada Peraturan Parardhya&lt;br /&gt;tentang Arah Umum Kebijakan.&lt;br /&gt;Ayat (7)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (8)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;26&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR ….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7625943594810697828-1477951031828219352?l=hukumindo2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hukumindo2.blogspot.com/feeds/1477951031828219352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/rancangan-undang-undang-republik_192.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1477951031828219352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7625943594810697828/posts/default/1477951031828219352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hukumindo2.blogspot.com/2010/01/rancangan-undang-undang-republik_192.html' title='RANCANGAN UNDANG -UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ……. TAHUN …….. TENTANG KEISTIMEWAAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,'/><author><name>mandoz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06017084035287281748</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_mPUaSykhGtM/S2r9l1SHVPI/AAAAAAAAABA/cYjyu5AMMec/S220/hhh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7625943594810697828.post-1978844255023091520</id><published>2010-01-28T07:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-28T07:22:58.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPIKOR'/><title type='text'>RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;RANCANGAN&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR ... TAHUN ...&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum yang&lt;br /&gt;bertujuan mewujudkan kehidupan masyarakat, bangsa, dan&lt;br /&gt;negara yang tertib, sejahtera, dan berkeadilan dalam rangka&lt;br /&gt;mencapai tujuan negara sebagaimana diamanatkan dalam&lt;br /&gt;Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;b. bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi telah&lt;br /&gt;menimbulkan kerusakan dalam berbagai sendi kehidupan&lt;br /&gt;masyarakat, bangsa, dan negara, karena itu upaya pencegahan&lt;br /&gt;dan pemberantasan tindak pidana korupsi perlu dilakukan&lt;br /&gt;secara terus menerus dan berkesinambungan yang menuntut&lt;br /&gt;peningkatan kapasitas segala sumber daya baik kelembagaan,&lt;br /&gt;sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya, termasuk&lt;br /&gt;peningkatan penegakan hukum guna menumbuhkembangkan&lt;br /&gt;kesadaran dan sikap tindak masyarakat anti korupsi;&lt;br /&gt;c. bahwa Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang dasar&lt;br /&gt;pembentukannya ditentukan dalam Pasal 53 Undang-Undang&lt;br /&gt;Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak&lt;br /&gt;Pidana Korupsi, berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi&lt;br /&gt;dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 1945, oleh karena itu&lt;br /&gt;pengaturan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi perlu diatur&lt;br /&gt;kembali dengan undang-undang yang baru;&lt;br /&gt;d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk&lt;br /&gt;Undang-Undang tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi;&lt;br /&gt;Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 24A ayat (1) dan ayat (2),&lt;br /&gt;Pasal 25, dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara&lt;br /&gt;Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981&lt;br /&gt;Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Nomor 3209);&lt;br /&gt;3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah&lt;br /&gt;Agung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985&lt;br /&gt;Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Nomor 3316) sebagaimana telah diubah dengan Undang-&lt;br /&gt;Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Agung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004&lt;br /&gt;Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Nomor 4359);&lt;br /&gt;4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan&lt;br /&gt;Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986&lt;br /&gt;Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Nomor 3327) sebagaimana telah diubah dengan Undang-&lt;br /&gt;Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-&lt;br /&gt;Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 34,&lt;br /&gt;Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor&lt;br /&gt;4379);&lt;br /&gt;5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang&lt;br /&gt;Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3874)&lt;br /&gt;sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20&lt;br /&gt;Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor&lt;br /&gt;31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi&lt;br /&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor&lt;br /&gt;134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor&lt;br /&gt;4150);&lt;br /&gt;6. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi&lt;br /&gt;Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan&lt;br /&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4250);&lt;br /&gt;7. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan&lt;br /&gt;Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;2004 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Nomor 4358);&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGADILAN TINDAK&lt;br /&gt;PIDANA KORUPSI.&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Hakim adalah hakim karier dan hakim Ad hoc.&lt;br /&gt;2. Hakim Karier adalah hakim pada pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan&lt;br /&gt;Mahkamah Agung yang ditetapkan sebagai hakim tindak pidana korupsi.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;3. Hakim Ad hoc adalah seseorang yang diangkat berdasarkan persyaratan&lt;br /&gt;yang ditentukan dalam Undang-Undang ini sebagai hakim tindak pidana&lt;br /&gt;korupsi.&lt;br /&gt;4. Penuntut Umum adalah penuntut umum pada Kejaksaan dan pada Komisi&lt;br /&gt;Pemberantasan Korupsi yang ditetapkan sebagai penuntut umum tindak&lt;br /&gt;pidana korupsi.&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KEDUDUKAN DAN TEMPAT KEDUDUKAN&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Kedudukan&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan pengadilan khusus yang berada di&lt;br /&gt;lingkungan Peradilan Umum.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Tempat Kedudukan&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berkedudukan di setiap ibukota kabupaten/kota&lt;br /&gt;yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang&lt;br /&gt;bersangkutan.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Khusus untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi&lt;br /&gt;berkedudukan di setiap kotamadya yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum&lt;br /&gt;pengadilan negeri yang bersangkutan.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;KEWENANGAN&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan satu-satunya pengadilan yang&lt;br /&gt;berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5&lt;br /&gt;berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara:&lt;br /&gt;a. tindak pidana korupsi;&lt;br /&gt;b. tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah tindak&lt;br /&gt;pidana korupsi;&lt;br /&gt;c. tindak pidana yang secara tegas dalam undang-undang lain ditentukan&lt;br /&gt;sebagai tindak pidana korupsi.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 juga&lt;br /&gt;berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus penggabungan tuntutan ganti rugi&lt;br /&gt;akibat suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan di dalam pemeriksaan perkara&lt;br /&gt;tindak pidana korupsi.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat juga&lt;br /&gt;berwenang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 yang dilakukan oleh warga negara Indonesia&lt;br /&gt;di luar wilayah negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;SUSUNAN PENGADILAN&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Umum&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Susunan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terdiri atas:&lt;br /&gt;a. pimpinan;&lt;br /&gt;b. Hakim; dan&lt;br /&gt;c. panitera.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Pimpinan&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;(1) Pimpinan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terdiri atas seorang ketua dan&lt;br /&gt;seorang wakil ketua.&lt;br /&gt;(2) Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri karena jabatannya menjadi Ketua&lt;br /&gt;dan Wakil Ketua Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (1).&lt;br /&gt;(3) Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertanggung jawab atas&lt;br /&gt;administrasi dan pelaksanaan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.&lt;br /&gt;(4) Dalam hal tertentu ketua dapat mendelegasikan penyelenggaraan administrasi&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada wakil ketua.&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Hakim&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;(1) Dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi,&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah&lt;br /&gt;Agung terdiri atas Hakim Karier dan Hakim Ad hoc.&lt;br /&gt;(2) Hakim Karier sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan&lt;br /&gt;keputusan Ketua Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;(3) Hakim Ad hoc pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan Pengadilan&lt;br /&gt;Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat dan diberhentikan oleh&lt;br /&gt;Presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;(4) Hakim Ad hoc pada Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Komisi Yudisial.&lt;br /&gt;(5) Hakim Ad hoc sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diangkat untuk masa&lt;br /&gt;jabatan selama 4 (empat) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu)&lt;br /&gt;kali masa jabatan.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Untuk dapat ditetapkan sebagai Hakim Karier, calon harus memenuhi persyaratan&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. berpengalaman menjadi Hakim sekurang-kurangnya selama 10 (sepuluh)&lt;br /&gt;tahun;&lt;br /&gt;b. berpengalaman menangani perkara pidana;&lt;br /&gt;c. jujur, adil, cakap, dan memiliki integritas moral yang tinggi serta reputasi&lt;br /&gt;yang baik selama menjalankan tugas;&lt;br /&gt;d. tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin dan/atau terlibat dalam perkara&lt;br /&gt;pidana;&lt;br /&gt;e. memiliki sertifikasi khusus sebagai Hakim tindak pidana korupsi; dan&lt;br /&gt;f. telah melaporkan harta kekayaannya sesuai dengan ketentuan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Untuk dapat diangkat sebagai Hakim Ad hoc, calon harus memenuhi persyaratan&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. warga negara Republik Indonesia;&lt;br /&gt;b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;&lt;br /&gt;c. sehat jasmani dan rohani;&lt;br /&gt;d. berpendidikan sarjana hukum dan berpengalaman di bidang hukum sekurangkurangnya&lt;br /&gt;selama 15 (lima belas) tahun untuk Hakim Ad hoc pada&lt;br /&gt;Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan Pengadilan Tinggi, dan 20 (dua&lt;br /&gt;puluh) tahun untuk Hakim Ad hoc pada Mahkamah Agung;&lt;br /&gt;e. berumur sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun pada saat proses&lt;br /&gt;pemilihan untuk Hakim Ad hoc pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan&lt;br /&gt;Pengadilan Tinggi, dan 50 (lima puluh) tahun untuk Hakim Ad hoc pada&lt;br /&gt;Mahkamah Agung;&lt;br /&gt;f. tidak pernah dipidana karena melakukan kejahatan berdasarkan putusan&lt;br /&gt;pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;&lt;br /&gt;g. jujur, adil, cakap, dan memiliki integritas moral yang tinggi serta reputasi&lt;br /&gt;yang baik;&lt;br /&gt;h. tidak menjadi pengurus dan anggota partai politik;&lt;br /&gt;i. melaporkan harta kekayaannya; dan&lt;br /&gt;j. bersedia mengikuti pelatihan sebagai Hakim Tindak Pidana Korupsi.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;(1) Untuk memilih dan mengusulkan calon Hakim Ad hoc pada Pengadilan&lt;br /&gt;Tindak Pidana Korupsi dan Pengadilan Tinggi, Ketua Mahkamah Agung&lt;br /&gt;membentuk panitia seleksi yang terdiri dari unsur Mahkamah Agung dan&lt;br /&gt;masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya bersifat mandiri dan&lt;br /&gt;transparan.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan mengenai tata cara pemilihan untuk diusulkan sebagai Hakim Ad&lt;br /&gt;hoc sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) diatur dengan peraturan&lt;br /&gt;Komisi Yudisial.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;(1) Sebelum memangku jabatan, Hakim Ad hoc diambil sumpah atau janji&lt;br /&gt;menurut agamanya oleh:&lt;br /&gt;a. Ketua Mahkamah Agung untuk Hakim Ad hoc pada Mahkamah Agung;&lt;br /&gt;b. Ketua pengadilan tinggi untuk Hakim Ad hoc pada pengadilan tinggi;&lt;br /&gt;c. Ketua pengadilan negeri untuk Hakim Ad hoc pada Pengadilan Tindak&lt;br /&gt;Pidana Korupsi.&lt;br /&gt;(2) Sumpah atau janji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;Sumpah:&lt;br /&gt;”Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan memenuhi kewajiban Hakim&lt;br /&gt;dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan menjalankan segala&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya menurut Undang-&lt;br /&gt;Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta berbakti kepada&lt;br /&gt;nusa dan bangsa.”&lt;br /&gt;Janji:&lt;br /&gt;“Saya berjanji bahwa saya dengan sungguh-sungguh akan memenuhi&lt;br /&gt;kewajiban Hakim dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang&lt;br /&gt;teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan&lt;br /&gt;menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya&lt;br /&gt;menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,&lt;br /&gt;serta berbakti kepada nusa dan bangsa.”&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Hakim Ad hoc dilarang merangkap menjadi:&lt;br /&gt;a. pelaksana putusan pengadilan;&lt;br /&gt;b. wali, pengampu, dan pejabat yang berkaitan dengan suatu perkara yang&lt;br /&gt;diperiksa olehnya;&lt;br /&gt;c. pimpinan atau anggota lembaga negara;&lt;br /&gt;d. kepala daerah;&lt;br /&gt;e. advokat;&lt;br /&gt;f. notaris/Pejabat Pembuat Akta Tanah; atau&lt;br /&gt;g. jabatan lain yang dilarang dirangkap sesuai dengan peraturan perundangundangan.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Selain larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Hakim Ad hoc yang&lt;br /&gt;memangku jabatan struktural dan/atau fungsional harus melepaskan jabatannya.&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;Pemberhentian Hakim&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Hakim diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena:&lt;br /&gt;a. permintaan sendiri;&lt;br /&gt;b. sakit jasmani atau rohani secara terus menerus;&lt;br /&gt;c. terbukti tidak cakap dalam menjalankan tugas;&lt;br /&gt;d. telah memasuki masa pensiun, bagi Hakim Karier; atau&lt;br /&gt;e. telah selesai masa tugasnya, bagi Hakim Ad hoc.&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Hakim diberhentikan tidak dengan hormat karena:&lt;br /&gt;a. dipidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan;&lt;br /&gt;b. melakukan perbuatan tercela;&lt;br /&gt;c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya;&lt;br /&gt;d. melanggar sumpah atau janji jabatan; atau&lt;br /&gt;e. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16.&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;(1) Hakim sebelum diberhentikan tidak dengan hormat berdasarkan alasan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, diberhentikan sementara dari&lt;br /&gt;jabatannya oleh:&lt;br /&gt;a. Ketua Mahkamah Agung untuk Hakim Ad hoc pada Pengadilan Tindak&lt;br /&gt;Pidana Korupsi dan Pengadilan Tinggi;&lt;br /&gt;b. Presiden atas usul Komisi Yudisial untuk Hakim Ad hoc pada&lt;br /&gt;Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;(2) Pemberhentian sementara karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;br /&gt;19 huruf a, dilakukan apabila Hakim yang bersangkutan telah ditetapkan&lt;br /&gt;sebagai tersangka.&lt;br /&gt;(3) Pemberhentian sementara karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;br /&gt;19 huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, berlaku paling lama 6 (enam) bulan.&lt;br /&gt;(4) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah berakhir&lt;br /&gt;tanpa dilanjutkan dengan pemberhentian maka pemberhentian sementara&lt;br /&gt;harus dicabut.&lt;br /&gt;(5) Hakim yang diberhentikan sementara dilarang menangani perkara.&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Tata cara pemberhentian dengan hormat, pemberhentian tidak dengan hormat, dan&lt;br /&gt;pemberhentian sementara, serta hak-hak Hakim yang dikenakan pemberhentian&lt;br /&gt;dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Hak Keuangan dan Administratif Hakim&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;(1) Hakim mempunyai hak keuangan dan administratif.&lt;br /&gt;(2) Hak keuangan dan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diberikan tanpa membedakan kedudukan Hakim.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Presiden.&lt;br /&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;Panitera&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;(1) Pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dapat ditetapkan adanya kepaniteraan&lt;br /&gt;khusus yang dipimpin oleh seorang panitera.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan mengenai susunan kepaniteraan, persyaratan pengangkatan, dan&lt;br /&gt;pemberhentian pada jabatan kepaniteraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;berlaku sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas, tanggung jawab, susunan organisasi, dan&lt;br /&gt;tata kerja kepaniteraan khusus Pengadilan Tindak Pidana Korupsi diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;(1) Setiap orang berhak memperoleh informasi dari Pengadilan Tindak Pidana&lt;br /&gt;Korupsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menyediakan informasi yang bersifat&lt;br /&gt;terbuka dan dapat diakses oleh publik mengenai penyelenggaraan Pengadilan&lt;br /&gt;Tindak Pidana Korupsi.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak dan informasi yang bersifat terbuka&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;HUKUM ACARA&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Umum&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Pemeriksaan di sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dilakukan berdasarkan&lt;br /&gt;hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;www.legalitas.org&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;(1) Dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tindak pidana korupsi&lt;br /&gt;dilakukan dengan majelis hakim berjumlah ganjil sekurang-kurangnya 3 (tiga)&lt;br /&gt;orang hakim dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang hakim, terdiri dari Hakim&lt;br /&gt;Karier dan Hakim Ad hoc.&lt;br /&gt;(2) Dalam hal majelis hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berjumlah 5&lt;br /&gt;(lima) orang hakim, maka komposisi mejelis hakim adalah 3 (tiga) banding 2&lt;br /&gt;(dua).&lt;br /&gt;(3) Penentuan mengenai jumlah dan komposisi hakim majelis sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh masing-masing ketua&lt;br /&gt;pengadilan atau Ketua Mahkamah Agung sesuai dengan tingkatan dan&lt;br /&gt;kepentingan pemeriksaan perkara kasus perkasus.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Pemeriksaan Pendahuluan&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;(1) Setelah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menerima penyerahan berkas&lt;br /&gt;perkara, dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari Ketua Pengadilan Negeri&lt;br /&gt;menunjuk seorang Hakim untuk melakukan pemeriksaa
